Tuan Lim tampak sedikit linglung, ia menatap kanan kiri dengan celingak celinguk takut teriakannya tadi yang menyebut nama Leona terdengar oleh orang lain, syukurlah saat itu suasana sedang sepi.
Tuan Lim kini melangkah menghampiri mobilnya yang terparki di parkiran pengadilan, lalu memasuki mobil dengan terburu agar ia dapat berbicara dengan aman.
"Benarkah ini anda Nyonya Leona?" Tanya Tuan Lim.
"Benar Tuan Lim ini aku, aku berhasil selamat berkat bantuan seseorang." Jawab Leona.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Tuan Lim lalu Leona mulai menceritakan semua yang terjadi padanya.
"Dan yang menggelapkan dana perusahaan adalah Ken juga, aku ingin membawa bukti dan menunjukannya padamu tapi sayangnya Ken dan Jessi mencegatku di perjalanan saat ingin bertemu anda, dan sekarang mereka memanipulasi kematianku padahal itu semua ulah mereka berdua." Jelas Leona membuat Tuan Lim langsung mengerti kenapa dalam 3 hari ini Ken selalu mendesaknya untuk segera mengurus penyerahan harta waris dan pengalihan nama hak kepemilikan saham perusahan dan semua properti yang ada.
"Untuk saat ini anda harus menghindari Ken, jangan menyerahkan harta warisanku padanya dan jangan mengalihkan kepemilikan perusahaan dan harta lainnya untuk Ken." Ucap Leona.
"Maaf Nyonya semua sudah terlambat, aku baru dari pengadilan dan kantor Notaris bersama Tuan Ken untuk proses pengalihan hak atas semua harta anda."
Blusss!... Tubuh Leona seketika langsung lemas, ia tertawa getir meratapi nasibnya.
"Kenapa anda tidak menelponku dari kemarin? Jika anda menghubungi ku, aku bisa mencegah semuanya terjadi." Ucap Tuan Lim.
"Aku baru tersadar dari komaku hari ini Tuan Lim." Jawab Leona dengan nada lemas.
"Maafkan aku Nyonya, tapi semua sudah terlambat seluruh harta anda telah mutlak menjadi milik Tuan Ken hari ini." Ucap Tuan Lim dengan nada sangat menyesal.
"Baiklah Tuan Lim, aku akan memikirkan cara lain untuk merebut semuanya lagi, untuk sekarang bisakah anda merahasiakan tentang aku yang masih hidup?"
"Baiklah Nyonya anda tak perlu khawatir akan hal itu." Jawab Tuan Lim dan telponpun berakhir.
Sementara itu di kediaman Lubbis yaitu rumah mewah milik Leona, kini Ken dan Jessi terlihat sedang merayakan kesuksesan mereka.
"Seharusnya kita melenyapkan wanita bodoh itu dari dulu." Ucap Jessi seraya tertawa lepas, Bi Nindi dan Pak Anton yang melihat kegembiraan Jessi dan Ken hanya menggeleng melihat tingkah laku kedua orang itu, sebelum Bi Nindi dan Pak Anton pergi meninggalkan area ruang tamu.
Jessi menyerengit melihat Ken yang nampak gelisah, ia yang saat itu berdiri sembari memegang gelas wine di tangannya segera mendekati Ken lalu duduk di atas pangkuan Ken.
"Apa yang membuat wajahmu begitu murung, Sayang? Apa kau mulai merindukan mendiang istrimu?" Tanya Jessi nadanya terdengar ketus.
"Bukan seperti itu Jessi, hanya saja aku berpikir bahwa Leona belum meninggal mengingat tidak ada tanda jasadnya di temukan di area mobil." Jawab Ken.
"Yeah wajar saja jasadnya tak ditemukan mengingat betapa hebat ledakan yang terjadi pada mobil itu, aku yakin jasadnya sudah hangus terbakar." Balas Jessi.
"Tapi tidak mungkin sampai tidak menyisahkan tulang belulang, Jessi. Tim forensik juga sudah mengambil abu-abu yang ada di lokasi kejadian tapi tak ditemukan DNA manusia di abu itu, kalau memang jasad Leona hangus terbakar seharusnya pasti di temukan zat atau tanda-tanda DNA manusia pada abu itu tapi nyatanya tim forensik tidak menemukannya." Jelas Ken membuat Jessi yang awalnya tidak mau ambil pusing jadi kepikiran.
"Aku takut Leona masih hidup, dan bagaimana jika dia kembali lalu menjebloskan kita ke penjara karena kasus percobaan pembunuhan?"
"Leona tidak akan melakukan itu, karena dia tidak memiliki bukti." Jawab Jessi lalu terdiam seperti memikirkan sesuatu sebelum akhirnya ia tersenyum karena mendapatkan sebuah ide "Kalau begitu kita hanya perlu membuat Leona tidak bisa kembali." Ucap Jessi.
"Caranya?" Tanya Ken.
"Lakukan konpersipers buat pernyataan bahwa Leona mati bukan karena kecelakaan tapi karena bunuh diri agar kau dapat mengklaim uang asuransi untuk menyelamatkan perusahaan." Jelas Jessi "Bukankah minggu depan uang asuransi jiwa milik Leona akan cair sekitar 15 milyar, kita dapat membuat berita bahwa Leona melakukan tindakan bunuh diri untuk klaim asuransi untuk memberikan suntikan dana pada perusahaannya yang nyaris bangkrut, dengan begitu meski ingin kembali Leona tidak akan bisa karena jika ia kembali maka ia akan dianggap melakukan penipuan pada dana asuransi jiwanya dan dia dapat di tuntut oleh pihak asuransi dengan begitu pilihan Leona hanya ada dua yaitu tetap menghilang layaknya orang mati atau kembali namun terancam masuk penjara, selain itu jika dia kembali dia akan merusak citra perusahaanya, dia akan dianggap sebagai penipu dan aku yakin tidak akan ada relasi bisnis yang mau bekerja sama denganya lagi." Ken menganggukan kepalanya pertanda dia setuju akan usulan yang diberikan Jessi, usulan itu terdengar masuk akal.
****
Leoan melangkah keluar dari kamarnya, ia bergerak menuju ruangan keluarga di sana, ia mendapati Damian dan Louis terduduk sembari menonton TV. Leona berhenti sejenak menatap kearah TV begitu sosok Ken muncul di layar TV itu.
"Wajah lelaki itu nampak tak asing, tapi dimana aku melihatnya?" Ucap Damian seraya menatap Ken.
"Terimakasih telah hadir di acara konferensipers yang ku adakan." Ucap Ken memulai aktingnya, silau dari falsh kamera wartawan menyinarinya.
"Disini aku ingin mengatakan bahwa kematian istriku yaitu Leona Lusshi Lubbis bukan karena kecelakaan melainkan karena bunuh diri." Ucap Ken membuat Leona tersentak kaget begitu juga dengan Damian.
"Aah pantas wajahnya tak asing, lelaki ini yang ingin membunuh Leona saat itu." Gumam Damian lalu berdecit "Dia pandai berakting."
"Istriku memiliki asuransi jiwa sebesar 15 milyar, seminggu sebelum kematiannya istriku sedang pusing memikirkan masalah dana perusahaan yang kurang, terlebih akhir-akhir ini banyak konsumen yang memberikan penilaian buruk terhadap produk kami membuat nilai jual produk kami menjadi menurun, jadi perusahaan kami mengalami krisis dana, sehari sebelum istriku meninggal dia mengatakan padaku agar aku mengolah perusahaan dengan baik untuk suntikan dana perusahaan dia akan mengusahakannya. Aku tidak menyangka bahwa maksud istriku mengusahakan dana perusahaan adalah dengan cara dia membunuh diri agar aku dapat mengklaim dana asuransi jiwanya." Tangisan Ken pun pecah, wartawan segera menyerbunya dengan banyaknya pertanyaan. Damian yang kesal melihat Ken langsung meraih remot TV dan mematikan TVnya.
Damian terkejut saat ia menoleh kebelakang ada Leona berdiri mematung dengan wajah terkejutnya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Damia seraya beranjak dari duduknya menghampiri Leona lalu menuntun Leona menuju sofa dan mendudukan tubuh Leona diatas sofa.
"Nampaknya suamimu tahu bahwa kau masih hidup, oleh karena itu ia membuat pernyataan bahwa kau mengakhiri hidup demi mengklaim uang asuransi jiwamu. Jadi jika kau kembali maka kau bisa di tuntut oleh pihak asuransi atas kasus penipuan karena berusaha menipu." Ucap Damian membuat Leona terdiam tak dapat berbuat apapun.
"Jika kau ingin balas dendam aku akan membantumu, tapi jadilah istriku maka aku akan membuatkanmu identitas baru." Usul Damian.
Bersambung!...