Alesha duduk di depan meja rias, menatap wajahnya yang tampak semakin tirus. Kantung matanya menghitam, kulitnya memucat. Ia menarik napas panjang, mencoba menegakkan bahu yang terasa berat. Setiap pagi selalu dimulai dengan kalimat yang sama di dalam hatinya, aku harus kuat. Demi Ibu.
Tiga peran menumpuk di pundaknya saat ini menjadi asisten pribadi, istri kontrak, dan pengasuh Jean. Rasanya dunianya memang berubah 380° di luar akalnya.
Kadang ia merasa hidupnya kini bukan lagi milik sendiri, sekadar alat yang bergerak untuk memenuhi tuntutan orang lain. Apalagi untuk keluarga Mavendra. Lelaki itu, seperti tidak pernah bisa salah, semuanya dituntut untuk sempurna.
Mobil hitam menjemputnya tepat pukul tujuh.
Sesampainya di gedung tinggi, ia melangkah cepat menuju lantai dua puluh tujuh, tempat ruang kerja Mavendra berada. Asisten pribadi sang CEO tidak boleh terlambat. Bahkan satu menit saja bisa menjadi alasan untuk dipermalukan di depan karyawan lain.
“Masuk."
Suara itu terdengar berat dari balik pintu kaca sebelum Alesha sempat mengetuk.
Mavendra sudah duduk di balik meja besar. Jasnya hitam pekat, dasinya rapi, dan tatapan matanya tajam seperti pisau. Ia bahkan tidak menoleh ketika Alesha melangkah masuk.
“Laporan minggu ini sudah?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.
Alesha meletakkan map di atas meja.
“Sudah, Tuan Ma---.” Ia buru-buru memperbaiki, “Maksud saya, Mavendra.”
Pria itu baru menoleh, menatapnya beberapa detik.
“Berapa lama kau menyusunnya?”
“Dua malam.”
“Seharusnya bisa satu.”
"Hah?"
Nada datarnya mengiris udara. Semenyebalkan itu suaranya.
Alesha menelan ludah. Masih bingung dan juga kesal, apa dia pikir dia ini robot?
“Saya sudah bekerja sampai lewat tengah malam. Dua malam bukan waktu yang sebentar."
Mavendra mengangkat alis. Tidak suka dengan ucapan yang barusan didengarnya. Terlalu berani untuk orang baru.
“Kau membantahku?”
“Tidak, hanya menjelaskan.”
Untuk sesaat, bibir pria itu bergerak membentuk garis tipis, antara senyum dan ejekan. Sungguh, bagi Alesha ingin sekali dia merutuk lelaki ini.
“Berani juga kau sekarang,” ujarnya pelan sebelum kembali menunduk pada berkas-berkas di depannya.
Hari itu seperti tidak berujung. Ada tiga rapat beruntun, dua presentasi mendadak, dan satu laporan audit yang harus diperbaiki karena kesalahan cabang Surabaya.
Ponselnya bergetar tanpa henti, pesan dari perawat yang menjaga ibunya di rumah sakit. Obat harus diperbarui dan otomatis biaya bertambah.
Alesha mengetik cepat di laptop, matanya panas, tangannya gemetar karena lelah dan tekanan. Setiap detik terasa menekan dadanya seperti beban batu. Dia seolah berada di dalam penjara yang tak kasat mata.
Sekitar pukul delapan malam, Mavendra melewati mejanya. Ia berhenti sejenak.
“Belum pulang?” tanyanya.
“Belum selesai,” jawab Alesha tanpa menoleh.
“Suruh tim keuangan bantu.”
“Mereka sudah pulang, atas perintah Anda.”
Keheningan menggantung.
Mavendra berdiri beberapa langkah di belakangnya, hanya memandang punggung gadis itu yang masih tegak di depan layar.
“Alesha,” panggilnya lebih lembut, tapi tetap terdengar tegas.
Alesha berhenti mengetik.
“Ada apa?”
“Kau terlihat kelelahan.”
Gadis itu tertawa lirih, getir.
“Anda baru sadar?”
Mavendra menatapnya lama. Ada sesuatu yang terlihat di mata itu, entah kesal, iba, atau kagum, tapi ia tidak mengatakan apa pun.
“Saya tidak menyuruhmu bekerja di luar batas.”
“Tidak menyuruh, tapi menuntut,” balas Alesha pelan.
“Bedanya tipis, Mavendra.”
Ia berbalik menatapnya penuh keberanian.
“Anda selalu menuntut hasil seperti manusia tak boleh lelah. Saya hanya mencoba mengejar harapan yang Anda buat sendiri.”
Mata mereka bertemu. Dalam diam, ada benturan dua dunia yang berbeda yang dirasakan keduanya, dingin dan keras melawan hangat, tapi rapuh.
Bagi Mavendra sendiri, orang baru seperti Alesha sangat penting. Dia tidak hanya pandai bicara tegas sesuai waktu, tapi juga sangat pekerja keras.
Malam itu Alesha tertidur di kursi ruang tamu, dengan laptop masih menyala di depannya. Lampu temaram memantulkan bayangan tubuh mungilnya yang tertidur dalam posisi tidak nyaman.
Saat suara langkah kaki terdengar, Mavendra baru saja pulang dari kantor cabang. Ia berhenti di depan sofa, menatap wajah gadis itu dalam diam. Wajah lelah yang tetap terlihat tenang. Ia menarik selimut dari ruang atas dan menutup tubuh Alesha perlahan.
“Apa kau tidak tahu tempat tidur ada di kamarmu?” Suaranya berat, tapi tak setajam biasanya.
Alesha membuka mata perlahan. Ia melihat Mavendra berdiri di sana, tanpa jas, kemeja digulung sampai siku, rambut sedikit berantakan.
“Tuan Mave.... "
Pria itu menatap layar laptop di meja.
“Kau menyelesaikan semua ini sendirian?”
Alesha mengangguk dan langsung duduk tegak.
“Kalau tidak, Anda akan bilang saya lambat.”
“Ha ha, dunia ini tidak berhenti menunggu orang lemah,” katanya akhirnya. Jurus menyebalkan.
Alesha menatapnya lurus meskipun masih menyisakan rasa kantuk.
“Dan saya tidak lemah. Saya hanya lelah. Itu dua konteks kalimat yang berbeda jauh, baik tulisan maupun artinya."
Mavendra tercekat, gadis ini benar-benar unik.
Ia menghela napas panjang.
“Kau terlalu keras pada diri sendiri.”
“Tidak,” jawabnya cepat.
"Anda yang terlalu keras pada semua orang.”
Mavendra menatapnya lama, sorot matanya perlahan berubah. Ada sesuatu di sana seperti sebuah pengakuan yang tertahan.
“Kalau saya gagal,” lanjut Alesha dengan suara bergetar.
“Yang dipertaruhkan bukan hanya pekerjaan. Tapi nyawa ibu saya di rumah sakit. Jadi, jangan minta saya untuk santai, karena saya tidak punya pilihan.”
Pria itu menunduk sedikit, lalu berkata pelan.
“Tidurlah. Besok saya tidak ingin melihatmu tertidur di meja lagi.”
Alesha menatap punggungnya yang menjauh.
“Anda peduli?” tanyanya pelan.
Mavendra berhenti di ambang pintu. Menoleh.
“Tidak,” jawabnya datar.
“Saya hanya tidak ingin asistennya CEO terlihat seperti zombie di depan klien.”
Keesokan paginya, suasana kantor lebih tenang.
Mavendra tidak banyak bicara, hanya memerhatikan setiap laporan yang masuk tanpa komentar berlebihan. Ketika rapat dengan investor Jepang mendadak dimulai, penerjemah perusahaan tiba-tiba sakit. Semua mata beralih ke Alesha yang kebetulan membawa dokumen presentasi.
“Saya bisa bantu menerjemahkan,” ucapnya tanpa ragu.
Mavendra menatapnya, ragu sejenak. Tapi rapat tak bisa ditunda.
Dan ternyata, gadis itu menerjemahkan dengan lancar. Kalimatnya padat, intonasinya tepat. Para investor tampak terkesan.
Usai rapat, Mavendra menatapnya dengan tatapan yang berbeda dari biasanya.
“Kau bisa bahasa Jepang?” tanyanya.
“Sedikit,” jawab Alesha singkat.
“Kenapa tidak bilang dari awal?”
“Tidak ada yang bertanya.”
Sudut bibir Mavendra terangkat pelan, nyaris tak terlihat. “Menarik,” gumamnya sebelum melangkah pergi.
Sore itu setelah semua pekerjaan selesai. Ia memanggil Alesha ke ruangannya lagi.
“Duduk,” ucapnya tanpa menoleh.
Alesha duduk, menunggu dalam diam.
“Kau sudah bekerja dengan baik,” katanya tiba-tiba.
Alesha terkejut. Kalimat itu terdengar asing dari mulut Mavendra. Ia menatap pria itu dengan hati-hati. Takut ada jebakan maut di dalamnya.
“Terima kasih.”
“Tapi jangan pikir itu berarti kau boleh santai,” lanjutnya cepat.
Alesha menatapnya tajam.
“Saya tidak butuh pujian, Mavendra. Hanya sedikit ruang untuk bernapas.”
Ia bersandar di kursi, menautkan jari-jari tangannya di depan d**a.
“Kalau saya memberi ruang, kau akan kehilangan fokus.”
“Dan kalau Anda terus menekan saya seperti ini,” balas Alesha pelan tapi tegas.
“Anda akan kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar bekerja untuk Anda, bukan untuk uang.”
Keheningan jatuh di antara mereka.
Tatapan Mavendra mengeras, tapi bukan karena marah. Ada sesuatu di baliknya yaitu rasa kagum yang berusaha disembunyikan.
“Kau terlalu cerdik untuk ukuran karyawan baru,” ujarnya pelan.
“Mungkin karena saya terlalu sering dipaksa hidup dengan cara yang keras,” jawab Alesha tanpa ragu.
Mavendra menatapnya lama, lalu menyuruhnya pergi.
Waktu yang berjalan bagaikan roda yang berputar terlalu cepat.
Di kamarnya, Alesha menutup laptop lebih cepat dari biasanya. Untuk pertama kali dalam beberapa minggu, ia merasa lega meski hanya sedikit. Namun, pikiran tentang Mavendra terus menghantuinya.
Tatapan pria itu di ruang rapat. Nada suaranya yang nyaris lembut saat memuji membuat dadanya bergetar aneh, sesuatu yang tidak boleh ia rasakan.
'Ini hanya pembukaan saja, Mavendra. Sebentar lagi, kau juga akan masuk ke dalam perangkapku!' batin Alesha penuh percaya diri.