Bab 8. Siapa Kau Sebenarnya?

1140 Kata
Alesha disibukkan dengan mengurus Jean. Mulai dari memandikan sampai menyiapkan sarapan. Sebenarnya hari ini ia masuk kantor untuk mengurus beberapa dokumen, tapi Maven menyuruhnya untuk istirahat terlebih dahulu. Entah apa yang ada dipikiran Maven, padahal kemarin ia menuntut Alesha untuk segera menyelesaikan laporan cabang Surabaya, sampai ia harus begadang. Tetapi Alesha tidak ambil pusing, ia menikmati hari liburnya dengan quality time bersama Jean. Saat ini, Alesha sedang asyik menemani Jean bermain di kamar. "Bunda, Jean mau camilan." "Jean mau apa, Sayang? Buah mau? Bunda ambilkan, ya." "Nggak mau, Jean mau cookies." "Cookiesnya sudah habis, Sayang. Besok kita beli lagi, ya? Sekarang Jean makan buah dulu," rayu Alesha dengan lembut. "Nggak mau, Bunda. Jean mau cookies," ucapnya sambil memanyunkan bibir, gemas. "Kalau begitu, bunda buatkan dulu. Bagaimana? Mau nggak?" tawar Alesha, yang langsung membuat wajah Jean berbinar. "Mau bunda ... mauuu," ucapnya dengan riang. "Okee, Jean tunggu di sini dulu, ya? Bunda buatkan dulu cookiesnya sebentar." "Jean mau ikut boleh, Bunda? Jean mau lihat bunda bikin cookies." "Mmmm, boleh nggak, ya?" ucap Alesha iseng. "Bunda." Jean merungut kesal. "Ya sudah boleh, tapi Jean duduk manis saja, ya, lihatin bunda bikin cookies? Oke?" "Okee, Bunda." Sesampainya di dapur, Alesha langsung menyiapkan alat dan bahan-bahan untuk membuat cookies. Sedangkan Jean, ia duduk manis di kursi yang tak jauh dari Alesha. Saat Alesha sedang mengaduk butter, Mami Lucy tiba-tiba datang. "Ngapain kamu di sini?" suara itu membuat Alesha terkejut. Tangannya langsung diam dan menoleh. "Bi-bikin cookies, Nyonya besar," jawab Alesha yang terkejut dengan kedatangan mami Lucy. "Siapa yang mengijinkan kamu untuk menyentuh barang-barang saya yang ada di sini. Hah?" "Jangan marahin bunda, Oma. Bunda lagi buatin aku cookies," ucap Jean yang langsung turun dari kursi dan menghampiri Alesha untuk membelanya. "Cih, Bunda. Sejak kapan dia menjadi Bunda kamu Jean," ucap Mami Lucy ketus, yang langsung membuat Alesha menutup telinga Jean. "Maaf, Nyonya Besar. Jean mau makan cookies, tapi karena persediaan sudah habis jadi saya buatkan sendiri untuknya." "Alasan. Pokoknya, jangan sampai peralatan dapur saya ada yang rusak. Dan jika sudah selesai langsung bereskan semuanya, saya tidak mau melihat ada peralatan kotor satu pun di sini," ucap mami Lucy ketus dan langsung pergi begitu saja. "Baik, Nyonya Besar." "Bunda, kenapa sih Oma selalu galak sama Bunda? Oma nggak suka, ya, ada Bunda di sini?" ucap Jean sedih. "Tidak, Sayang. Oma cuma kasih tahu ke bunda buat hati-hati pakai peralatan dapurnya." "Tapi Oma jahat. Padahal, kan, Bunda baik, aku senang ada Bunda di sini," ucap Jean dengan mata yang berkaca-kaca. Membuat Alesha terenyuh dan langsung memeluk Jean. "Bunda jangan tinggalin, Jean, ya. Jean sayang banget sama Bunda," ucap Jean menangis dipelukan Alesha. Entah kenapa, Alesha merasakan ada sesuatu yang menghimpit dadanya saat mendengar ucapan itu. Tanpa terasa air mata jatuh di pipinya. Rasa yang sulit untuk ia ungkapan bagaimana. "Iya, Sayang. Bunda akan selalu ada di sisi Jean, Bunda nggak ke mana-mana, kok." "Sudah, ya, nangisnya. Nanti gantengnya hilang loh," ucap Alesha sambil menghapus air mata di pipi gembul Jean. "Iya, Bunda. Jean sudah tidak nangis lagi." Jean menjawab sambil tersenyum memperlihatkan giginya yang rapi. "Gitu, kan, ganteng anak bunda. Jean duduk di sana dulu, ya. Bunda mau buat cookiesnya dulu." "Okee, Bunda." Setelah kurang lebih satu jam Alesha berada di dapur, akhirnya cookiesnya pun sudah jadi. Ia menyuruh Jean untuk pergi ke kamar terlebih dahulu sambil membawa cookies di toples kecil, karena Alesha masih harus membereskan peralatan yang kotor. Alesha menyisihkan beberapa toples kecil cookies dan menaruhnya di meja pantry. Setelah selesai semua, ia langsung menyusul Jean ke kamar sambil membawa s**u hangat. "Bunda, cookiesnya enak sekali, Jean suka." "Wahh iya? Puji Tuhan kalau Jean suka. Tapi jangan banyak-banyak, ya, Sayang. Nanti sakit gigi. Dan jangan lupa, kalau sudah selesai makan, Jean harus sikat gigi, okee ganteng?" ucap Alesha sambil mencubit gemas pipi gembul Jean. "Okeee, Bunda." Setelah lelah bermain, Jean akhirnya tidur siang ditemani Alesha. **** Sementara di satu ruangan kantor. Mavendra sedang melaksanakan meeting strategi pemasaran perusahaan kantor. Biasanya rutin diadakan satu sampai dua kali dalam sebulan. Namun, fokusnya tidak tertuju pada materi yang sedang di presentasikan oleh kepala departemen pemasaran. "Bagaimana, Pak?" tanya kepala departemen pemasaran, setelah selesai mempresentasikan strategi pemasaran yang baru untuk produk yang akan launching. Namun, Mavendra hanya diam, tidak menjawab. "Pak?" tanyanya sekali dengan sedikit rasa takut dan penuh hati-hati. Keynan yang melihat bosnya diam melamun, mencoba untuk memanggil dengan menepuk pelan tangan Mavendra. "Pak Maven." "Sorry. Bagaimana tadi?" tanya Mavendra, setelah tersadar dari lamunannya. "Begini, Pak. Bagaimana jika kita melibatkan beberapa influencer untuk membantu mempromosikan produk baru kita yang akan launching beberapa bulan lagi?" Jelas kepala departemen pemasaran sekali lagi. "Ya, lakukan saja. Segera laporkan ke saya, siapa saja influencer yang akan bekerja sama dengan perusahaan kita." "Baik, Pak. Akan segera kami siapkan laporannya." "Sekian untuk hari ini, silahkan kalian bisa segera kembali ke pekerjaan masing-masing," ucap Keynan, yang membubarkan meeting di hari itu, karena melihat Mavendra yang tidak fokus lagi. Para kepala departemen dan beberapa karyawan pun meninggalkan ruang meeting, sesaat setelah Mavendra dan Keynan pergi. Saat menuju ruangan CEO, Keynan menyempatkan untuk bertanya kepada Maven. "Apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiran Anda, Tuan?" tanya Keynan saat mereka sedang berada di lift. "Apakah kau sudah benar-benar menyelidiki latar belakang Alesha dengan benar, Key?" "Sudah, Tuan. Dan, memang hanya informasi itu saja yang bisa saya dapatkan. Memangnya ada apa, Tuan?" "Tidak, saya hanya merasa ada sesuatu yang aneh dengannya." "Maaf, maksud Anda aneh bagaimana, Tuan?" "Bagaimana dia bisa menguasai bahasa Jepang, sedangkan ia hanya lulusan SMA. Kalaupun dia les bahasa, dari mana dia punya uang? Sementara untuk makan dan biaya berobat ibunya saja sudah susah." "Apakah Anda ingin saya menyelidiki Alesha lebih dalam lagi, Tuan?" "Ya!" "Baik, Tuan." Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Mavendra masih saja bergelut dengan pikirannya di ruang kerjanya. Ia masih belum ingin beranjak pergi. Sedangkan Keynan, masih setia menunggu Mavendra di ruang sebelah. Tepat pukul 22.30 WIB, Mavendra keluar dari ruangan yang langsung disusul oleh Keynan. "Antar aku pulang, Key. Pak Tejo sudah aku suruh pulang tadi sore." "Tumben pulang, Ven? Biasanya jadi penunggu kantor," ucap Keynan santai saat hanya ada mereka berdua, karena memang mereka adalah sahabat saat masih SMA. "Aku rindu Jean, sudah lama aku tidak pulang ke rumah." "Rindu Jean atau, rindu bundanya?" Goda Keynan, yang langsung mendapat tatapan tajam dari Mavendra. "Hehe ... sorry." *** Suara tegas sepatu Maven memecah keheningan saat ia memasuki rumahnya. Sebelum masuk ke kamarnya, ia menyempatkan diri untuk melihat Jean. Dengan pelan, ia membuka knop pintu kamar itu. Terlihat Jean yang sedang tertidur nyaman di samping Alesha. Maven mendekat dan duduk di sudut kasur. Maven membelai lembut kepala Jean dan mencium pipi gembulnya dengan hati-hati, takut mengganggu tidur anaknya. Tak sengaja, matanya menoleh pada Alesha yang tertidur di samping Jean. "Siapa kau sebenarnya, Alesha? Kenapa aku merasa seperti pernah dekat denganmu?" batin Mavendra penuh tanda tanya dan tiba-tiba saja, Alesha menggeliat dan ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN