Malam setelah dirinya menyanggupi lamaran Dhaffi, Senna tak bisa tidur. Ia berbaring di ranjang apartemennya, memandangi langit-langit sembari memutar ulang setiap detik saat ia mengangguk menerima lamaran itu. Pelukan Dhaffi masih terasa hangat di tubuhnya, dan kata-kata lelaki itu masih terngiang jelas di telinganya: "Besok saya akan bicara ke mama dan papa untuk segera ke rumah kamu." Bahkan untuk menjalin hubungan dengan Dhaffi saja, sampai saat ini Senna masih tidak percaya. Seseorang yang dulu meremehkan penampilannya, sang atasan yang terkenal angkuh namun banyak digemari oleh pegawai wanita. Jatuh cinta kepada dirinya? Gadis desa yang bahkan tidak memiliki gelar sarjana. Ting! Ponsel Senna berdenting, membuat gadis itu teralihkan lamunannya. Dhaffi: Saya sudah sampai di rumah.

