Kecurigaan Leona
Leona menatap nanar kearah Damian, lelaki yang telah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya dari kejahatan Ken dan Jessi kini menuntut balas budi dari Leona.
Damian memberikan surat perjanjian pernikahan kearah Leona "Bagaimana? kau mau menikah kontrak denganku?" Tanya Damian sembari menatap Leona tajam.
"Jika kau menikah dengan ku, aku berjanji pada mu aku akan membalaskan dendammu pada suamimu Ken dan Selingkuhannya Jessi." Tawar Damian kembali.
Leona terdiam sejenak, tawaran dari Damian lelaki yang telah menyelamatkannya itu terdengar menggiurkan, untuk membalas Ken dan Jessi, Leona membutuhkan kekuasaan dan kekayaan Damian.
"Aku tidak akan menyentuhmu selama hubungan pernikahan kita. Aku berjanji hubungan pernikahan kita hanya status saja, kau membantuku terbebas dari perjodohan yang dilakukan ayahku dan sebagai imbalannya aku akan membantumu membalaskan dendam mu." Leona masih tak menjawab tawaran dari Damian, ia hanya diam kembali mengingat perbuatan jahat Ken suaminya beberapa hari lalu.
*** 2 minggu lalu ***
Leona Lusshi Lubbis, wanita berusia 28 tahun yang saat itu terbaring di atas tempat tidurnya menyerengit begitu merasakan rasa sakit seperti ngilu di perut bagian bawahnya, sangking sakitnya ia sampai terbangun dengan keringat yang berpelu.
Leona meraih ponselnya, ia melihat layar ponsel yang kini menunjukan pukul 1 malam. Matanya teralih kearah sampingnya dan mendapati tempat itu kosong.
"Apa Ken belum pulang?" Pikir Leona sebelum kembali meringis karena merasa sakit dibagian perut yang kembali menyerang.
Leona lalu mencari nomor kontak suaminya dan ia segera menelpon nomor itu, tak beberapa lama suara dari seorang lelaki menjawab panggilan telponnya.
"Ken, perutku sangat sakit. Kau dimana? Kenapa belum pulang?" Tanya Leona.
"Leona! Jika kau sakit pergilah ke rumah sakit bukannya malah menelpon ku, apa kau pikir aku ini Dokter pribadimu?" Ken lelaki itu terdengar membentak "Sudah jangan ganggu aku, aku sedang sibuk bekerja, jangan jadi wanita manja dan pergilah ke rumah sakit sendiri."
"Ayo dong! Aku sudah tidak tahan." Suara seorang wanita terdengar dari saluran telpon Ken membuat mata Leona langsung melotot dan panas.
"Apa itu suara Jessi?" Leona bertanya karena ia sangat menghafal betul suara gadis penggoda itu.
"Iya itu suara Jessi, jangan berpikir yang macam-macam kami hanya mengurus pekerjaan saja, sebagai Sekretaris pribadiku otomatis Jessi harus ikut bersama ku kapanpun dan dimanapun jadi buang jauh-jauh pikiran negatifmu tentang hubungan ku dan Jessi." Jelas Ken meski tak membentak namun nada suara Ken terdengar tidak ramah.
"Minumlah air jahe hangat campur madu, mungkin kau merasa sakit karena memang mau datang bulan bukankah seperti itu tiap bulannya? Sudah jangan ganggu aku lagi." Saluran telponpun berakhir.
Leona membelalak, saat Ken menyebutkan kata datang bulan, kalau di ingat-ingat bulan kemarin Leona tidak datang bulan dan bulan inipun telat. Leona segera berpikir bahwa dirinya hamil, dengan mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya Leona keluar dari dalam kamarnya langkahnya tertatih dan berat, ia berjalan menuju kamar Bi Nindi, sedikit membungkuk seraya menjulurkan tangannya untuk bertumpuh pada tembok demi menjaga keseimbangannya.
"Bi Nindi?" Leona berteriak pelan bahkan sangat pelan memanggil pelayan yang ada di rumahnya, namun meski berkali-kali Leona memanggil kepala pelayannya itu tak menjawab, tentu saja tak menjawab mengingat ini sudah tengah malam dimana semua orang sedang tidur pulas.
"Bi Nin..." Leona tak dapat melanjutkan kalimatnya, tubuhnyan terlalu lemas hingga merosot jatuh ke lantai, syukurnya kepala pelayannya terbangun saat itu langsung membuka pintu dan mendapati Leona telah duduk di lantai seraya bersender ke tembok dengan wajah yang pucat.
"Astaga, Nyonya." Bi Nindi terpekik "Sabar Nyonya aku akan memanggil Pak Anton agar dapat membopong Nyonya setelahnya kita ke rumah sakit."
Leona mengangguk pelan untuk merespon perkataan wanita paruh baya itu dan tak beberapa lama menunggu sosok Bi Nindi kembali terlihat membawa serta Pak Anton supir mereka. Pak Anton segera membungkuk menggendong Leona lalu membawa majikannya itu menuju mobil untuk diantarkan ke rumah sakit.
***
Leona menatap Dokter yang saat itu sedang memeriksa perutnya setelahnya Dokter langsung menatap Leona sembari berkata "Apa anda tidak tahu anda hamil, Nona Leona?" Tanya Dokter itu, Leona terbelalak ia begitu senang mendengar kabar kehamilannya begitu juga dengan Bi Nindi yang tak sadar bahkan melompat kegirangan.
"Usia kandungan anda hampir menuju 2 bulan, saat ini kandungan anda sangat lemah minumlah s**u penguat kandungan, untuk saat ini aku tidak berani memberikan anda obat takut berpengaruh pada kandungan anda, selama kehamilan jangan terlalu kecapean dan stres, banyak-banyaklah minum air putih." Ucap Dokter itu membuat Leona mengangguk tanda mengerti.
Leona kembali teringat bahwa dua minggu belakangan ini ia memang sangat sibuk mengurus beberapa tender kerja sama dengan klien, Ken memang CEO di perusahaan mereka yaitu Lubbis Group namun kebanyakan klien hanya mau menandatangani kontrak kerja sama apabila Leona yang menangani proyek kerja sama mereka langsung.
Lubbis Group adalah perusahaan milik keluarga Leona. Leona langsung mewariskan perusahaan itu saat kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan beberapa tahun lalu.
Leona memimpin perusahaanya dengan sangat baik namun Leona langsung melepaskan jabatannya selaku CEO ketika Ken, suaminya minta jabatan itu 3 bulan lalu, itulah juga yang mengakibatkan banyak klien masih belum mempercayai kemampuan Ken meski sudah menjabat sebagai CEO alhasil meski sudah tak berstatus CEO Leonalah yang akan terjun langsung untuk mengurus kontrak kerja sama klien penting.
Leona meraih ponselnya lalu tak sabaran menelpon Ken, ingin memberitahukan fakta tentang kehamilannya namun senyum senang di paras Leona segera memudar saat panggilan telponnya beberapa kali tak dijawab oleh Ken, entah sesibuk apa lelaki itu dengan pekerjaanya hingga mengabaikan telpon dari istrinya.
Leona menggelengkan kepalanya "Tidak! Aku tidak boleh begini, aku tidak boleh berpikiran negatif siapa tau Ken memang betul sedang bekerja. Aku harus membuang jauh-jauh pikiran negatifku agar aku tidak stress dan mengganggu bayiku." Pikir Leona lalu tersenyum.
Saat Leona hendak turun dari atas tempat tidur Bi Nindi dengan sigap membantu Leona, padalah seharusnya yang seharusnya sigap akan kondisi Leona saat ini adalah Ken suaminya bukan Bi Nindi.
"Ayo kita pulang Bi," ajak Leona dan Bi Nindipun dengan tenang memapah Leona untuk berjalan.
Dalam mobil, Leona menatap layar ponselnya nanar bohong jika dia bisa berpikiran positif disaat suaminya yang berada entah di mana bersama seorang mantan pacarnya dulu.
Leona menggelengkan kepalanya lagi sebelum ia masuk ke media sosialnya guna mencari hiburan, namun baru saja masuk pemberitahuan bahwa akun Jessi menandainya pada sebuah postingan membuat Leona penasaran.
Leona mengklik pemberitahuan itu, alangkah terkejutnya Leona begitu melihat foto yang diupload oleh Jessi 5 jam lalu.
Foto dimana Jessi dan Ken berpelukan erat, keduanya tampak tak berbusana, rambut Jessi terlihat berantakan sementara Ken nampak menjulurkan lindahnya kearah pipi Jessi. Yang membuat Leona sakit hati karena membaca caption yang ada di foto itu yang berbunyi 'Siapa yang tak gila dengan permainan ranjang lelaki sexy ini. Maaf, tapi malam ini aku tak bisa membiarkanmu pulang mari kita habiskan malam ini hingga beberapa ronden.'
Tangan Leona langsung lemah dan gemetar, matanya nampak panas dan berair, sakit, kecewa, marah itulah yang dia rasakan saat ini.
Leona kembali melihat foto yang diupload Jessi, Leona menyerengit ia sangat tahu tempat tidur dan nakas di sampingnya terlihat sangat familiar. Itu seperti tempat tidur dan nakas dari apartemen yang dibelinya satu minggu lalu atas permintaan Ken.
"Apa mungkin?" Leona tak dapat melanjutkan pikirannya ia hanya segera menatap Pak Anton lalu meminta lelaki paruh baya itu putar balik menuju alamat apartemen yang baru dibelinya itu.
"Setidaknya aku harus memastikannya dulu secara langsung, apakah kecurigaanku benar atau tidak." Gumam Leona pelan.
Bersambung