Bab 1. Hilangnya Jean
Suara ponsel memecah ketenangan di ruang rapat siang itu. Seluruh direksi segera menoleh ke sumber suara. Di sanalah, ponsel hitam milik Mavendra Daneswara, CEO muda yang terkenal tegas dan perfeksionis terus bergetar.
Nama “Mami” berkedip di layar, tapi ia tidak bergeming. Meeting dengan investor asing ini tidak boleh terganggu, pikirnya.
Namun, panggilan itu tak berhenti. Sekali, dua kali sampai tiga kali. Nada dering yang biasanya terdengar biasa kini terasa mengusik kesabarannya.
Dengan rahang mengeras, Maven meraih ponsel itu dan menekan tombol hijau.
“Kenapa, Mi? Aku lagi meeting.”
Nada suaranya datar, berwibawa, seperti biasa, hingga suara di seberang membuat detak jantungnya nyaris berhenti.
“V-ven, Jean hilang, Nak. Jean nggak ada di rumah!”
Suara ibunya bergetar, diiringi isakan yang pecah di akhir kalimat.
Seluruh ruangan sontak terasa hening. Maven mematung, otaknya seolah berhenti memproses kata-kata itu.
Jean … hilang? Putra semata wayangnya hilang? Bagaimana bisa itu terjadi?
“Mi, maksud Mami apa? Jean ke mana?”
Suara Mahendra naik satu oktaf, tak lagi stabil.
“Bibi tadi jemput dari playgroup, katanya Jean mau main di halaman. Tapi waktu mau makan siang, dia nggak ada! Sudah dicari ke mana-mana, Ven. Nggak ketemu!”
Darah Maven seketika naik ke kepala. Ia berdiri, kursinya terjatuh dengan suara keras. Semua mata menatapnya kaget saat ia melepas dasinya dan mengambil jas.
“Oke. Aku pulang sekarang.”
“Maven, meetingnya?!”
Suara salah satu direksi terputus saat Maven sudah keluar dari ruangan.
Sekretarisnya, Keynan, bergegas menyusul.
“Pak! Ada apa?” serunya panik.
“Jean hilang dari rumah.”
Keynan membeku, hilang?
“Saya, saya bantu, Pak!”
“Selesaikan meeting. Lalu, siapkan semua orang untuk membantu mencari. Saya mau setiap CCTV di sekitar komplek diperiksa!”
"Siap, saya mengerti, Pak."
Maven berjalan cepat menuju parkiran bawah tanah, wajahnya merah padam. Ia tak menunggu sopir membuka pintu, malah merebut kunci dari tangannya.
“Biar saya sendiri. Minggir!"
Suara mesin mobil terdengar keras saat ia melaju keluar dari gedung kantor, menembus kemacetan siang Jakarta. Langit mendung menggantung, seakan ikut menyesakkan dadanya.
Tangannya menggenggam setir begitu kuat sampai buku jarinya memutih.
“Jean, kenapa kamu bisa hilang?” gumamnya, suaranya parau.
Ia tahu anaknya itu tak banyak bicara, lebih suka menggambar dan bermain mobil-mobilan di ruang tamu. Jean jarang rewel, jarang menuntut apa pun. Anak itu, yang menjadi satu-satunya alasan ia masih bisa bernapas sejak Karin istrinya, meninggal tiga tahun lalu.
Maven menekan pedal gas lebih dalam. Setiap detik terasa menyiksa. Bayangan terburuk berkecamuk di kepalanya, kecelakaan, penculikan, atau anaknya tersesat di jalan besar dan ....
Lagi, Marven meninju kemudi dengan penuh emosi.
Begitu mobil berhenti di depan gerbang rumah, ia langsung menendang pintu pagar yang setengah terbuka.
“Jean!”
Suaranya menggema. Para penjaga rumah berlari keluar, wajah pucat dan panik.
“T-tuan, kami sedang mencari di belakang rumah, tapi ....”
“Mana pengasuhnya?!” bentaknya.
Seorang wanita berusia tiga puluhan maju dengan wajah ketakutan.
“Maaf, Tuan. Tadi saya menunggu Jean di depan playgroup. Dia bilang mau menunjukkan sesuatu di taman dekat rumah. Saya cuma sebentar menengok tasnya yang tertinggal di mobil, dan waktu kembali, dia sudah tidak ada, Tuan."
Maven menarik napas panjang. Menatap dengan tatapan penuh intimidasi dan tanpa kompromi.
“Kamu meninggalkan anak tiga tahun sendirian di luar pagar?!”
Suara Maven menggema, membuat semua orang terdiam. Air matanya nyaris jatuh, tapi ia tahan dengan rahang terkatup.
“Kamu tahu apa yang bisa terjadi di luar sana?! Jalan besar cuma sepuluh meter dari taman itu!” teriak Marven membuat seluruh ruangan terasa seperti di neraka.
"Tuan ... maafkan saya. Maafkan saya."
“Keluar!"
"Tidak, Tuan. Saya butuh pekerjaan ini, maafkan saya. Saya akan bantu mencarinya, Tuan."
"Kamu dipecat sekarang juga!”
Pengasuh itu menangis, tapi tak berani membantah. Ia tahu, bosnya tidak pernah menarik ucapannya dua kali.
Maven berbalik, melangkah cepat keluar pagar.
“Buka semua CCTV komplek! Suruh satpam blokir setiap pintu keluar! Saya akan cari sendiri!”
Langit makin gelap. Rintik hujan pertama jatuh, membasahi rambutnya, tapi ia tidak peduli.
“Jean! Kamu di mana, Nak?!”
Ia berlari melewati jalan setapak, matanya menelusuri setiap sudut taman kecil di dalam kompleks perumahan elit itu.
“Jean! Ini Papa!”
Tidak ada jawaban, hanya suara gemericik air dan tiupan angin.
Ia terus mencari, napasnya tersengal, jas kerjanya basah kuyup. Hingga di tikungan taman belakang, sesuatu membuat langkahnya berhenti.
Suara tawa. Suara tawa kecil yang begitu familiar.
Ia mematung. Tawa itu, tawa milik Jean.
Maven berbalik cepat, matanya menyapu sekeliling taman.
Di bawah pohon flamboyan besar, di bangku kayu berwarna hijau, terlihat sosok kecil duduk sambil memegang balon biru. Di sampingnya, seorang gadis muda tengah tertawa bersama Jean.
Hujan turun makin deras, tapi keduanya tampak tidak peduli. Jean menatap gadis itu sambil bercerita dengan tangan kecilnya yang sibuk menggerak-gerakkan balon.
Langkah Maven melambat. Untuk pertama kalinya sejak Karin meninggal, ia melihat anaknya bisa tertawa selepas itu.
Gadis itu mengenakan kemeja putih polos dan rok krem yang sederhana. Rambutnya panjang terurai, sebagian menempel di pipi karena hujan. Tapi di balik kesederhanaan itu, ada sesuatu, sesuatu yang membuat d**a Maven terasa hangat sekaligus bergetar aneh.
Ia tidak tahu siapa gadis itu, tapi ada ketenangan di sana. Senyum yang tidak dibuat-buat. Tatapan yang lembut.
Jean memanggilnya dengan riang, “Papa!”
Suara kecil itu menghentakkan seluruh pikirannya. Maven menatap anaknya, lalu berlari mendekat. Ia langsung meraih Jean ke dalam pelukannya, memeriksa tubuh mungil itu dari kepala hingga kaki.
“Ya Tuhan, kamu ke mana aja, Nak? Papa hampir gila nyariin kamu!”
Jean hanya terkekeh kecil, menunjuk ke arah gadis di sampingnya.
“Jean ketemu Kakak. Kakak beliin balon. Kakak baik, Pa.”
Maven menoleh. Gadis itu berdiri kikuk, memeluk tas kecil di d**a.
"Saya minta maaf, Tuan. Saya hanya menemukan anak ini sendirian di depan taman. Dia terlihat kebingungan, jadi saya temani sampai hujan reda.”
Maven terdiam beberapa detik, menatap gadis itu dari ujung kepala sampai kaki. Hujan menetes di wajahnya. Namun, suaranya tetap dingin, terukur.
"Terima kasih sudah menemani anak saya. Tapi seharusnya kamu lapor ke satpam, bukan duduk di sini.”
Gadis itu menunduk.
“Sss--- saya minta maaf. Saya hanya tidak ingin dia ketakutan sendirian.”
Ada ketulusan di matanya. Sesuatu yang membuat Maven tidak jadi memarahi lebih jauh.
Ia menghela napas panjang, menatap Jean yang masih tersenyum di pelukannya.
“Pulang, ya. Nanti kamu masuk angin.”
Jean mengangguk. Namun, sebelum berbalik, anak kecil itu menatap gadis itu lagi dan melambaikan tangan.
“Dadah, Kak!”
Gadis itu tersenyum, melambai pelan. Ketika Maven menggendong Jean dan berjalan pergi, ia sempat menoleh ke belakang sekali. Gadis itu masih berdiri di sana, membiarkan hujan membasahi pundaknya, seolah tak ingin beranjak dari tempat itu.
Dan entah kenapa, langkah Maven terasa berat saat menjauh. Siapa gadis itu sebenarnya? Kenapa bisa ada di sini?