Ta tercengang sendiri saat Bintang membawanya masuk ke sebuah kamar hotel. “Ini kamarmu, aku di sebelah.” Melihat pria muda itu tak berkediip memandang kosong ke pintu kamar yang terbuka, Bintang jadi heran sendiri. “Ada apa?” Ta bukan tak suka tidur sendiri, tapi kepalanya masih berputar tentang fakta bahwa perjalanan kali ini dirinya tak mabuk sama sekali. Belasan jam mereka mengudara, tetapi tak sedikit pun mual muntah Ta alami. Aneh sekali. Mungkinkah ia harus membeli jet pribadi untuk menjemput Reda di belahan dunia lainnya? “Ya Tuhan, ada apa dengan anak ini?! Kau bahkan lebih sulit kupahami daripada Khalid sekalipun,” decaknya heran sambil menggelengkan kepala. Mendengar nama Khalid, terbayang di kepala Ta sosok pris itu. Tampan, putih, dan berotot daripada dirinya sendiri. Ta m

