Bab 9. Satu Rahasia

1056 Kata
"Ma--Mavendra, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Alesha terkejut, saat mendapati Mavendra ada di depannya. Mavendra menatap Alesha dengan wajah datar. "Saya hanya ingin melihat Jean sebelum tidur," kata dia. "Saya rindu anak saya, sudah lama saya tidak melihatnya" "Ba-baiklah, tapi jangan ganggu dia, dia baru saja tertidur." Mavendra hanya mengangguk. Ia mencium kening Jean, sebelum akhirnya keluar dari kamar. Alesha merasakan hatinya menghangat, ketika melihat perlakuan Mavendra kepada Jean. Dia tahu bahwa Mavendra sangat menyayangi Jean. Setelah menyelimuti dan menaruh boneka beruang kesayangan Jean, disampingnya. Alesha bergegas kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Keesokan paginya, Mavendra sudah berada di dapur setelah kembali dari joging, yang rutin ia lakukan setiap Minggu pagi. Setelah meminum segelas air putih, ia tak sengaja melihat ada cookies di toples kecil, yang ada di meja pantry. Mavendra mencoba mengambil satu dan mencicipinya. "Papa," teriak Jean saat melihat Mavendra ada di dapur. "Hai, Boy. Sudah bangun, ya?" sapa Mavendra sambil berjongkok, untuk menyamakan tingginya dengan Jean. "Sudah, dong. Jean juga sudah mandi." "Anak pintar," sahut Maven sambil mengusap rambut Jean. "Papa makan cookies ya? Enak kan, Pa, cookiesnya?" tanya Jean, yang melihat Mavendra memegang cookies di tangannya. "Iya, sayang. Enak." "Itu, Bunda yang bikin. Bunda bikinin cookies itu untuk Jean." Belum sempat Mavendra menjawab, terdengar suara Alesha dari belakang mereka. "Jean, mau sarapan pakai apa, Sayang?" tanya Alesha, yang baru saja tiba di dapur. Ia sedikit terkejut saat melihat Mavendra menggunakan short pants dan kaos jersey, yang terlihat sangat pas dengan memperlihatkan roti sobek milik Maven. Ditambah keringat yang mengucur ditubuh Maven, menambah sisi maskulin seorang Mavendra Daneswara. Membuat Alesha susah payah menelan ludahnya. Dengan buru-buru, Alesha meraih kesadarannya dan langsung mengalihkan pandangannya ke Jean. "Aku mau sandwich, Bunda. Tapi jangan pakai tomat dan timun ya, Jean nggak suka." "Oke, Sayang. Jean duduk dulu ya. Bunda buatkan, sebentar." "Oke, Bunda," jawab Jean dan langsung duduk manis di meja makan. "Mau sekalian saya buatkan? Tuan Ma--" ia buru-buru memperbaiki. "Maksud saya Mavendra." "Ya. Pakai alpukat dan tomat. Jangan pakai timun." "Baik. Saya buatkan sebentar." Dengan cekatan, Alesha langsung membuatkan dua sandwich dengan request an masing-masing. Setelah sepuluh menit, sandwich pun sudah jadi. Alesha langsung menaruhnya di meja. "Makasih, Bunda," ucap Jean dengan senyum manisnya. "Sama-sama, Sayang." "Terimakasih," ucap Mavendra, dingin. "Sama-sama." Satu gigitan telah masuk dalam mulut Maven. Semakin lama ia mengunyah, rasanya dadanya semakin sesak, seperti ada batu yang menghantamnya. Sandwich ini, rasanya persis seperti buatan Karin. Sebelum semakin sesak, buru-buru Mavendra meninggalkan meja makan. Menyisakan sandwich yang baru ia makan satu gigit, di piringnya. Jean dan Alesha menatap kepergian Mavendra dengan tatapan bingung. "Papa kenapa, Bunda? kok pergi?" "Bunda juga tidak tahu, Sayang. Mungkin, Papa ada kerjaan yang mendesak." "Habiskan ya, sandwichnya. Biar Jean kuat." "iya, Bunda" Di kamar, Mavendra langsung meraih obat yang ada di laci nakasnya. Setelah dirasa sudah cukup tenang, ia langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Baru saja ia selesai memakai baju. Tiba-tiba, seseorang mengetuk pintu kamarnya dengan tergesa-gesa. "Ve-- Ven, tolong buka pintunya." Maven yang mendengar suara itupun, langsung membuka pintu kamarnya. "Ada apa, Alesha?" tanyanya dengan nada datar dan dingin. "Saya titip Jean, Ven. Saya harus ke rumah sakit sekarang," ucap Alesha dengan air mata yang bercucuran. "Memangnya kenapa? kamu sakit?" "Tidak. I-Ibu saya ... Ibu saya," ucap Alesha dengan sesenggukan. "Tenangkan diri kamu, Alesha. Ibu kamu kenapa? "I-Ibu saya kritis, saya harus ke rumah sakit sekarang." "Yasudah, ayo saya antar." "Bagaimana dengan, Jean?" "Di rumah ada, Mami. Kamu tunggu saja diluar. Saya ambil kunci mobil dulu." "I-iya, terimakasih," ucap Alesha dan langsung pergi ke depan. Sedangkan Maven, ia langsung mengambil kunci mobil dan handphonenya. Dengan kecepatan tinggi, Maven membelah jalanan Jakarta, pagi itu. Sesampainya di rumah sakit, Alesha langsung berlari menyusuri lorong rumah sakit, menuju ruang ICU. Tak lama, Mavendra menyusul Alesha. Dilihatnya, Alesha telah duduk terkulai di lantai, dengan menangis sesenggukan. Ia melihat dari jendela, alat-alat yang ada di tubuh ibu Alesha telah dilepas satu-persatu. Perlahan namun menyayat hati, kain putih mulai menutupi tubuh ibu Alesha. Mavendra, merasakan sesak di d**a. Bayangan masa lalu yang sudah ia kubur dalam-dalam, kembali melintas dalam pikirannya. Sambil memegang dadanya, ia duduk di kursi panjang yang ada di depan ruangan. Dadanya semakin sesak, saat mendengar suara raungan dari Alesha yang sangat menyayat hati. Air mata mulai mengucur deras di pipi seorang Mavendra. Kini Alesha tak punya siapa-siapa lagi. Satu-satunya kekuatan miliknya, telah pergi meninggalkan Alesha untuk selama-lamanya. Mavendra sedikit iba melihat keadaan Alesha. Setelah selesai menemani dan membantu Alesha mengurus pemakaman ibunya, Mavendra langsung pulang ke rumah. Sesampainya di kamar, ia langsung menelepon Keynan. "Kau sudah dapat informasinya, Key?" "Maaf, belum Tuan." "Sekarang kau carikan informasi lengkap, Nakamura Yui. Ibu Alesha." "Maaf, Tuan. Bukannya nama ibu Alesha itu, Veronica Abraham?" "Bukan, sepertinya itu nama lainnya. Cepat carikan informasi secepatnya." "Baik, Tuan." "Siapa kamu, Alesha? Rahasia besar apa yang kamu simpan?" ucap Mavendra dalam hati. Untuk satu Minggu ke depan, Mavendra mengijinkan Alesha pulang ke rumahnya, untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Jadi, untuk seminggu ke depan pula, Mavendra selalu pulang ke rumah untuk menemani Jean bermain dan tidur. Setelah menemani Jean tidur. Ia berniat kembali ke kamarnya. Namun, saat melihat kamar Alesha, ada sesuatu yang menarik ia untuk masuk ke dalam. Perlahan, ia mulai masuk ke kamar Alesha. Aroma manis vanilla, langsung menusuk ke dalam hidung Mavendra. Terlihat bersih dan rapi. Tak ada hiasan apapun dalam kamar Alesha. Hanya ada meja rias dengan beberapa makeup milik Alesha. Mavendra langsung duduk di tepian kasur. Ada satu laci yang menarik perhatiannya. Dibukanya. Terlihat ada satu buku yang sudah cukup usang, saat ia mengambilnya, ada sebuah foto terjatuh ke lantai dan langsung di ambil oleh Mavendra. Dalam foto itu, terlihat seorang ibu yang sedang menggendong bayi perempuan lucu. Saat ia ingin mengembalikan ke dalam laci, tak sengaja ia melihat tulisan di balik foto itu. "Nakamura Haruna - 12 Maret 1997" Ia segera memotretnya. Saat Mavendra sedang mencerna apa yang ia lihat. Ponselnya bergetar, memperlihatkan nama Keynan di layar. "Tuan, sudah saya kirimkan informasinya." "Terimakasih." "Sama-sama, Tuan." Maven segera kembali ke kamarnya untuk melihat informasi yang dikirimkan oleh Keynan. Saat ia membuka, terdapat sebuah foto kartu keluarga yang sudah sedikit buram dan usang. Tertulis, Nakamura Yui dan Nakamura Haruna, adalah seorang ibu dan anak kandung. Terdapat satu tanggal lahir yang membuat Mavendra terkejut. Ia seperti pernah melihat angka tersebut. Segera ia mengeceknya, dan ternyata benar, tanggal ini adalah milik ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN