"Jadilah istri sekaligus pengasuh untuk anakku!"
"Hah?"
Kata-kata itu jatuh di udara, menampar kesunyian ruang kerja yang dingin. Suara detik jam dinding pun terdengar jelas, seolah menegaskan betapa absurditas kalimat itu baru saja meluncur dari bibir seorang pria bernama Maven, pemimpin perusahaan yang terkenal kejam dan tak mengenal kata “tidak”.
Alesha menatapnya dengan mata melebar. Jantungnya berdegup cepat, antara tak percaya dan takut.
“A–apa maksud Tuan?” Suaranya bergetar.
“Istri … sekaligus pengasuh?” tanyanya antara takut dan bingung.
Maven menatapnya tanpa berkedip. Tatapan itu tajam, seperti sedang menembus pikirannya.
“Ya. Saya kira cukup jelas.” Suaranya tenang, tapi dingin seperti baja.
“Kontrak kerja yang saya tawarkan tidak akan kamu temukan di tempat lain.”
Alesha menelan ludah. Tangannya yang bergetar menatap berkas di atas meja. Kata kontrak pernikahan sementara di halaman pertama membuat kepalanya berputar.
Apa ini?
“Tuan, ini ... ini tidak masuk akal! Saya melamar jadi pengasuh, bukan ....”
“Bukan untuk menikah?” potong Maven cepat, suaranya rendah tapi menekan.
“Saya tahu. Tapi yang saya butuhkan bukan sekadar pengasuh. Jean butuh sosok Ibu bukan hanya perawat yang bergaji bulanan.”
Nada suaranya datar, tapi penuh luka yang tersembunyi. Ada sekilas bayangan kesepian di wajahnya. Namun, segera lenyap digantikan ketegasan khasnya.
Alesha menggeleng cepat.
“Saya tidak bisa menerima tawaran ini. Maaf, Tuan, tapi saya .... "
Maven menyandarkan punggung di kursi, kedua tangannya disilangkan di d**a.
“Kamu butuh pekerjaan, bukan?”
Suara itu menusuk jantungnya. Alesha menunduk, rahangnya mengeras. Ia memang butuh pekerjaan. Sejak ibunya sakit dan ayahnya meninggalkan mereka, setiap lembar uang berarti napas tambahan bagi keluarganya.
Akan tetapi, menikah kontrak dengan atasan yang baru ditemui? Itu gila.
“Saya butuh pekerjaan, tapi bukan dengan cara seperti ini,” jawabnya akhirnya, mencoba menegakkan kepala.
Maven berdiri perlahan. Suara kursinya bergeser menciptakan gesekan tajam di lantai marmer. Langkahnya tenang saat ia berjalan mengitari meja besar itu, mendekati Alesha yang masih berdiri kaku.
“Alesha Maureen,” ucapnya pelan, menatap langsung ke matanya.
“Kau pikir aku akan membuat lelucon di jam kerja?”
Nada itu membuat bulu kuduknya berdiri. Tidak, pria ini tidak sedang bercanda. Aura otoritasnya terlalu nyata, dan keberadaannya menekan udara di sekitarnya.
“Tuan, ini melanggar batas profesional."
“Profesional?” Maven mendengus kecil, kemudian menunduk sedikit, membuat jarak di antara mereka hanya sejengkal.
“Kau pikir hidup selalu bisa dijalani secara profesional? Dunia nyata tidak sebersih lembar CV-mu, Nona Alesha.”
Alesha menggigit bibir. Tangannya meremas ujung rok tanpa sadar. Ia ingin membantah, tapi kalimat itu menampar logikanya. Maven benar, dunia tidak adil. Ia sudah tahu itu sejak lama.
Maven kembali ke tempat duduknya, menatap berkas di meja.
“Kau akan mendapatkan gaji tiga kali lipat dari posisi pengasuh biasa. Tempat tinggal disediakan, semua kebutuhan ditanggung. Kau hanya perlu menandatangani kontrak ini, dan mulai hari ini, statusmu berubah menjadi ‘istri sah di atas kertas’ sekaligus pengasuh Jean.”
Kata-katanya diucapkan seperti angka dalam laporan keuangan, begitu dingin, pasti, tanpa emosi.
“Dan kalau saya menolak?” tanya Alesha lirih.
“Kau boleh pergi.” Maven menatapnya tajam.
“Tapi ingat, kota ini tidak murah. Besok mungkin kau tidak akan punya uang untuk membayar kontrakan. Minggu depan mungkin ibumu tidak bisa membeli obat. Aku hanya menawarkan solusi, bukan paksaan.”
Kedua mata Alesha memanas. Ia ingin berteriak, tapi tenggorokannya seperti terkunci. Pria ini tidak berteriak, tapi setiap katanya seperti pukulan telak ke sisi hatinya yang paling lemah, yaitu rasa takut miskin.
“Kenapa saya?” bisiknya, hampir tanpa suara.
“Dari sekian banyak orang, kenapa saya?” Alesha memberanikan diri untuk bertanya.
Maven diam sejenak. Ada sesuatu di sorot matanya seperti seseorang yang menimbang sesuatu yang berat.
“Karena kamu berbeda.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan kalimat dingin.
“Dan karena kamu tidak punya pilihan.”
Alesha menatapnya, antara marah dan tak berdaya.
“Tuan pikir saya bisa terima begitu saja tawaran yang bahkan tidak masuk akal?”
“Aku tidak menyuruhmu berpikir,” balas Maven datar.
“Aku hanya menyuruhmu menandatangani.”
Suara itu menekan ruang seperti petir tanpa kilat. Alesha menatap pena di atas meja seolah benda kecil itu adalah kunci penjara. Tangan kirinya bergetar. Ia teringat wajah ibunya yang pucat di ranjang, suara batuk yang tidak kunjung sembuh, dan dompet yang tinggal beberapa lembar.
“Berapa lama kontraknya?” Suaranya akhirnya terdengar serak.
“Satu tahun,” jawab Maven tanpa ragu.
“Setelah itu, kamu bebas. Aku tidak menahan siapa pun lebih lama dari kesepakatan.”
“Dan setelah itu … kita bercerai?”
“Ya. Tanpa tuntutan, tanpa skandal. Semua akan diatur secara hukum.”
Alesha menatapnya lama, mencoba menemukan sedikit keraguan di wajah dingin itu. Tidak ada. Pria itu seperti marmer hidup, keras, elegan, dan tak bisa ditembus.
“Tuan tahu, semua ini benar-benar tidak masuk akal.”
“Aku tahu,” sahut Maven cepat.
“Tapi semua hal besar dalam hidup dimulai dari sesuatu yang tidak masuk akal.”
Sunyi. Hanya suara napas mereka berdua yang terdengar. Alesha memejamkan mata, mencoba menenangkan diri. Ia tahu, kalau keluar dari ruangan ini tanpa kontrak, tidak ada lagi tempat lain untuk melamar. Semua toko sudah ia datangi kemarin. Semua menolak.
Maven memperhatikannya tanpa berkedip. Ada sesuatu di tatapannya bukan sekadar dingin, tapi juga … sebuah perhitungan. Seolah ia sedang mengamati reaksi seseorang di bawah mikroskop.
“Aku bukan orang jahat, Alesha,” katanya pelan.
“Tapi aku tidak punya waktu untuk membuang-buang tenaga menjelaskan apa yang orang lain tidak akan mengerti. Jean butuh seseorang sekarang, dan aku tidak akan membiarkannya kehilangan lagi.”
Nada terakhirnya terdengar nyaris seperti pengakuan. Namun, terselip begitu cepat, tergantikan kembali oleh nada tegas yang sama.
“Kau punya lima menit untuk memutuskan.”
Alesha menunduk. Lima menit. Lima menit untuk menjual logikanya. Lima menit untuk menggadaikan kebebasannya demi selembar kontrak.
Dalam diam itu, Maven menatap jam di tangannya. Setiap detik seperti menggali ruang hampa di d**a Alesha. Ia mendengar suaranya sendiri bergema di kepala yaitu Satu tahun. Setelah itu kau bebas. Bebas dari apa? Dari utang? Dari rasa bersalah? Atau dari dirinya sendiri?
“Waktu hampir habis,” ujar Maven datar.
Alesha mengangkat kepala perlahan.
Tatapannya berubah, masih takut, tapi kini ada tekad di sana. Ia menarik napas panjang dan mengambil pena di atas meja.
“Saya akan menandatangani,” katanya akhirnya.
“Tapi dengan satu syarat.”
Alis Maven terangkat. “Syarat?”
“Saya tidak akan menjadi istri yang sebenarnya.”
Ia menatap tajam, berusaha terdengar tegar.
“Kontrak ini hanya di atas kertas. Saya hanya pengasuh, bukan pasangan.”
Hening sesaat. Maven menatapnya lama, kemudian tersenyum tipis, senyum yang entah dingin, entah puas.
“Kau berpikir terlalu jauh. Aku tidak tertarik pada drama pribadi. Aku hanya ingin anakku bahagia.”
Ia mengambil kembali kontrak itu, menandatangani di bawah tanda tangannya sendiri.
“Selamat bergabung, Nyonya Jean Maven.”
Alesha tertegun. Kalimat itu terdengar seperti vonis. Tangannya lemas saat menyerahkan pena. Dalam hati ia bertanya-tanya, langkah seperti apa yang baru saja ia ambil? Sebuah penyelamatan, atau permulaan dari kehancuran?
Sementara Maven menyimpan kontrak itu ke dalam map, wajahnya tetap tanpa ekspresi. Tapi di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang bergerak, yang tak dapat ia biarkan begitu saja yaitu rasa penasaran terhadap gadis yang berani menatap matanya tanpa menunduk penuh takut.
Ketika Alesha berdiri untuk pamit, Maven berkata pelan tanpa menatap.
“Kau pikir ini tidak masuk akal sekarang. Tapi nanti, kau akan mengerti kenapa aku memilihmu.”
Alesha tidak menjawab. Ia hanya membungkuk sopan, lalu melangkah keluar. Pintu tertutup pelan, menyisakan keheningan berat di ruang itu.
Maven menatap map cokelat di mejanya. Bibirnya bergerak, nyaris seperti gumaman yang hanya didengar dirinya sendiri.
“Satu tahun saja, Jean. Papa janji, setelah ini kamu tidak akan sendiri lagi.”
Dan di sisi lain pintu, Alesha berdiri dengan napas tercekat. Dunia di luar ruangan itu terasa sama sekali berbeda, tapi satu hal ia tahu pasti bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi.