Leona melangkah meninggalkan ruangan kerjanya, seraya mengarahkan ponsel kearah telinganya.
"Hallo Tuan Lim?" Ucap Leona begitu panggilan telponnya dijawab.
"Iya Nyonya Leona, saat ini aku sudah di tempat janji temu kita." Jawab Tuan Lim
"Baiklah Tuan Lim, maaf sepertinya aku agak terlambat sekitar 10 menit apa tidak masalah?"
"Tidak masalah Nyonya," jawab Tuan Lim dan panggilan telponpun berakhir tepat saat Leona berada di teras perusahaan.
"Malam Nyonya." Sapa staff keadaman kearah Leona.
"Malam pak," sahut Leona ramah lalu berjalan menghampiri mobilnya membuka pintu dan bergerak masuk ke dalam.
Leona segera mengemudikan mobilnya ke luar area parkir, di seberang jalan Ken dan Jessi segera mengikuti mobil Leona begitu melihat mobil berwarna putih itu keluar dari area parkiran perusahaan.
Lima belas menit awal perjalanan semua nampak baik-baik saja namun begitu jalanan berada di titik tidak adanya kamera pengawas jalan Ken langsung melajukan mobilnya cepat menyusul mobil Leona.
Leona yang saat itu fokus mengemudi menyerengit melihat mobil hitam mengikutinya "Itu mobil Ken." Gumam Leona "Apa yang dia..." belum sempat menyelesaikan kalimatnya Leona tersentak begitu mobil Ken mepet kearah body mobilnya.
Ken tersenyum, ia memepet mobil milik Leona hingga Leona tidak dapat berjalan lurus dan memilih belok kearah kanan karena mobil Ken terus menyeruduk dari area samping kiri.
"Sialan!" Pekik Leona, saat mobil Ken terus menyenggol body mobilnya membuat Leona hampir kehilangan kendali kemudi.
Leona yang kesal langsung tancap gas tanpa ia ketahui itu justru membuatnya berada dalam bahaya, melihat Leona mengemudikan mobilnya dengan kencang Ken dan Jessi bersorak girang karena memang itulah yang mereka inginkan.
Leona bernafas lega saat ia mengetahui bahwa mobil Ken sudah tak mengejarnya lagi "Syukurlah." Gumam Leona dan saat ia berusaha untuk memelankan laju mobilnya Leona panik karena rem mobilnya tidak berfungsi sementara kondisi jalanan saat itu turunan.
"Apa yang terjadi?" Pikir Leona kakinya masih berusaha menginjak pedal rem namun rem itu blong, Leona panik disisi kanannya adalah jurang sementara disisi kirinya perbukitan.
Dalam keadaan terdesak Leona langsung membanting stir mobil kearah kiri membuat mobil berhenti seketika ketika menghantam bukit cukup keras. Bagian depan mobil Leona rusak parah, asap mengepul dari area depan mobil.
Leona yang masih sadarkan diri tidak terlalu terluka parah berkat air bag mobil yang berfungsi sempurna langsung meminimalisir keadaan menyelamatkan Leona dari benturan keras.
Leona keluar dari dalam mobilnya, kepalanya berdarah dan mungkin tangan kirinya terkilir atau patah Leoan tak tahu tapi yang jelas saat ini tangan kirinya itu terasa sangat sakit dan Leona tidak bisa menggerakannya.
Leona gemetar kejadian itu begitu cepat, belum sempat menarik nafas untuk menenangkan diri mata Leona langsung terbelalak melihat mobil Ken melaju menghampirinya, dan berhenti tepat di depan Leona.
Jessi dan Ken keluar dari dalam mobil sembari tertawa "Ku kira kau sudah mati." Ucap Jessi membuat Leona terbelalak dan langsung dapat menyimpulkan bahwa apa yang dialaminya saat ini pasti ada campur tangan Jessi dan Ken.
"Lihatlah wajahmu yang pucat itu Leona, apa kau ketakutan sekarang?" Ucap Jessi mengejek.
Leona hanya menyerengit, rasa perih dan sakit yang ia rasakan sehabis kecelakaan membuatnya tidak memiliki tenang bahkan hanya sekedar mengelurkan suara untuk mendebat.
"Bagaimana ini Leona, jika kau mati disini sebelum kau menandatangani surat wasiat yang baru otomatis seluruh harta kekayaanmu akan jatuh ketanganku."
Bluss!... Tubuh Leona langsung lemas, perkataan Ken bagai anak panah yang menghujam ulu hati gadis berambut hitam pekat itu.
Leona tersenyum kecut "Jadi kau telah merencanakan ini semua?" Tanya Leona dan Ken segera mengangguk membenarkan.
"Bagaimana? Kau menyukai rencanaku ini?" Ucap Ken yang langsung disambut oleh galak tawa dari Jessi.
Jessi yang dari tadi hanya berdiri menatap Leona dengan senyuman licik kini melangkah menghampiri Leona yang telah terpojok terhimpit di kedua mobil mereka, Jessi lalu menarik rambut Leona hingga empunyah rambut merintih kesakitan "Lepas Jessi!" ucap Leona
Jessi tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Leona, bukanya dilepas tangan Jessi justru semakin keras mencengkram rambut hitam pekat itu "Lepas kau bilang?" ucap Jessi "Aku tidak akan melepas rambut ini sampai kau mati!" Jessi berucap dengan nada begitu tinggi "Ini balasan karena kau telah menamparku tadi."
Leona hanya dapat meringis, ia tidak dapat melakukan perlawanan untuk melindungi diri, tangan kirinya tidak bisa di gerakan, kepalanya masih pusing dan tubuhnya masih lemas akibat kecelakaan tadi, alhasil ia hanya pasrah saat Jessi menjambaknya dengan begitu kuat.
"Heh! Ken, sayang. Kita apakan gadis ini?" Tanya Jessi tanpa melepas jambakanya dari kepala Leona.
"Terserah kau saja, Sayang." Balas Ken berjalan kemudian mencium bibir Jessi di hadapan Leona.
Leona menangis menyesali tindakanya yang menjadikan Ken sebagai ahli waris tunggalnya, jika ia mati sekarang maka Ken dan Jessi akan menguasai perusahaan dan seluruh hartanya.
Ditengah suasana yang mencengkam itu deringan posel milik Leona yang ada di dalam mobil langsung memecah keheningan, Ken menghampiri mobil Leoan lalu meraih posel yang ada di tas Leona kemudian tersenyum begitu melihat nama yang tertera di layar ponsel adalah nama pengacara Lim.
Ken dengan kasar melempar ponsel pintar Leona ke aspal lalu menginjak ponsel itu hingga pecah dan rusak.
"Ku rasa kita tidak perlu membuang waktu lagi sayang." Ucap Jessi bersamaan dengan tangan Ken yang begitu keras memukul kepala Leona dengan batu hingga Leona langsung jatuh terkapar bersimbah darah.
"Cepat Jessi!" ucap Ken, membopong tubuh Leona yang tak berdaya lalu memasukan tubuh Leona ke dalam mobil.
Ken dan Jessi sibuk memasang tali di belakang mobil Leona lalu mengaitkan ujung tali yang lain kearah mobil Ken lalu mulai menderek mobil Leona mendekati jurang.
Sementara itu diatas bukit yang tidak terlalu tinggi itu, dua orang lelaki tengah terlibat dalam perdebatan yang serius "Ayo! Kita pulang Damian," ajak Lelaki berkaca mata itu.
Lelaki bernama Damian itu menggeleng, ia masih enggan meninggalkan atas bukit. Ada sesuatu yang seakan menahan lelaki bermata gelap itu untuk pergi meninggalkan bukit
"Kau pulanglah dulu Will, aku masih ingin melihat hujan meteor, menurut info yang ku dapat di atas bukit inilah kita akan lebih jelas melihat hujan meteor dengan mata telanjang," Tolak Damian bersikukuh bertahan di atas bukit.
"Kalau begitu aku pulang dulu, sampai jumpa besok," ucap lelaki bernama Will seraya berlalu pergi meninggalkan Damian sendiri, Will tak ingin berlama-lama di bukit di gerogoti nyamuk hanya untuk melihat hujan meteor itu bukanlah hobinya.
"Mana mungkin aku pulang melewatkan penomena alam seindah hujan meteor," Gumam Damian setelah kepergian Will.
Damian menatap jam yang ada di layar ponselnya "Menurut info, puncak hujan meteor adalah jam delapan malam." ucap Damian.
Tengah asyik menunggu tiba-tiba perhatian Damian dicuri oleh suara bising dari arah bawah, Damian yang penasaran langsung mengarahkan teleskopnya kearah bawah, alangkah terkejutnya Damian melihat Jessi dan Ken sedang memasukan tubuh Leona yang bersimbah darah dalam mobil.
Damian tanpa pikir panjang lalu berlari menuruni bukit mendekati tempat Jessi dan Ken berada, Damian segera bersembunyi di balik semak-semak mengamati Jessi dan Ken.
"Kau sudah memposisikan tubuh Leona dengan benar di posisi kemudi?" Tanya Jessi
"Aku sudah mengurus semuanya, sekarang kita hanya perlu mendorong mobil Leona ke jurang." jelas Ken yang disambut dengan galak tawa milik Jessi.
"Jika sudah seperti ini maka pengacara Lim atau bahkan polisi sekalipun tidak akan curiga pada kita dan akan menganggap Leona meninggal murni karena kecelakaan." Ucap Ken bangga dan merasa puas akan hasil kerjanya yang terlaksana dengan sempurna.
Di balik semak Damian yang masih terdiam dengan mata terbelalak, dia sama sekali tak menyangka keinginanya melihat hujan meteor secara langsung justru harus membawanya melihat adegan pembunuhan.
Bersambung!..