Louis menatap nanar tubuh gadis berambut hitam legam yang ada diatas tempat tidur milik Damian itu, sementara empunya kamar telah pergi entah kemana.
"Kau nyaris mati dalam keadaan tragis, entah siapa yang mencoba membunuh mu, dia sangat keterlaluan." gumam Louis merasa iba melihat kondisi Leona terbaring tak berdaya masih dalam keadaan tak sadarkan diri dan kritis.
"Kebenaran akan terungkap jika kau bangun, jadi ku mohon sadar dan sembuhlah. Aku tak ingin iblis hitam bermata gelap itu membunuh ku," lagi-lagi Louis bergumam resah.
Satu jam yang lalu sebelum Damian melangkah keluar kamar, dia sempat berkata dengan intonasi penuh ancaman pada Louis "Selamatkan gadis itu, Louis! Jika dia kenapa-kenapa maka aku akan menutup rumah sakit mu dan melempar mu jauh ke planet pluto," Louis bergedik ngeri ketika kembali mengingat ucapan dari suara berat Damian yang dingin. Jika Damian sudah mengancam maka itu bukan hanya akan menjadi gertakan saja tapi itu benar-benar akan dilakukan lelaki bernama Damian Scotte itu.
Louis melangkah duduk di pinggir tempat tidur, matanya terfokus mengamati wajah ayu Leona, meski pucat kecantikan Leona tetap terpancar sangat jelas "Kau sangat cantik," gumam Louis meraih tangan Leona dan menggenggamnya erat "Ku mohon sadarlah dan selamatkan aku dari amukan Iblis hitam bernama Damian itu, karirku dan rumah sakitku di pertaruhkan disini." pinta Louis penuh harap dalam keputus asaanya jika kembali mengingat ancaman dari Damian.
Damian membuka pintu kamar, mata hitamnya langsung melotot tak suka begitu mendapati Louis menggenggam tangan Leoma erat. Damian melangkah masuk menghampiri Louis lalu memukul tangan Louis dengan begitu kerasnya hingga Louis meringis kesakitan "Sakit Damian!" pekik Louis kesal.
Damian menunjuk tangan Louis yang masih menggenggam erat tangan Leona "Lepaskan tangan itu!" perintah Damian membuat Louis spontan melepas tangan gadis berambut hitam legam itu.
"Kau mau mencari kesempatan dalam kesempitan yah?!" tuduh Damian membuat Louis langsung gelagapan.
"Enak saja!" protes Louis dengan wajah memerah "Aku hanya berusaha membuatnya sadar dengan berdo'a." lanjut Louis membela diri.
"Dengan cara memegang tangannya?" Sambar Damian membuat Louis langsung diam seribu bahasa.
"Jangan sembarangan menyentuh gadis ini, Louis. Karena dia akan menjadi istri ku." ucapan Damian membuat Louis terkejut bukan main.
"APA?! Kenapa gadis ini tiba-tiba menjadi istrimu, kapan kau menikahinya?" tanya Louis masih berusaha menahan rasa kagetnya.
Damian menatap wajah Loena lalu berkata "Aku telah menyelamatkan nyawanya, dan imbalan atas itu gadis ini harus menjadi istriku."
"Apa kau mencintainya?" balas Louis yang langsung memicu galak tawa milik Damian.
"Jangan gila kau, Louis. Aku mencintai gadis ini?" menunjuk kearah Leona "Mana mungkin, gadis ini bukan type ku!"
"Lalu kenapa kau mau menjadikannya istri mu?" tanya Louis masih penasaran.
Damian mendesah berat "Kau tau sendiri, Ayahku selalu ingin menjodohkan ku dengan Lilia putri temannya. Dan kau tahu, kemarin aku menolak permintaan Ayah, aku mengatakan pada Ayah kalau aku sudah menikah secara diam-diam." jelas Damian memberi jeda pada kalimatnya "Dan mungkin satu atau dua minggu lagi Ayahku akan kembali ke Negara ini, dia ingin bertemu dengan istriku. Tadinya aku telah menyewa seorang gadis yang akan berpura-pura menjadi istriku selama Ayahku di sini, tapi sekarang aku membatalkan itu karena aku telah memiliki gadis ini." ucap Damian menunjuk kearah Leona
"Kenapa kau harus berbohong pada Tuan Scotte?" tanya Louis "Bagaimana jika Tuan Scotte mengetahui yang sebenarnya maka habislah kita." Louis bergedik ngeri ia perna sekali melihat Ayah dari Damian itu marah besar dan sampai sekarang ia menjadi trauma, Tuan Smith Scotte memang lelaki yang keras, kejam dan berdarah dingin dia tak pandang bulu jika sedang marah, lelaki paruh baya itu sangat membenci kebohongan, namun sekarang anaknya justru malah ingin membohonginya.
"Lalu bagaimana jika gadis ini menolak menikah dengan mu?" tanya Louis mengambil kemungkinan terburuknya.
"Dia harus menikah dengan ku, Louis. Bagaimanapun caranya, jika tidak aku akan mematahkan kedua kakinya agar dia tidak dapat lari dariku," jawab Damian membuat Louis langsung bergedik ngeri "Anak dan Ayah sama saja," gumam Louis mengacuh pada Damian dan Tuan Smith Scotte.
Damian menatap Leona lalu menatap layar ponselnya dengan latar belakang seorang gadis tengah tergantung di pohon "Bertahun-tahun aku mencari gadis ini, setelah ketemu seperti ini mana mungkin aku akan melepaskannya." Damian membatin seraya mengamati Leona dan gadis dalam foto yang ada di layar ponselnya, wajah Leona sangat mirip dengan gadis yang ada dalam foto yang dijadikan wallpaper ponsel Damian.
***
3 hari kemudian, Pagi menjelang Leona menggeliat di balik selimut, berlahan gadis itu membuka matanya sesekali Leona menyerengit begitu rasa nyeri di kepalanya dan sakit di sekujur tubuhnya menyerangnya.
"Kau sudah sadar?!" serobot Louis setalah Leona sepenuhnya sadar dan membuka matanya.
Leona terkejut, dia langsung bangkit dari tempat tidur dalam posisi terduduk, samar-samar Leona mengingat kejadian yang menimpanya, Leona bahkan masih mengingat bagaimana ia berteriak minta tolong di tengah jalan namun tak ada yang menolongnya sebelum ia kehilangan kesadarannya. Leona bahkan masih merasakan dengan jelas bagaimana sakit kepalanya saat dihantam batu oleh Ken, lalu sekarang saat dia membuka mata gadis itu langsung bingung mendapati tubuhnya berada disebuah kamar yang tak dikenalnya, itu jelas bukanlah surga atau neraka tempat yang akan dituju oleh manusia yang sudah meninggal dunia.
Damian dan Louis menghampiri Leona yang masih terduduk dengan wajah bingung.
"Wah! matanya indah sekali." seru Louis spontan membuat Leona langsung menatapnya tajam, mata berwarna coklat jerni yang bulat milik Leona memang sangat indah, siapapun yang menatap mata itu akan merasa damai oleh sorot matanya yang tenang dan meneduhkan.
"Apa yang terjadi? Dimana aku? Dan siapa kalian?" tanya Leona.
Damian mendudukan tubuhnya di samping Leona lalu berlahan dia menceritakan segalanya pada gadis itu, dia menceritakan bagaimana ia menolong Leona dan membawa gadis itu ke dalam kamarnya.
Leona menggenggam seprai dengan sangat erat, benci dan marah menjalar diseluruh tubuhnya "Ken! Jessi! Aku tak akan mengampuni kalian." gumam Leona.
"Sekarang giliran kau, siapa kau sebenarnya dan kenapa mereka bisa berusaha untuk membunuhmu?" Tanya Damian penasaran.
Sebelum mulai menceritakan kisahnya lebih dulu Leona membungkukan badanya lalu berkata "Sebelumnya terimakasih karena telah menyelamatkan ku, Tuan. Nama ku Leona, Leona Lusshi Lubbis."
"Nama yang indah!" ucap Louis keceplosan membuat Damian langsung menyikutnya.
Leona tersenyum kearah Louis yang meringis kesakitan akibat ulah Damian.
"Apa yang berusaha membunuhku adalah seorang gadis berambut ikal dan seorang lelaki?" tanya Leona kearah Damian.
Damian pun mengangguk membenarkan, lalu secara berlahan Leona mulai menceritakan semuanya pada Damian dan Louis tentang apa yang terjadi padanya, dari mulai awal mula perselingkuhan Ken dan Jessi, hingga Leona harus kehilangan bayinya sampai dengan Leona meminta bercerai dan memperbaharui surat wasiatnya tapi sayang ia sudah lebih dahulu di hadang Ken dan Jessi sebelum ia sempat menandatangani surat wasiat yang baru.
"Sialan mereka!" umpat Louis memukul tembok yang ada di sampingnya, mendengar cerita Leona membuatnya sakit hati dan kesal begitu juga dengan Damian namun lelaki bermarga Scotte itu masih dapat mengontrol emosinya tidak seperti Louis.
"Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Damian.
"Balas dendam!" sambar Leona.
"Caranya?" timpal Louis membuat Leona langsung tertunduk bingung.
"Aku bisa membantu mu membalas dendam," ucap Damian membuat Leona langsung menatapnya "Dengan satu syarat," lanjut Damian memberi penawaran.
Leona meraih tangan Damian cepat, membuat empuhnya tangan langsung bersemu malu "Apapun itu akan ku penuhi, bahkan meski harus menggadai jiwaku pada iblis sekalipun," ucap Leona yang langsung disambut galak tawa milik Louis.
"Dari mana dia tahu bahwa julukan untuk Damian adalah iblis hitam tak berperasaan," gumam Louis membuat Damian langsung menatap tajam kearahnya.
"Besok aku akan menjelaskan syarat dari ku, untuk sekarang kau istirahat saja dulu, pulihkan dulu dirimu dan kembalikan kekuatan mu." ucap Damian kemudian berlalu pergi menyeret Louis bersamannya meninggalkan Leona dalam kamar untuk istirahat.
Leona melihat telpon di atas nakas, ia meraih telpon itu kemudian memasukan nomor Tuan Lim lalu mengarahkan ganggang telpon ke telinganya saat telpon tersambung.
"Hallo?" Ucap Tuan Lim menjawab panggilan telpon.
"Tuan Lim ini aku, Leona."
"NYONYA LEONA?!" Pekik Tuan Lim sedikit kaget, bagaimana mungkin wanita yang dikabarkan meninggal dalam kecelakaan tiga hari lalu menelponnya.
Bersambung!..