Kembali ke Posisi awal

1396 Kata
Leona masih setia duduk menatap wajah Ken yang nampak agresif akan kemarahan. Leona berdiri, ia berusaha mengantur emosinya, berusaha mengontrol amarahnya karena ia tak ingin kemarahannya akan mengganggu tumbuh kembang bayinya. "Ken sebaiknya kita cerai saja, rumah ini, perusahaan dan mobil yang kau pakai adalah milikku bawaanku saat menikahi mu dan untuk proverti yang lainnya masing-masing dibagi setengah sebagai harta gono gini." Mata Ken terbelalak ia nampak tak percaya bahwa Leona yang selama ini patuh dan tunduk padanya kini mengajukan cerai. "Apa kau sudah gila Leona? Hanya karena kesalahan sepeleku kau langsung menggugat cerai? Aku baru tau ternyata kau wanita yang egois." Ucap Ken, belum sempat mendebat ucapan dari Ken tiba-tiba ponsel Ken berdering di waktu yang tidak tepat, suara perempuan yang lembut dan manja terdengar dari ujung telpon. "Ken, kepalaku pusing aku tidak bisa bergerak bisakah kau membantuku ke rumah sakit?" Ken menjawab telpon itu dengan lembut dan penuh kekhawatiran "Baiklah, aku akan tiba segera." Leona hanya tersenyum kecut mendengar suara Ken yang menjawab telpon dari Jessi begitu lembut bahkan sangat lembut. Ken mengakhiri panggilan telponnya, memasukan ponsel itu dalam saku celananya lalu menatap kearah Leona yang saat ini masih berdiri di hadapannya. "Leona, aku tahu saat ini kau mengambil keputusan karena terbawa emosi sesaatmu. Aku akan pergi memberikanmu waktu untuk merenungi lagi keputusanmu, pikir baik-baik sebelum kau mengambil keputusan." Ken melangkah hendak keluar meninggalkan Leona namun Leona dengan segera mencekal pergelangan tangan Ken sembari berkata "Aku tahu kau akan pergi menemui Jessi." Ken dengan kasar menepis tangan Leona hingga terpelanting cukup keras bahkan raut wajah Ken berubah suram dan dingin ketika menatap Leona saat itu "Ayolah Leona jangan mulai lagi, kenapa kau begitu cemburuan, saat ini Jessi sedang sakit aku harus membawanya ke rumah sakit, bagaiman mungkin kau meminta orang sakit pergi sendiri ke rumah sakit." Setelah mengatakan itu Ken lalu pergi keluar pintu tanpa menoleh sedikitpun. Melihat itu seketika tubuh Leona langsung lemas, sudah pernikahannya sudah tak dapat diselamatkan keputusannya untuk bercerai semakin bulat. Leona menangis, meratapi nasibnya yang begitu malang, ia hanya wanita sebatang kara satu-satu keluarganya yang dia miliki yah hanya Ken suaminya tapi kini Ken tak dapat lagi disebut keluarga. Leona histeris membuat Bi Nindi yang mendengar teriakan Leona langsung keluar menuju ruang tamu. Alangkah terkejutnya Bi Nindi melihat Leona yang hiteris, tak lama Leona mulai merasakan sakit dibagian perutnya kali ini sakitnya lebih parah dari yang dia rasakan tadi lalu beberapa saat kemudian darah merembes, mengalir mengikuti garis kaki Leona dari pangkal paha hingga ke betis. "Astaga, Nyonya!" Bi Nindi berteriak khwatir melihat Leona pendarahan, bergegas Bi Nindi memanggil Pak Anton meminta bantuan supir itu untuk membawa Leona ke rumah sakit. *** Damian yang baru tiba di rumah sakit karena janji temunya dengan salah seorang temannya segera memberhentikan langkahnya ketika mendengar teriakan dari arah belakang "Minggir!" Bergegas Damian sedikit memojokan diri kearah tembok tak lama berselang Bi Nindi dan Pak Anton serta 3 orang perawat terlihat sibuk mendorong troli tempat tidur. Mata Damian terbelalak ketika melihat Leona terbaring diatas tempat tidur yang saat itu sedang di dorong menuju ruangan gawat darurat. "Wajah gadis itu seperti tak asing." Gumam Damian lalu terbelalak ketika ia mengingat sempat berpapasan dengan Leona ketika di apartemen tadi. "Itu gadis yang menabrak ku tadi." Pikir Damian, karena penasaran Damian langsung mengikuti kearah mana tempat Leona dibawa. Tiba di ruangan gawat darurat Damian langsung melihat Bi Nindi dan Pak Anton sedang berdiri menunggu harap-harap cemas. "Kenapa bisa begini?" Tanya Pak Anton pada Bi Nindi. "Aku juga tidak tahu, yang jelas tadi di ruang tamu aku sempat mendengar Nyonya Leona dan Tuan Ken bertengkar hebat bahkan aku mendengar Nyonya Leona menyebut-nyebut kata perceraian." Jawab Bi Nindi, sebelum keduanya kembali terdiam dalam keheningan dan kecemasan masing-masing. Damian yang saat itu sedang berdiri tiba-tiba memegangi dadanya, entahlah dia sendiri tidak tahu tapi yang jelas ada rasa yang tidak bisa dia gambarkan saat ia melihat wajah Leona, sebelum Damian dikagetkan dengan suara deringan ponselnya bergegas Damian menjawab panggilan telpon itu. "Iya, baiklah aku akan ke ruanganmu sebentar lagi." Ucap Damian sebelum mengakhiri sambungan telponnya. Damian menatap ruangan gawat darurat lalu menggumam "Aku tidak tahu kau siapa dan tidak mengenalmu, tapi ada perasaan berbeda saat aku melihat wajahmu. Sekarang kita sudah bertemu 2 kali jika kita kembali dipertemukan untuk yang ke 3 kalinya maka fix kita memiliki benang takdir yang terhubung." Setelahnya Damian lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan gawat darurat. *** Leona mengerjapkan matanya, bau ruangan steril langsung menyengat masuk ke rongga hidungnya. Leona terdiam, wajah Pak Anton yang terlihat sedih serta Bi Nindi yang tak berhenti menangis membuat Leona langsung dapat menarik kesimpulan akan kondisi bayi dalam kandungannya. Tanpa bertanya Leona langsung menangis kali ini ia menangis tanpa suara, ia sudah cukup lelah hingga bersuara saat menangispun ia sudah tak mampu, dan sialnya disaat seperti ini yang ia butuhkan hanya pelukan dari Ken, ia ingin berada dalam pelukan hangat suaminya meluapkan kesedihannya karena tak mampu menjaga bayi mereka namun itu hanya hayalan Leona semata nyatanya saat ini Ken tak ada bersamanya. Bi Nindi memeluk Leona lalu menepuk punggung Leona pelan "Sabar Nyonya." Bi Nindi berucap dengan suara gemetar. "Bayiku yang malang, dia hadir diwaktu yang kurang tepat." Lirih Leona berkali-kali. Setelah beberapa saat menangis meluapkan kesedihannya, Leona akhirnya sedikit tenang. Benar apa yang diucapkan Bi Nindi, Leona masih muda masih bisa memiliki bayi lagi, sekarang yang Leona harus lakukan adalah pulih dan melanjutkan hidupnya tentunya setelah bercerai dari Ken. Leona meraih ponselnya, postingan dari akun media sosial dari Jessi menjadi hal pertama yang dilihat Leona kala masuk ke media sosialnya. Sebuah foto tangan yang saling menggenggam erat, satu tangan dipasangi infus dan satu lagi tangan kekar yang mengenakan jam tangan rolex hitam edisi terbatas dan cincin kawin yang melingkar di jari manis membuat Leona langsung mengenali tangan yang sangat familiar itu, itu adalah tangan Ken. Dibagian caption Jessi menulis kalimat 'Lelaki yang akan selalu menemaniku dan mengkhawatirkan aku jika aku sakit, dia bahkan begitu lengket padaku layaknya permen karet' di ujung caption ada emot love. Leona tersenyum, jika biasanya ia akan sedih melihat kebersamaan Ken dengan gadis lain tapi kali ini Leona tersenyum lega setidaknya ia tahu bahwa sampah seperti Ken tidak layak disimpan terlalu lama karena itu akan membusuk. Leona mulai mengetik ingin meninggalkan komentar di foto yang diunggah Jessi 'Akhirnya kembali keasalnya, sampah memang seharusnya lengket dengan tempat sampah.' Setelah mengetik komentar itu Leona lalu mencari kontak Tuan Lim pengacara keluarganya. "Iya Nyonya Leona." Suara lelaki paruh baya ciri khas Tuan Lim menyapa indra pendengaran Leona. "Tuan Lim, aku ingin anda mengurus perceraianku dengan Ken." "Apa?!" Tuan Lim terdengar kaget pasalnya ia tahu betapa Leona sangat mencintai Ken, bahkan sangking cintanya Leona sampai menuliskan Ken sebagai penerima seluruh harta miliknya jikalau dia meninggal nantinya, oleh karena itu Tuan Lim begitu kaget saat Leona memutuskan untuk bercerai. "Aku juga ingin merubah ahli warisku, andai aku meninggal aku ingin seluruh hartaku diberikan kepada panti asuhan dan badan amal yang ada di Negara kita, tak lupa sisahkan 20% hartaku untuk Bi Nindi dan Pak Anton dan 20% sahamku juga untuk mereka." Ucap Leona dan Tuan Limpun mengangguk tanda setuju. Butuh waktu 4 hari perawatan bagi Leona untuk benar-benar pulih hanya Bi Nindi dan Pak Anton yang menemani Leona. "Selama 4 hari di rumah sakit apa Ken tidak menanyakan keberadaanku?" Tanya Leona masih berharap ada sisa-sisa kepedulian Ken terhadap dirinya namun kekecewaan segera menghampiri Leona begitu Bi Nindi menggelengkan kepalanya. "Tuan Ken bahkan tidak pulang 4 hari ini." Ucap Bi Nindi. Leona kini berdiri ia menatapi penampilannya di cermin, sebuah celana putih dan atasan kemeja abu-abu yang bagian depannya dimasukan sementara bagian belakang dibiarkan tergerai membuat pesona Leona sebagai CEO muda kembali terpancar, pasalnya setelah menyerahkan jabatannya sebagai CEO, Leona hanya berpenampilan sederhana mengenakan dress, baju tidur atau kaos oblong dan celana joger, namun saat ia mengenakan pakaian semi forma seperti ini karismanya selaku CEO terpancar kembali. "Pak Anton, ayo kita pergi ke perusahaan." Ajak Leona. "Apa Nyonya akan kembali bekerja?" Tanya Bi Nindi dan Leona segera mengangguk. "Itu adalah perusahaan kedua orang tuaku yang diwariskan untukku seharusnya aku menjaganya bukan malah menyuruh orang asing seperti Ken untuk mengurusnya." Mendengar perkataan Leona, Bi Nindi dan Pak Anton tersenyum senang. Pasalnya mereka tidak suka saat Leona memberikan jabatannya selaku CEO pada Ken, namun mereka tak dapat melakukan protes pada keputusan majikannya itu mengingat saat itu Leona benar-benar buta oleh cintanya pada Ken, syukurlah saat ini Leona telah berhasil melihat siapa Ken sebenarnya. Bersambung!...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN