Bab 6. CEO Dingin

1143 Kata
Pagi itu, langit masih kelabu ketika Alesha menatap dirinya di cermin. Wajahnya tampak pucat, kelopak mata membengkak karena malam panjang yang nyaris tanpa tidur. Ia menatap bayangan sendiri yang tampak asing. Gadis sederhana yang kini harus menghadapi kenyataan tak masuk akal, yaitu menjadi istri kontrak seorang CEO bernama Mavendra Daneswara. Ia menarik napas dalam. Aku harus kuat. Demi Ibu. Langkahnya berat menuju mobil hitam yang menunggunya di depan rumah kontrakan kecil itu. Sejak semalam, ia sudah menerima pesan singkat dari asisten pribadi Mavendra. “Datang jam delapan. Tidak boleh terlambat.” Nada pesan itu saja sudah membuat jantungnya berdegup tak karuan. Ruang kerja di lantai 27 itu seperti dunia lain. Dingin, luas, dan tak bersahabat. Dinding kaca memperlihatkan hamparan kota yang sibuk. Namun, di dalam ruangan itu, waktu seakan membeku. Aroma kopi pahit bercampur dengan wangi kayu mahal. Di balik meja besar, Mavendra duduk tegap, mata elangnya menatap layar laptop tanpa sedikit pun menoleh ketika Alesha masuk. “Duduk,” ucapnya datar. Suaranya dalam dan tanpa intonasi. Alesha menelan ludah. “Sss--selamat pagi, Tuan.” “Pagi tidak selalu berarti baik, Nona Alesha.” Tatapannya beralih ke arah gadis itu, menusuk, seperti sedang membaca isi kepalanya. “Sebelum kita mulai, saya ingin memastikan satu hal. Kau datang ke sini karena keputusanmu sendiri, bukan karena paksaan, benar?” Alesha mengangguk pelan. “Iya, Tuan.” “Bagus. Karena setelah ini, tidak ada kata mundur.” Ia menutup laptop, berdiri, lalu berjalan perlahan mendekati Alesha. Setiap langkah sepatunya terdengar mantap di atas lantai marmer, mengisi ruang yang sepi. “Pernikahan ini hanya formalitas. Kau akan menandatangani kontrak yang mengikat selama satu tahun. Di depan publik, kau adalah istriku. Tapi di balik itu, kau tetap karyawan. Mengerti?” Alesha menunduk, jemarinya saling menggenggam gelisah. “Saya mengerti, Tuan.” “Panggil saya Tuan Mavendra.” Nada suaranya meninggi sedikit, membuat bulu kuduk Alesha berdiri. “Baik, Tuan Mavendra.” Dia menatap wajah Alesha lama sekali, seolah mencari kebohongan di balik mata cemas itu. “Saya tidak suka kebohongan. Saya juga tidak suka kelambanan. Jika saya memberi perintah, kau jalankan. Jika saya berbicara, dengarkan. Dan jika saya diam, itu tandanya saya tidak ingin diganggu. Jelas?” Alesha mengangguk cepat. “Jelas, Tuan Mavendra." Senyum tipis, dingin, muncul di sudut bibir Mavendra. “Kau cepat belajar.” Hari-hari pertama di rumah keluarga Daneswara menjadi ujian kesabaran bagi Alesha. Rumah itu megah, berisi patung dan lukisan mahal, tapi hawa di dalamnya menusuk seperti musim dingin yang tak pernah berakhir. Yang pertama menyambutnya bukan pelayan, melainkan sosok wanita paruh baya dengan pakaian elegan berwarna gading. Kalung mutiara melingkar di lehernya, rambut tersanggul rapi, wajahnya tenang tapi matanya menilai dengan tajam. “Jadi ini gadisnya?” Suara itu lembut tapi penuh penilaian. Mavendra hanya mengangguk. “Namanya Alesha. Mulai hari ini dia tinggal di sini.” Mami Lucy menyipitkan mata, menatap Alesha dari kepala hingga kaki. “Dia … terlihat biasa saja.” Senyum dingin mengembang. “Kupikir kau akan memilih seseorang yang sedikit lebih ... pantas.” Alesha menunduk. Pipinya memanas, tapi ia menggigit bibir agar tidak bereaksi. “Mi, ” ucap Mavendra datar. “Aku tidak meminta pendapat tentang penampilannya.” “Dan aku tidak minta restu untuk menerima perempuan ini,” balas sang ibu, suaranya tetap manis tapi tajam. “Aku hanya ingin memastikan dia tahu tempatnya.” Alesha mengangguk sopan. “Saya akan berusaha, Bu." "Bu? Kau tahu aku ini siapa? Panggil aku Nyonya besar." "Ii---iya, Nyonya besar." “Berusaha saja tidak cukup di rumah ini, Nona Alesha," jawab wanita itu pelan, lalu berbalik meninggalkan mereka. Keheningan yang tertinggal begitu pekat, sampai-sampai napas terasa berat. Mavendra akhirnya berkata tanpa menatapnya. “Jangan di ambil hati. Mami tidak gampang menerima orang baru.” Alesha menatap punggung pria itu yang berjalan menjauh. “Saya tidak apa-apa, Tuan Mavendra." Namun, di dalam hatinya, ia tahu ia jauh dari kata “baik-baik saja.” *** Hari berikutnya di kantor, Alesha mulai menjalani peran gandanya yaitu sebagai asisten dan istri kontrak. Setiap jam terasa seperti ujian. Mavendra hampir tidak pernah tersenyum. Ia menuntut kesempurnaan di setiap detail. Sekali saja Alesha terlambat membawa berkas, suara dingin itu segera menusuk. “Apakah saya harus mengajarimu cara membaca jam, Nona?” “Maaf, Tuan. Tadi lift .... " “Alasan tidak mengubah fakta.” Tatapan tajamnya menembus tanpa ampun. “Di perusahaan ini, ketepatan waktu adalah bentuk penghormatan. Jika kau ingin bertahan, belajar menghormati waktuku.” Alesha menunduk, menahan perih di d**a. Ia ingin menjelaskan lebih banyak, tapi melihat tatapan Mavendra, ia tahu, diam adalah satu-satunya jalan aman. Namun, setiap kali ia hampir menyerah, bayangan ibunya yang terbaring di rumah sakit muncul di pikirannya. Biaya operasi yang menumpuk. Suara batuk sang ibu di ujung telepon semalam. Ia menarik napas panjang, menegakkan kepala. Aku tidak boleh kalah. Malam itu, di rumah besar keluarga Daneswara, Alesha baru saja mengantar Jean tidur. Anak kecil itu memeluk boneka beruangnya dan tersenyum polos. “Bunda Alesha, besok Papa pulang cepat nggak?” Alesha tertegun sejenak. “Mungkin, Sayang. Kenapa?” “Aku mau Papa main sama aku, kayak dulu.” Hatinya mencelos. Ia hanya bisa mengangguk, menyelimuti Jean dengan lembut. “Tidur ya, Sayang. Nanti bunda bacakan do'a.” Setelah lampu kamar dipadamkan, Alesha melangkah pelan keluar. Tapi di lorong panjang itu, ia mendengar suara yang membuatnya berhenti. "Kau pikir gadis itu pantas tinggal di rumah ini?” Suara Nyonya Besar alias Mami Lucy. Lalu, suara dingin pria itu menjawab. “Aku tidak peduli pantas atau tidak, Mi. Dia ada di sini karena aku yang memilih.” “Kau terlalu percaya pada instingmu, Nak. Hati-hati. Kadang orang yang tampak polos menyembunyikan sesuatu. Berbahaya." Langkah Alesha terhenti di balik dinding. Dadanya berdebar keras. Ia tidak tahu harus merasa takut atau sedih. “Jika dia berbuat salah,” lanjut suara Mami Lucy. “Maka, aku yang akan menyingkirkannya.” Dada Alesha seperti dihantam palu, sesak dan menakutkan. Keesokan harinya, suasana kantor jauh lebih dingin dari biasanya. Mavendra duduk di balik meja, membaca laporan keuangan tanpa ekspresi. Alesha datang membawa berkas baru, menunduk sopan. “Ini laporan untuk cabang Surabaya, Tuan Mavendra." Ia meletakkan map di atas meja, tapi ketika hendak mundur, suara pria itu menahannya. “Tunggu.” Ia mengangkat kepalanya perlahan. Tatapan Mavendra menelusuk, seperti sedang menimbang sesuatu. “Kenapa kau selalu gugup setiap kali masuk ke ruangan saya?” Tanyanya tiba-tiba. Alesha terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. “Apakah saya terlihat seperti monster?” Ia menelan ludah. “T--tidak, Tuan.” Mavendra bersandar di kursi, menautkan jari-jarinya. “Bagus. Karena yang saya lakukan sejauh ini masih ringan. Tapi ingat, saya tidak suka kesalahan yang diulang dua kali.” Alesha mengangguk cepat. “Saya mengerti.” “Dan satu hal lagi." Ia berdiri, langkahnya mendekat perlahan. “Mulai hari ini, jangan sebut saya Tuan di depan Jean. Dia harus percaya kalau kau benar-benar istriku.” Deg. Dunia seakan berhenti berputar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN