Di sebuah apartemen mewah yang ada di pusat Kota, Damian Scotte saat ini terlihat diam memandang gadis berpakaian sexy yang ada di hadapannya.
"Apa kau tidak menginginkan tubuh ini Tuan." Suara gadis berambut ikal itu terdengar menggoda, gadis itu mencondongkan dadanya kearah Damian namun dengan sigap Damian mendorong pelan tubuh gadis itu dan menatap sinis.
"Dengar, aku hanya akan menyewamu untuk berakting menjadi istriku selama beberapa hari. Dan aku tidak butuh tubuh mur*hanmu yang telah banyak disentuh lelaki lain." Damian berkata dengan nada suara dingin dan tak berperasaan membuat gadis berambut ikal itu langsung merasa malu dan menyesal telah berusaha menggoda Damian.
"Ternyata rumor itu benar adanya." Gumam gadis berambut ikal itu pelan.
Yeah! Seperti rumor yang beredar, Damian Scotte adalah CEO sukses yang dingin dan anti berdekatan dengan wanita, namun kali ini ia harus menyewa seorang wanita untuk berpura-pura menjadi istrinya demi menolak perjodohan yang akan di lakukan sang Ayah padanya.
Sementara itu di area parkiran apartemen, setelah tiba Leona langsung tersenyum kecut begitu mendapati mobil dari Ken terparkir di parkiran apartemen.
"Oh jadi Tuan ada disini." Gumam Bi Nindi begitu melihat mobil milik Ken.
"Bibi tunggu di sini sama Pak Anton yah," titah Leona membuat Bi Nindi dan Pak Anton segera menganggukan kepala mereka.
Leona berjalan memasuki lobi apartemen menuju lift lalu menekan angka 10 begitu masuk dalam lift. Leona menggeretakan gigi dan mengeratkan tangannya entah adegan apa yang dia akan dapati di dalam apartemennya yang jelas ia harus melihat bahkan memergoki secara langsung agar Ken tidak dapat berkelit lagi jika ia memang benar berselingkuh dengan Jessi. Jika memang apa yang dilihatnya sesuai dengan apa yang dipikirkannya maka perceraian satu-satunya keputusan yang akan diambil oleh Leona.
Leoan melangkah keluar lift begitu tiba di lantai 10, ia bergerak menuju unit 15. Sementara Damian yang ada di unit 14 segera keluar setelah menjelaskan apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan gadis berambut ikal yang ia sewa sebagai istrinya itu.
Leona berjalan dengan terburu hingga ia menabrak Damian yang baru saja keluar dari pintu, beruntung Damian memiliki refleks yang cepat hingga ia dapat merengkuh tubuh Leona yang nyaris oleng karena berbenturan dengan tubuhnya yang tinggi besar dan kokoh.
Mata hitam sekelam malam milik Damian beradu dengan mata coklat sejernih embun milik Leona. Keduanya cukup lama saling memandang, mata milik Leona mengingatkan Damian pada gadis masa lalunya.
"Ahh! Maaf Tuan." Ucap Leona seraya menstabilkan pijakan kakinya untuk berdiri.
"Tidak apa-apa," sahut Damian.
Leona membungkuk meminta maaf kemudian melanjutkan langkahnya menuju unit nomor 15.
"Apa dia salah satu penghuni apartemen di sini?" Gumam Damian seraya menatap punggung Leona yang semakin menjauh.
Tiba di depan pintu unit 15, Leona terdiam sejenak lalu dengan gemetar tangannya bergerak memasukan kata sandi untuk membuka pintu apartemennya.
Leona menyerengit saat ia membuka pintu suara desahan kenikmatan antara Jessi dan Ken terdengar mengisi seluruh ruangan. Leona segera menutup hidungnya begitu ia tiba di ruang tamu apartemen bau alkohol yang menyengat langsung menelusuk masuk ke hidunganya. Bekas kulit kacang, botol bir dan botol alkohol serta patahan cemilan berserakan di atas meja serta lantai ruang tamu. Di lantai Leona mendapati kemeja, jas, celana bahkan celana dalam milik Ken berserakan begitu juga dengan kemeja wanita dan rok hitam serta dalaman wanita juga ikut berserakan.
Suara desahan semakin keras terdengar "Aaah!... berhenti menjilatinya itu membuatku gila!" Suara Jessi yang sedikit mengerang terdengar.
Leona melangkah menuju lantai 2 dan ia langsung berdiri terpaku saat ia membuka pintu kamar, Loena dapat melihat adegan apa yang ada di hadapannya meski cahaya kamar yang minim.
"Ayo!.. Cepat Ken masukan aku sudah tidak tahan lagi berhenti menjilatinya, aargg!..." pinta Jessi terdengar lirih.
"Baiklah sayang." Ucap Ken, Ken yang membungkuk di depan kaki Jessi yang terbuka lebar segera bergerak, dari gerakan tangan Ken berada di balik pangkal paha milik Jessi, Leona dapat melihat bahwa Ken sedang mengarahkan juniornya kearah area private milik Jessi.
"Arrg!.." Jessi dan Ken sama-sama mengadu nikmat, Leona bahkan dapat melihat tubuh Jessi yang menggeliat sebelum tubuh Ken bergerak maju mundur.
"Terus.. sayang... lagi.. cepat." Pinta Jessi dengan suara memburuh.
"Jadi ini kenikmatan yang dirasakan Leona selama ini." Ucap Jessi membuat Ken memberhentikan gerakanya.
"Apa yang terjadi, jangan berhenti sayang aku hampir berada di puncak..."
"Tidak akan ku lanjutkan jika kau membahas Leona lagi." Suara Ken terdengar dingin saat menyebut nama Leona
"Baiklah, maafkan aku sekarang lanjutkan karena tubuhku.. Arg!..." Jessi mengerang nikmat begitu Ken bergerak memasukannya lagi.
"Terus sayang!... sedikit lagi... sedikit lagi..." Teriak Jessi membuat Ken semakin mempercepat gerakannya dan saat keduanya nyaris berada di puncak kenikmatan Leona segera mengklik stop kontak lampu membuat Ken dan Jessi kaget.
"Leona?!" Gumam Ken sembari beranjak turun dari tempat tidur, Leona bahkan dapat melihat junior Ken yang masih berdiri tegap, sementara Jessi hanya meringkuk menutupi tubuhnya dengan selimut.
Mengetahui tubunya tak tertutup sehelai benangpun, Ken menarik selimut yang ada pada Jessi lalu melilitkannya ke tubuhnya.
"Sayang, aku bisa jelaskan, ini semua..." Ucapan Ken terhenti ketika Leona memilih pergi meninggalkannya.
"Sialan!" Umpat Ken lalu berlari bergerak mengambil pakaiannya yang tergeletak di lantai yang ada di ruang tamu.
Leona masuk ke dalam mobil dengan wajah merah padam karena menahan kemarahan, Bi Nindi dan Pak Anton tak bersuara mereka tahu telah terjadi sesuatu di apartemen menebak dari raut wajah Leona namun keduanya memilih diam tak berani untuk bertanya.
"Mari kita pulang," ajak Leona tanpa keramahan. Pak Anton hanya mengangguk lalu mulai mengemudikan mobil untuk keluar dari area apartemen.
Tiba di kediamannya Leona langsung duduk di sofa menyilangkang kedua kakinya sembari melipat kedua tangannya di depan d**a, ia tahu sebentar lagi Ken akan muncul. Dan terang saja tebakan Leona benar, Ken muncul di ruang tamu dengan wajah panik, nampaknya Ken mengenakan pakaiannya dengan terburu itu terbukti dengan kancing baju yang salah ia kancingkan.
"Sayang dengarkan aku," Ken berucap sembari melangkah pelan mendekati Leona.
"Yang kau lihat itu semua tidak seperti yang kau pikirkan." Mendengar itu Leona langsung menatap Ken dengan tatapan tajam.
"Tidak seperti yang ku pikirkan," gumam Leona lalu menatap lurus kearah junior milik Ken "Disaat kau menikmati adegan itu bisa-bisanya kau berkata apa yang ku lihat tidak seperti yang ku pikirkan, apa kau waras!" Pekik Leona diakhir kalimat membuat Ken langsung berlutut di hadapan Leona, memeluk kaki Leona lalu menenggelamkan wajahnya di pangkuan Leona.
"Maafkan aku, itu semua terjadi karena aku berada dalam pengaruh alkohol." Ucap Ken dengan nada sedikit pelan, Leona hanya berdecit kesal mendengar itu. Dulu, disaat Ken meminta maaf dengan memasang tampang memelas, Leona akan melunak dan memaafkan Ken dan melupakan semua kesalahan dari Ken, tapi kali ini hati Leona sudah mengeras tak ada lagi maaf.
"Sayang maafkan aku, aku dan Jessi tidak ada hubungan apapun, tadi kami melakukan hal itu karena berada di bawah pengaruh alkohol, tolong mengertilah posisi kami yang saat itu dalam keadaan tidak sadar." Ucap Ken kembali.
Leona mendorong kepala Ken bahkan tubuh Ken untuk menjauh darinya kemudian Leona beralih kesisi lain sofa. Melihat reaksi Leona membuat Ken sedikit jengkel "Sialan! Kenapa gadis bodoh ini jadi keras kepala seperti ini, biasanya ketika melihatku menghiba dia akan langsung memeluk ku dan menangis lalu memaafkan ku." Pikir Ken.
Ken berdiri di depan Leona lalu berkacak pinggang "Leona, aku sudah minta maaf, lalu apa lagi yang kau inginkan. Kenapa kau begitu egois, ayolah! Berhenti bertingkah seperti anak kecil, kau sudah dewasa aturan dapat membedakan ketidak sengajaan dan kesengajaan." Ucap Ken dengan nada sedikit meninggi "Aku capek bekerja seharian lalu meminum alkohol dan semua itu terjadi, itu murni faktor ketidak sengajaan ku mohon jangan sensitif seperti ini. Kau tahu seperti apa sifat dan karakter ku, kita sudah lama bersama masa kau tidak dapat memaklumi kesalahanku yang ini."
Leoan terdiam, semua ocehan dari Ken membuatnya muak dan mual. Iya, memang apa yang dikatakan Ken ada benarnya, mereka sudah lama bersama dan Leona tau sifat serta karakter Ken, mereka berpacaran selama dua tahun lalu menikah, sekarang pernikahan mereka sudah berusia 3 tahu kalau ditotal mereka telah bersama selama 5 tahun. Iya, selama 5 tahun Ken adalah sosok lelaki yang dikagumi Leona, lelaki penyayang dan perhatian dan penuh cinta, selama 5 tahun Ken menunjukan cinta yang sangat besar untuk Leona namun semuanya berubah sejak Leona mundur jadi CEO dan membiarkan Ken mengambil alih posisinya, beberapa minggu menjadi CEO, Ken membawa Jessi untuk menjadi Sekretaris pribadinya itu juga atas persetujuan Leona, awal saat bertemu Jessi, Leona hanya tahu Jessi adalah adik kelas Ken waktu SMA dulu namun beberapa hari belakangan ini barulah Leona tau bahwa Jessi mantan kekasih Ken yang sempat berpacaran selama 3 tahun.
Tingkah Ken mulai berubah dan semakin parah sejak kehadiran Jessi, sebenarnya Leona sudah mencurigai perselingkuhan Ken dan Jessi namun Leona selalu luluh akan permintaan maaf Ken dan penjelasan suaminya itu, dibutakan oleh cinta yang begitu besar Leona seakan tidak bisa melihat kebusukan Ken, hingga malam inilah puncaknya dimana Leona merasa cintanya pada Ken adalah sesuatu yang menjijikan.
Bersambung!...