Malam itu, langit Jakarta menggantung berat, seakan ikut menekan d**a Alesha yang belum juga bisa terlelap. Pikirannya kacau, berputar-putar di antara logika dan perasaan, di antara harga diri dan kebutuhan hidup yang menjerat lehernya pelan-pelan.
Ucapan laki-laki itu terus bergema di kepalanya.
“Jadilah istri sekaligus pengasuh untuk anakku.”
Tidak masuk akal. Bahkan gila. Tetapi, semakin ia mencoba melupakan, kalimat itu malah menggema seperti gema do'a yang tak pernah berhenti. Ia menatap langit-langit kamar kontrakannya yang sempit, dengan kipas angin tua yang berderit pelan. Di sudut meja, botol obat ibunya masih setengah. Uang di dompetnya hanya cukup untuk dua hari makan.
Dia memejamkan mata, berharap tidur bisa menenangkan, tapi malah wajah Jean yang muncul. Anak kecil itu dengan mata bulatnya, tawa kecilnya yang renyah, dan cara dia memanggil “Kak Lessa” dengan logat pelat yang lucu, semuanya membuat dadanya sesak.
Jean polos. Tak salah sedikit pun, tapi Mavendra?
Alesha menghela napas, duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya.
“Apa yang aku pikirkan sih? Mana mungkin aku menikah dengan orang seperti dia," batinnya bergejolak.
Akan tetapi, begitu bayangan ibunya terbaring di kasur rumah sakit muncul, logika dan prinsipnya runtuh lagi.
Ia teringat wajah ibunya tadi siang di panggilan video. Wajah pucat, rambut menipis, dan batuk yang semakin sering.
“Nak, jangan terlalu capek, ya. Ibu cepat sembuh, nanti kita bisa pulang ke kampung.”
Alesha tak sanggup menjawab selain senyum palsu. Ia tak mau ibunya tahu, bahwa dia hampir putus asa mencari pekerjaan tetap.
Mavendra mungkin arogan, tapi dia orang pertama yang menawari keamanan finansial.
Dan Jean? Jean butuh sosok Ibu, katanya.
Malam berganti dini hari. Jam menunjukkan pukul dua lewat tiga belas. Alesha menyerah untuk tidur. Ia bangun, menyalakan lampu meja, menatap selembar kartu nama di atas buku catatan lusuh.
“Mavendra Daneswara — CEO of Virendra Corporation.”
Huruf-huruf tegas itu menatap balik, seolah menantangnya. Ia memejamkan mata dan berbisik pada dirinya sendiri.
“Mungkin, aku cuma akan dengar penjelasannya sekali lagi.”
Keesokan paginya, langit mendung. Jalanan masih basah oleh sisa hujan subuh. Alesha berdiri di depan gedung kaca Virendra Corporation dengan tangan dingin dan jantung tak karuan.
Setiap langkah menuju lift terasa berat. Ia masih bisa mundur sekarang, sebelum terlambat, tapi ketika mengingat suara ibunya yang lemah, langkahnya maju lagi.
Suara pintu lift berdenting. Ketika pintu terbuka, aroma khas ruang kerja Maven menyambutnya, wangi kopi hitam dan kayu cendana. Ia mengetuk pelan pintu dengan tangan gemetar.
“Masuk.”
Suara itu datar, dalam, tanpa emosi. Masih sama seperti kemarin.
Mavendra duduk di balik meja kerja besar, jas hitamnya rapi sempurna, kemeja putihnya tanpa kerut. Pandangan matanya tajam.
Namun, kali ini ada sedikit kelelahan di sana. Di samping meja, berkas-berkas menumpuk rapi, dan di pojok ruangan, boneka beruang kecil tergeletak di kursi milik Jean, mungkin.
Alesha berdiri di ambang pintu, suaranya lirih.
“Saya datang untuk menyampaikan sesuatu, Tuan Maven.”
Tatapan pria itu terangkat, tajam tapi tenang.
“Kau akhirnya berpikir logis?” Nada sinisnya menampar pelan.
Alesha menelan ludah.
“Saya, masih belum yakin dengan tawaran Anda."
"Tidak ada yang perlu diyakini. Hanya diterima atau ditolak.”
Nada itu kembali dingin. Mavendra menyilangkan tangan, matanya tak berpaling sedikit pun.
Ia berjalan pelan mendekati meja, memandang Alesha dari ujung kepala hingga kaki, bukan dengan nafsu, tapi seperti menilai barang investasi.
"Saya tidak punya waktu untuk orang yang ragu. Tapi aku menghargai keberanianmu datang kembali, Nona Alesha."
Alesha menggenggam tasnya erat.
“Kenapa saya? Banyak perempuan lain yang mungkin mau menjadi pengasuh anak Anda tanpa syarat, aneh itu.”
Mavendra mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya menurun, tajam tapi lembut. Khas dirinya.
“Karena Jean tidak suka orang lain. Dia hanya mau kamu.”
Keheningan panjang menggantung. Alesha menatap lantai, suaranya bergetar.
“Aku ... saya tidak bisa menikah hanya karena Jean menyukai saya, Tuan."
Mavendra berdiri, langkahnya pelan tapi pasti. Setiap langkah seperti pukulan kecil di d**a Alesha.
“Ini bukan tentang suka,” katanya rendah.
“Ini tentang kestabilan. Tentang masa depan anakku. Dan tentang kebutuhanmu.”
Tatapan itu menghantam seperti pisau. Alesha menunduk, tapi jantungnya justru berdegup makin keras. Dia mulai agak goyah, tapi juga bingung.
Maven menatap jam di pergelangan tangan.
"Saya tidak suka mengulang penawaran. Sekali ini saja. Jika kau menolak, pintu ini tertutup selamanya.”
Alesha mendongak.
“Kenapa Anda seperti memaksa saya?”
“Saya tidak memaksa.”
Ia melangkah lebih dekat, jarak mereka hanya tinggal beberapa langkah.
“Saya hanya memastikan kau tahu, kesempatan tidak datang dua kali.”
Suasana ruangan menegang. Suara detik jam dinding terdengar begitu jelas.
Alesha menarik napas dalam-dalam, lalu melepaskannya perlahan.
“Saya ... saya butuh waktu berpikir.”
"Waktu sudah habis.”
Satu kalimat dingin itu menancap seperti pisau.
Alesha menatapnya tak percaya.
“Kau! Anda ... tidak memberi ruang untuk siapa pun, ya?”
“Tidak ada ruang dalam bisnis. Juga dalam hidupku,” jawabnya pelan.
Ia hampir menangis, tapi ia menahan. Harga dirinya terlalu tinggi untuk jatuh di depan pria seperti itu. Ia membalikkan badan, hendak pergi. Tapi sebelum langkahnya mencapai pintu, Maven berkata, “Jean akan kecewa kalau kau tidak datang lagi.”
Langkahnya berhenti. Napas tercekat, ia tidak berani menoleh.
“Dia menanyakanmu semalam. Katanya, ‘Kak Lessa pergi ke mana?"
Suara itu bukan intimidasi. Ada sedikit getir di ujungnya. Alesha hanya bisa memejamkan mata.
Tuhan ... kenapa harus serumit ini?
Sore hari, langit memerah. Alesha berdiri di halte depan rumah kontrakannya. Angin sore menampar wajahnya lembut. Ia baru pulang dari apotek, obat ibunya naik harga. Uang di dompetnya semakin menipis.
Pikirannya terus kembali ke ruang kerja itu. Pada tatapan dingin Maven, ke suara Jean yang terngiang. Ia mengusap wajahnya, hampir putus asa.
“Ini gila,” gumamnya lirih.
“Tapi kalau aku tidak menerimanya, bagaimana dengan Ibu?"
Langit perlahan gelap. Ia berjalan pelan menuju arah gedung Virendra Corporation. Setiap langkah terasa berat, tapi tak ada lagi pilihan lain.
Ruang kerja Mavendra masih menyala saat malam turun. Lelaki dingin itu berdiri di depan jendela besar, menatap kilau lampu kota. Jasnya sudah dilepas, dasinya longgar. Dalam keheningan itu, hanya suara napasnya yang terdengar. Ia belum bisa berhenti memikirkan perempuan itu. Alesha. Berani, tapi rapuh. Teguh, tapi terlalu jujur untuk dunia sekeras miliknya.
Pintu ruangan berderit. Langkah kecil terdengar dari belakang. Ia menoleh pelan.
Alesha berdiri di ambang pintu, wajahnya lelah tapi tegas. Kedua tangannya menggenggam erat tali tas.
“Saya datang bukan karena saya setuju dengan caramu, Tuan," katanya perlahan.
“Tapi karena saya tidak punya pilihan lain.”
Maven menatapnya lama, lalu perlahan berjalan mendekat.
“Jadi?” tanyanya dingin.
Alesha mengangguk kecil, matanya bergetar tapi penuh tekad.
“Saya terima tawaran itu.”
Senyap. Waktu seperti berhenti.
Senyum samar terbit di sudut bibir Mavendra, bukan senyum hangat, tapi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
“Bagus,” katanya pelan.
“Kau baru saja menandatangani keputusan terbesar dalam hidupmu.”
Alesha menatapnya tak mengerti.
“Apa maksudnya, Tuan?”
Mavendra berbalik, mengambil map hitam dari meja, lalu melemparkannya ringan ke arah meja depan Alesha. Di sampulnya tertulis satu kata besar.
“Perjanjian.”
Alesha terpaku. Dia sepenuhnya sadar bahwa dia baru saja melangkah ke dunia yang tak akan memberinya jalan kembali.