Pagi itu, Senna tiba lebih awal dari biasanya. Ia memilih duduk diam di meja kerjanya dengan headset terpasang, padahal tidak ada musik yang benar-benar ia dengarkan. Ia hanya ingin diam… di dunia kecilnya sendiri. Tapi tetap saja, bisik-bisik itu menembus bahkan telinga yang tertutup. “Katanya sih... udah resmi pacaran sama Pak Dhaffi.” “Serius? Gue pikir dia babysitter-nya Kenzie, lho…” “Pantesan... sering ke ruangan Pak Dhaffi ya.” “Orangnya sih dari desa gitu, ya. Bener-bener hoki banget bisa dapet posisi spesial.” Senna menunduk lebih dalam. Bukan karena malu, tapi karena lelah. Hatinya seperti tertusuk pelan-pelan—tidak cukup kuat untuk membuatnya runtuh, tapi cukup tajam untuk membuatnya nyeri sepanjang hari. Saat jam makan siang, pantry kantor yang biasanya ramai terasa lebi

