Part 4 Menemui Arga

741 Kata
" Kata Joana, Papa dan Mamanya bercerai karena Papanya selingkuh. Apakah Mama dan Papa juga akan bercerai?" Tanya Alyta dengan polosnya. Hasna segera menarik Alyta ke pangkuannya. "Alyta kenapa bicara begitu?" Tanya Hasna lembut. "Tadi Alyta dengar Mama bilang kalau Papa selingkuh. Kata Joana temanku kalau Papanya selingkuh terus bercerai. Selingkuh itu apa sih Mbak?" Hasna membuang nafas lega. Ternyata Alyta tidak mengerti dengan apa yang di ucapkannya barusan. "Alyta sekarang mandi dulu ya. Abis itu kita sarapan." Hasna mengalihkan pembicaraan. Dia tak mau kalau Alyta bertanya lebih jauh lagi. "Alyta mau mandi sendiri ya Mbak. Alyta kan sudah besar. Sudah bisa bilang R." Hasna tersenyum mendengar ucapan polos Alyta. "Ya sudah, tapi kalau perlu bantuan panggil Mbak ya." Alyta mengangguk kemudian turun dari pangkuan Hasna dan segera masuk ke kamar mandi. Hasna menoleh pada majikannya, Tisha. Tisha dari tadi memalingkan wajahnya. Ia tak ingin Alyta mengetahui kalau ia telah menangis. "Bu, maaf kalau Hasna ikut campur masalah Ibu. Hasna sendiri juga bukan orang yang berpengalaman dalam masalah yang sedang Ibu hadapi. Tapi kalau boleh kasih saran, sebaiknya Ibu bicara dengan Bapak sebelum mengambil keputusan apapun. Seseorang bisa saja melakukan kesalahan, tapi jika dia menyesali perbuatannya maka tidak ada salahnya memberi satu kali kesempatan. Kalau kesalahan itu kembali terulang maka barulan Ibu boleh mengambil keputusan akhir." Tisha masih mencerna saran dari Hasna. Gadis lemah lembut itu memang selalu bisa menengahi. Bahkan saat Alyta merajuk pun Hasna selalu bisa memberinya pengertian. "Apa menurutmu aku harus memaafkan suamiku?" Tanya Tisha. "Ibu bicara saja dulu dengan Bapak. Apakah Bapak mau memperbaiki semuanya atau tidak? Baru setelah itu Ibu bisa ambil keputusan." Ucap Hasna. Hasna pun bangkit meninggalkan majikannya di meja makan. Dia mengambil alih tugas membuat sarapan. Biasanya Tisha sendiri yang selalu menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Tapi kali ini Hasna merasa keadaan Tisha sedang tidak baik. Oleh karena itu Hasna inisiatif membuat sarapan tanpa di suruh oleh majikannya. ??? "Mas, kamu jangan diam saja. Aku sudah memberikan semua yang aku punya buat kamu. Sekarang kau tega mengabaikanku?" Seorang gadis cantik berkata dengan emosional. "Tisha sudah mengetahui hubungan kita." Ucap Arga pada gadis itu. "Terus kenapa kalau dia tau? Bukankah itu bagus, kita tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi kan?" Sahut gadis itu kemudian. "Tisha bukan wanita bodoh yang akan diam saja. Dia pasti akan melakukan pembalasan." Arga mengusap wajahnya kasar. "Mas takut? Mas lupa kalau aku juga cukup cerdas untuk mengetahui rencananya?" Gadis tersenyum meremehkan. "Aku tau dia menyuruh ajudannya untuk menyelidiki tentangku. Tentu saja aku sudah mengatisipasi semua ini sebelum istri tercinta mu itu mengetahui identitas asliku. Kau tau? Aku memberikan ponselku pada seseorang yang jadi model untuk iklan produk baru parusahaan mu. Aku bilang padanya kalau itu bonus untuknya." Arga menatap gadis di hadapannya tak percaya. Ternyata gadisnya itu memang cerdas. "Kenapa? Mas tidak percaya? Mas tenang saja, firasat ku mengatakan tak lama lagi dia pasti akan datang menemuimu. Mas hanya tinggal bersandiwara semaksimal mungkin untuk meyakinkannya. Dan setelah dia kembali, Mas tidak akan kehilangan para inverstor itu. Tapi Mas jangan lupa kalau cinta Mas cuma buatku." Gadis itu bergelayut manja pada Arga. Arga pun tersenyum sambil membelai rambut gadis tersebut. Dia memang tak salah menjadikan gadis itu sebagai kekasihnya. "Mas, aku kangen sama kamu." Ucap gadis itu lagi. Arga pun langsung menggendong gadis cantik itu ke kamarnya. Siang itu ia memadu kasih dengan gadis liciknya di dalam kamarnya. Kamar yang biasa ia tempati bersama Tisha. ??? Tisha sedang bergelut dengan pikirannya sendiri. Haruskah ia memberi kesempatan kedua untuk suaminya atau memilih mengakhiri semuanya? Setelah Hasna berangkat mengantar Alyta ke sekolah, Tisha terus saja menimbang-nimbang langkah apa yang akan ia tempuh selanjutnya. Akhirnya Tisha pun memutuskan untuk menemui Arga. Sepertinya dia memang perlu bicara dengan kepala dingin. Tisha tidak bisa mengambil keputusan dalam keadaan emosi. Sebelum pergi ia sudah berpesan pada Hasna untuk mengajak Alyta ke rumah orang tuanya dulu. Tisha mengendarai mobilnya dengan perlahan. Jarak yang ia tempuh tidaklah jauh hanya butuh waktu 30 menit maka ia akan sampai di rumah mewah yang selama ini ia tempati bersama Arga. Sampai di garasi, Tisha melihat mobil suaminya ada di garasi. Tisha pun langsung masuk ke dalam rumah. Baru saja masuk ia berpapasan dengan ART nya. Sang ART mengatakan sesuatu yang membuat Tisha geram. Tisha pun bergegas memasuki kamarnya. Dia ingin memastikan apakah benar atau tidak yang dikatakan ARTnya. Tisha benar-benar terkejut melihat pemandangan di dalam kamarnya. "Mas, apa yang kau lakukan?" ??? Kira-kira apa ya yang terjadi selanjutnya? Jangan lupa love dan coment nya..??
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN