47. Kelemahan Senna

1256 Kata

Langit pagi Jakarta belum terlalu terang ketika mobil hitam milik Dhaffi berhenti perlahan di dekat halte sebelum kantor pusat perusahaan. Senna mengenakan blouse biru muda dan celana bahan berwarna krem, dengan tas kerja di pangkuannya. Wajahnya terlihat gelisah, sementara di kursi kemudi, Dhaffi melirik jam tangan sebelum menoleh ke arah calon istrinya. “Yakin mau turun di sini?” tanyanya, pelan. “Kita kan bisa langsung bareng masuk.” Senna menggeleng cepat. “Enggak, Mas. Nanti orang-orang mikirnya aneh. Lagian kita belum bilang ke siapa-siapa soal lamaran.” Dhaffi hanya menghela napas. Dia sudah menduga ini akan jadi kebiasaan baru: menyembunyikan sesuatu yang sebenarnya paling ingin ia pamerkan. “Ya udah. Tapi langsung kabarin kalau ada yang bikin kamu gak nyaman, ya? Saya enggak m

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN