Masih hidup

1194 Kata
Jessi dan Ken terlihat sibuk melepas tali tambang yang terpasang di body belakang mobil milik Leona dan tali tambang yang terpasang di body depan mobil mereka. "Ayo! Jessi kita harus bergegas untuk menghemat waktu," ucap Ken seraya berjalan kearah belakang mobil Leona diikuti oleh Jessi sebelum keduanya mulai mengeluarkan seluruh tenaga mereka untuk mendorong mobil Leona, agak kesusahan diawal namun saat roda mobil milik Leona mulai berputar dengan satu kali dorongan mobil itu meluncur tanpa hambatan dengan sendirinya jatuh ke dalam jurang. "Ayo kita harus pergi," ajak Ken berjalan lebih dulu menuju mobil mereka, Jessi berlari mengejar Ken yang telah lebih dahulu masuk ke dalam mobil. Setelah Jessi duduk di sampingnya, Ken dengan cekatan mulai mengemudikan mobilnya meninggalkan lokasi. Damian yang dari tadi menyaksikan adegan pembun*han yang dilakukan Ken dan Jessi dari kejauhan kini keluar dari balik semak, sejenak ia berdiri demi memastikan mobil yang dilihatnya tadi sudah menjauh atau belum. Damian mendekati area jurang, ia dapat melihat mobil Leona yang rinsek tersangkut di pepohonan bergegas Damian menuruni jurang yang tidak terlalu curam itu, mendekati mobil milik Leoan yang baru saja terjun bebas itu. "Siapapun kau bertahanlah!" gumam Damian sembari berusaha membuka pintu mobil namun tak berhasil. Damian mencium aroma bensin, ternyata bagian bawah mobil yang tersangkut membuat tangki penyimpanan bahan bakar mobil bocor menyebabkan bensin meleber kemana-mana. Mata Damian terbelalak saat dibagian depan mobil adanya percikan api akibat kabel yang konslet. "Siala!" Damian memekik ketika melihat aliran bensin sebentar lagi mencapai percikan api, jika itu terjadi maka mobil akan meledak. Damian terlihat sibuk mencari batu hingga ia menemukan batu sekepalan tangan, Damian mulai memukul kaca mobil bahkan sudah tidak mempedulikan tangannya yang berdarah akibat benturan. "Setidaknya kau harus di kubur dengan layak jika kau memang sudah tiada," Lagi-lagi Damian hanya bergumam lirih dengan tangan terus berusaha memecahkan kaca meski gerakan tangan itu mulai melambat karena lelah. Saat Damian mulai putus asa tiba-tiba sekali pukulan lagi kaca pintu mobilpun pecah, Damian dengan cepat melepas sabuk pengaman di tubuh Leona lalu menarik Leona keluar dari jendela pintu mobil, agak sedikit kesusahan memang saat Damian menarik tubuh Leona keluar dari dalam mobil namun untungnya berhasil, bergegas Damian mendekap tubuh Leona berlari sejauh yang dia bisa hingga akhirnya Buuummm!.... suara ledakan mobil dan serpihan kaca serta badan mobil berserakan jauh terpental akibat ledakan, serpihan kaca bahkan mengenai bagian pelipis milik Damian. Damian dengan segera memeriksa keadaan wanita yang ada dalam dekapannya itu dan alangkah terkejutnya Damian begitu ia memeriksa tubuh sang wanita, Damian terkejut mata sekelam malamnya langsung mendapati sosok gadis cantik yang selama ini dicarinya. "Dia adalah gadis itu." Ucap Damian meski wajah gadis itu terlihat pucat, kepalanya bahkan masih mengeluarkan darah segar tapi Damian tahu gadis yang ada di dalam dekapannya inilah yang selama ini dia cari. Damian tak merasakan tanda-tanda bernafas dari Leona, bergegas Damian memeriksa denyut nadi Leona dan terkejut mendapati denyut nadi dan jantung gadis itu masih berdetak meski terasa lemah dan pelan. Tanpa ragu Damian langsung memberikan nafas buatan pada gadis berambut hitam pekat itu "Kau harus membuka mata mu dan bernafaslah karena aku telah merelakan ciuman pertama ku untuk mu." ucap Damian berharap sembari menekan d**a Leona setelah memberikan gadis itu nafas buatan. Tiga kali Damian berusaha memberikan nafas buatan dan akhirnya gadis berambut hitam pekat itu mulai bernafas meski nafas itu terasa lemah dan tak stabil. "Syukurlah!" Damian bergumam lega sembari membopong tubuh Leona menuju kearah mobilnya yang terparkir lumayan jauh dari tempatnya berada sekarang dan untuk pertama kalinya dalam hidup Damian melewatkan keindahan hujan meteor demi menolong nyawa seorang wanita. Damian mengemudikan mobilnya dengan sangat kencang membelah jalanan yang sepih, Damian terfokus pada telpon yang kini telah tersambung. Tak butuh deringan ketiga suara seseorang terdengar menjawab panggilan telpon itu. "Ada apa Damian? Aku sedang berusaha untuk tertidur tapi kau justru mengganggu usahaku itu," ucap seseorang dari seberang dengan nada berat dan serak. "Louis, datang ke rumah ku sekarang juga, tunggu aku disana. Dan jangan lupa bawa serta peralatan medis mu," ucap Damian menyerobot memberi perintah. Mata lelaki berkulit pucat bernama Louis itu langsung terbelalak, kantuk berat yang dirasakanya tadi kini hilang entah kemana matanya yang nyaris terpejam langsung melotot sempurna "Apa kau menabrak seseorang, Damian?" tanya Louis memberi tuduhan sepihaknya. "Enak saja! Sudah berhenti bertanya, intinya datang ke rumah ku. Nanti akan aku jelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada mu. Dan ku rasa wanita ini banyak kehilangan darah, kau harus membawa serta juga stok darah A, B, O, dan AB yang kau punya. aku tak mengetahui golongan darah wanita ini, kondisinya saat ini sangat kritis," jelas Damian merincikan kondisi Leona saat itu. "Kau menabrak seorang wanita?" gumam Louis panik masih memberi tuduhan sepihaknya. "Berhentilah berasumsi Louis! Sudah ku katakan aku akan jelaskan semua nanti," Serobot Damian sembari mengakhiri panggilan telponnya karena ia harus fokus menyetir. *** Di kediaman Scotte, Louis yang telah menunggu kepulangan Damian langsung terbelalak kaget begitu melihat Damian memasuki rumah sambil menggendong seorang gadis menuju kamarnya dengan terburu. "Apa yang sebenarnya terjadi, anak siapa yang kau tabrak ini?" tanya Louis sembari mengekor mengikuti langkah Damian. "Tidak bisakah kau berhenti bertanya, Louis!" balas Damian "Buka pintunya!" ucap Damian memberi perintah pada Louis begitu ia tiba di depan pintu kamarnya. Louis dengan terburu membuka pintu membiarkan Damian masuk terlebih dahulu lalu kembali menutup pintu dan menghampiri Damian yang kini tengah meletakan gadis berlumuran darah itu di atas tempat tidur. Louis langsung duduk di bibir tempat tidur meraih pergelangan tangan Leona dan memeriksa denyut nadi gadis itu. "Keadaanya sangat kritis," ucap Louis dengan tangan yang cepat mengambil beberapa botol berisi cairan obat kemudian menyuntikannya kearah lengan Leona, Louis kemudian beranjak memasangkan cairan infus pada pergelangan tangan Leona. Tangan Louis mengambil cairan darah Leona dengan alat suntik yang dipegangnya, setelah dirasa cukup ia lalu menyerahkan alat suntik itu pada Damian "Kau mengetahui cara mengetes golongan darahkan?" tanya Louis, Damian pun mengangguk untuk menjawab "Ada alat dalam tas ku, gunakan itu agar kita tahu golongan darah gadis ini, dia banyak kehilangan darah, jadi kita harus cepat bertindak." Damian meraih sampel darah Leona yang ada dialat suntikan itu menguji darah itu dengan alat yang dijelaskan oleh Louis sampai hasil golongan daranya keluar "AB!" ucap Damian sedikit berteriak. Louis melangkah meraih tas hitam yang ada di sampinya kemudian mengeluarkan kantong darah bertuliskan AB, tangan Louis dengan cekatan memasang selang darah itu pada lengan kanan milik Leona. Louis kini beralih kearah kepala Leona, ia membersihkan darah itu kemudian menjaitnya dengan sangat telitih dan rapih. "Syukurlah kita tak perlu mengoperasinya," gumam Louis bernafas lega "Tapi kita tetap harus meronsen kepalanya agar kita mengetahui ada atau tidaknya bagian dalam otak yang rusak," Jelas Louis "Bawa dia ke rumah sakit besok," lanjutnya. "Tidak, lakukan saja ronsen otak di rumah, aku akan menyiapkan alat-alatnya sebutkan saja apa yang kau butuhkan maka aku akan menyiapkanya." Louis mendelik tak suka, Damian memang selalu seperti itu, menganggap enteng semua masalah hanya karena dia memiliki banyak uang. "Baiklah jika itu mau mu, tapi lebih baik dia kita bawa ke rumah sakit," ucap Louis kembali "Dia nyaris saja jadi korban pembunuhan, Louis. Jika kita membawanya ke rumah sakit aku takut pembunuhnya akan tahu dan akan berusaha membunuhnya kembali," Perkataan Damian sukse membuat Louis terbelalak kaget dengan mulut menganga dan mata melotot. Bersambung!..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN