Mata Mavendra membulat. Ia masih terpaku dengan apa yang ia lihat pada layar ponselnya.
“Tidak mungkin,” gumamnya pelan.
Ia menatap ulang foto kartu keluarga itu, memastikan matanya tidak salah lihat.
Ia bersandar, mencoba menenangkan pikirannya yang tiba-tiba kacau.
“Jadi selama ini,” desisnya, menatap kosong ke arah dinding kamar.
Mavendra mengusap wajahnya kasar.
“Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan, Alesha?”
Mavendra merasa seperti berada di dalam labirin. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
****
Satu Minggu telah berlalu. Alesha sudah kembali ke kediaman keluarga Daneswara. Tidak ada kata tenang untuknya, saat ia masuk ke dalam rumah itu.
Alesha langsung disibukkan dengan urusan kantor. Menyusun laporan mingguan dan laporan cabang Malang, yang membuat ia lumayan pusing. Belum lagi, perusahaan akan mengeluarkan produk baru, membuat Alesha semakin sibuk dan pusing.
Sudah lewat tengah malam ketika Alesha masih menatap layar laptop. Laporan cabang Malang belum juga selesai, padahal matanya sudah mulai perih.
Mavendra dan Keynan yang sedang melintas, melihat lampu ruangan Alesha masih menyala.
Mavendra berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan bersilang di d**a. Sorot matanya tajam, menghantam punggung Alesha yang masih terpaku di depan layar laptop.
“Berhenti!” ucapnya datar.
Alesha tersentak kecil.
“Maaf, Tuan. Saya hanya—”
“Saya tidak bertanya,” potong Mavendra dingin. Langkahnya perlahan mendekat.
“Saya memberi perintah.”
Alesha langsung menutup laptop dengan cepat. Ia berdiri, menunduk, menahan napas yang terasa berat di dadanya. Duka atas kehilangan sang Ibu belum sepenuhnya hilang. Ia sudah harus berhadapan dengan pekerjaan yang menumpuk dan harus menahan sikap dingin Mavendra.
“Sudah berapa kali saya katakan! Jangan bekerja melewati batas jam kantor,” suara Mavendra tenang, tapi tegas, dingin, seperti biasa.
"Maaf, Tuan. Saya hanya ingin segera menyelesaikan laporannya."
Mavendra menatapnya tanpa ekspresi.
“Dan kamu pikir alasan itu cukup untuk melanggar perintah saya?”
Alesha menelan ludah, mencoba menahan getar suaranya.
“Saya hanya tidak ingin menunda-nunda pekerjaan. Karena masih banyak yang harus saya kerjakan.”
“Saya tidak butuh pengorbanan,” ucap Mavendra pelan, tapi tajam.
“Saya butuh disiplin.”
Alesha sudah tak punya tenaga lagi untuk menjawab Mavendra. Tenaga dan pikirannya telah terkuras beberapa hari kebelakang. Ia lelah.
Keynan melirik Alesha sekilas, perempuan itu tampak pucat. Namun, tetap berusaha berdiri tegak di hadapan Mavendra.
“Kalau begitu. Besok pagi, saya ingin laporan itu sudah ada di meja saya. Tanpa kesalahan. Tanpa alasan,” lanjut Mavendra.
Ia berbalik, tapi langkahnya terhenti setelah satu kalimat terlepas dari bibir Alesha.
“Tapi, Tuan," suara Alesha lirih, tapi cukup jelas untuk membuat Mavendra menoleh.
"Saya tidak menerima bantahan!" ucapnya dengan nada datar dan dingin.
Sebenarnya, ada rasa iba dalam hati Mavendra saat melihat Alesha. Namun, sikap dinginnya tak bisa menutupi rasa iba itu. Mavendra menatap Alesha cukup lama. Tatapan dingin yang menembus hingga ke dasar hati Alesha. Gadis itu menunduk, berusaha menghindari sorot mata Mavendra yang tajam namun penuh arti.
“Ambil barangmu!” ucapnya datar.
“Kita pulang.”
Alesha mendongak pelan.
“Pulang, bersama Anda, Tuan?”
Tatapan Mavendra menajam.
“Apakah kamu pikir, saya akan membiarkan karyawan saya pulang sendirian di tengah malam? Dan diluar juga sedang hujan,” suaranya rendah, tenang, tapi menyengat.
“Lagipula, tujuan kita sama."
"B-baik, Tuan."
“Cepat!” Mavendra berbalik, keluar dari ruangan tanpa menunggu jawaban.
Keynan yang sejak tadi diam, menatap Alesha dengan ekspresi canggung.
“Nona Alesha, biar saya bantu bereskan laptopnya.”
Alesha menggeleng.
“Tidak perlu, Pak Keynan. Saya bisa sendiri.”
“Anda baik-baik saja, Nona?” tanya Keynan, saat tubuh Alesha sedikit oleng.
Alesha memaksa tersenyum.
“Ya. Saya hanya lelah.”
Keynan mengangguk.
Malam itu, perjalanan di dalam mobil berlangsung tanpa banyak suara.
Hanya deru mesin yang terdengar samar, berpadu dengan suara hujan yang cukup lebat malam itu.
Alesha duduk di kursi belakang, di samping Mavendra. Pandangannya kosong ke arah jendela yang berembun.
Sementara Mavendra, seperti biasa, tampak tenang. Tatapannya lurus ke depan, rahangnya mengeras, jemarinya mengetuk pelan sandaran tangan.
Keheningan itu terasa terlalu panjang. Menyesakkan.
Alesha berusaha menenangkan napasnya, tapi percuma. Setiap detik di dalam mobil terasa seperti ujian panjang yang tak berujung. Ia bisa merasakan aura dingin Mavendra di sampingnya, seolah udara di ruang sempit itu menolak untuk menghangat.
Tanpa menoleh, Mavendra berbicara, suaranya rendah namun tegas.
“Seharusnya kau tahu batas antara ambisi dan kebodohan.”
Alesha menoleh pelan, bingung dengan maksud ucapannya.
“Maksud Tuan?”
Mavendra menatap lurus ke depan.
“Kerja keras tanpa kendali bukan dedikasi. Itu kecerobohan. Dan saya tidak menyukai karyawan ceroboh.”
Alesha menunduk.
“Saya mengerti, Tuan.”
“Tidak," potongnya cepat.
“Kau tidak mengerti. Kalau mengerti, kau tidak akan memaksa dirimu bekerja sampai dini hari.”
Suasana kembali senyap. Hanya suara arloji Mavendra yang terdengar samar, setiap kali mobil melewati tikungan.
Mavendra menatap sekilas ke arah Alesha. Perempuan itu tampak letih, wajahnya pucat, tapi tatapan matanya tetap sama, keras kepala. Ada sesuatu dalam sorot itu yang membuat d**a Mavendra terasa sesak sesaat. Rasa iba, penasaran dan penuh tanda tanya. Sesuatu yang mengusik pikirannya sejak foto itu muncul di ponselnya.
Mavendra masih diam. Tatapannya lurus ke depan, tapi rahangnya mengeras setiap kali pandangannya secara tak sengaja menangkap bayangan Alesha di kaca jendela.
Keheningan itu akhirnya pecah ketika mobil berhenti di depan gerbang rumah besar keluarga Daneswara.
“Turun!” ucapnya singkat.
Alesha mengangguk, tangannya sedikit gemetar saat membuka pintu. Udara malam yang dingin langsung menyergap kulitnya. Hujan belum juga reda.
“Tunggu!" Suara Mavendra kembali terdengar.
Dalam sekejap, pria itu sudah berdiri di sisi lain mobil, membuka payung hitam besar dan menundukkannya sedikit ke arah Alesha.
Gerakannya tenang, tapi tatapan matanya tajam, menyembunyikan sesuatu yang tidak bisa Alesha baca.
Alesha sempat ragu melangkah.
“Saya bisa sendiri, Tuan.”
“Tidak perlu berdebat. Jalan!"
Nada itu datar, tapi entah kenapa, terasa lebih seperti perintah yang melindungi daripada menindas.
Langkah mereka beriringan menuju teras. Suara hujan menelan hampir semua bunyi lain. Hanya langkah sepatu mereka yang bergema di atas lantai basah, dan napas Alesha yang tersengal karena gugup.
Sesampainya di dalam rumah, Mavendra menutup payungnya tanpa bicara. Butiran air menetes dari ujungnya, membentuk genangan kecil di lantai marmer putih.
Alesha hendak pamit, tapi Mavendra mendahuluinya.
“Besok, istirahat.”
Nada itu pelan, tapi tegas. Tidak seperti biasanya.
Alesha mendongak pelan.
“Tapi laporan—”
“Sudah saya katakan, jangan membantah!"
Tatapan matanya menahan Alesha di tempat. Dingin, tapi kali ini tidak sekeras biasanya. Ada jeda di sana, seolah ia sedang menimbang sesuatu.
Alesha menunduk.
“Baik, Tuan.”
Mavendra menatapnya lama, nyaris tak berkedip.
“Alesha.”
Suara itu membuat perempuan itu spontan menegakkan tubuhnya.
“Ya, Tuan?”
Mavendra mendekat satu langkah, cukup dekat hingga Alesha bisa mencium aroma cologne maskulin yang selalu melekat pada sosoknya.
“Jika kau punya sesuatu yang perlu dikatakan, katakan sekarang.”
Alesha menahan napas. Sekujur tubuhnya menegang. Kalimat itu terasa seperti ujian, tajam, menembus, menekan d**a hingga sulit bernapas.
Namun bibirnya hanya bisa bergetar tanpa suara. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, tapi semuanya tersangkut di tenggorokan.
“Tidak ada, Tuan,” jawabnya akhirnya, lirih.
Mavendra menatapnya dalam, seolah mencari kebenaran di balik tatapan tenang itu. Tapi, yang ia temukan justru sesuatu yang lain, ketakutan. Dan rasa bersalah.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik.
Langkahnya menjauh, meninggalkan Alesha yang berdiri kaku di tempat yang sama.
Begitu Mavendra menghilang di balik tangga, Alesha baru berani menarik napas panjang. Tubuhnya bergetar ringan, bukan karena dingin, tapi karena satu kalimat yang terus bergema di kepalanya.
“Apakah dia sudah tahu ....”