Alesha terbangun, dengan kepala yang berat.
Sinar matahari menerobos lembut dari balik tirai, menyoroti meja kerja kecil di sudut kamarnya. Di sana, laporan yang semalam ia susun masih tergeletak rapi.
Ia menatapnya lama, lalu menarik napas panjang.
"Besok, istirahat."
Suara Mavendra masih terngiang di kepalanya.
Nada itu, bukan sekadar perintah. Ada sesuatu di sana.
Hangat, tapi menyakitkan di waktu yang sama.
Alesha menatap cermin di depannya. Wajahnya pucat, mata sembab. Ia mengusap pipinya pelan, mencoba menghapus sisa kantuk yang menempel.
Tapi yang tidak bisa ia hapus adalah perasaan aneh yang mengendap di dadanya sejak semalam.
Ia tak bisa melupakan cara Mavendra memandangnya. Tatapan tajam yang biasanya menegur, tapi kali ini, seolah menahan sesuatu.
Disaat seperti ini, biasanya ada sang ibu yang selalu menyemangati dan menguatkan dirinya. Namun, kini sudah tak ada lagi. Sumber kekuatannya telah pergi, untuk selama-lamanya.
Tak terasa, air mata jatuh perlahan di pipi mulus Alesha. Momen kebersamaan dirinya dan sang ibu kembali berputar.
"Sudah satu Minggu sejak kepergianmu. Kini tak ada lagi tempatku bercerita. Tak ada lagi tempatku berteduh. Aku sangat merindukanmu, Bu. Tenang disana, bidadariku. Doakan aku, agar aku kuat menjalani hidup tanpa ada ibu, disisiku."
Alesha buru-buru menghapus air matanya.
Di ruang makan, suasana pagi berjalan seperti biasa.
Suara alat makan dan aroma roti panggang menyambut Alesha.
Mavendra sudah duduk di ujung meja, mengenakan kemeja putih dan jas abu muda yang selalu tampak terlalu sempurna untuk jam sarapan. Wajahnya tenang, tapi jemarinya mengetuk ringan meja, kebiasaan yang selalu muncul ketika pikirannya sedang tidak tenang.
Di sebelahnya, Jean duduk manis sambil memakan sandwich kesukaannya. Hari ini, hanya ada mereka berdua di meja makan. Orang tua Maven sedang berlibur ke luar negeri.
Alesha berdiri di ambang pintu, menunduk pelan.
“Selamat pagi, Jean, Tu--" buru-buru ia memperbaiki, "Maven."
Ia baru teringat perintah Maven, jika ada Jean jangan panggil dia Tuan.
"Selamat pagi, Bunda."
Mavendra mendongak, pandangannya menelusuri wajah lelah Alesha.
Ia tidak berkata apa-apa selama beberapa detik.
“Duduklah,” katanya akhirnya.
Nada suaranya terdengar datar, tapi lebih lembut dari biasanya.
Alesha ragu sejenak sebelum akhirnya duduk di ujung meja, jauh darinya.
Ia tidak berani mengangkat kepala.
“Bagaimana keadaanmu?”
Pertanyaan itu sederhana, tapi justru membuat Alesha terpaku.
“Aku baik-baik saja.”
Mavendra menatapnya lebih lama kali ini.
“Tidak terlihat begitu.”
Alesha menelan ludah, mencoba menjaga nada suaranya tetap tenang.
“Hanya sedikit lelah.”
“Kalau lelah, berhenti memaksa diri.”
Nada itu lagi, dingin di permukaan, tapi lembut di dalamnya.
“Baik, Ven,” jawab Alesha cepat, meski dadanya terasa sesak.
Mavendra mengalihkan pandang, meneguk kopi yang mulai mendingin.
Namun matanya kembali menatap Alesha sekilas, pandangan yang seolah mengatakan lebih banyak dari kata-kata.
Ada sesuatu di balik sorot itu, keraguan, rasa bersalah dan sesuatu yang tak ingin ia akui, perhatian.
Setelah sarapan, Mavendra berdiri, merapikan jasnya.
“Aku akan ke kantor lebih awal.”
Alesha ikut berdiri.
“Baik, Ven. Aku akan menyusul nanti untuk menyerahkan laporan.”
“Tetap di rumah.”
Nada suaranya kali ini tegas.
Alesha menatapnya bingung.
“Tapi—”
“Tidak ada kata tapi.”
Ia menatap Alesha dalam, kali ini tanpa dinding dingin di balik matanya.
“Untuk sekali ini saja, dengarkan saya.”
Suasana hening sejenak.
Alesha hanya bisa menunduk, menahan debar aneh di dadanya.
Saat Mavendra berjalan melewatinya, bahu mereka bersentuhan ringan, cukup singkat, tapi cukup untuk membuat napas Alesha tercekat.
Wangi parfumnya masih sama. Hangat dan menenangkan.
Ketika pintu utama menutup pelan, Alesha masih berdiri di tempatnya.
Menatap arah kepergian Mavendra, sambil menggenggam erat jemarinya yang bergetar pelan.
Entah sejak kapan, rasa takut terhadap pria itu mulai berubah bentuk.
Masih ada tegang, masih ada cemas, tapi kini terselip sesuatu yang tak bisa ia tolak. Sesuatu yang justru membuatnya takut dengan cara yang berbeda.
Karena untuk pertama kalinya,
Alesha mulai takut. Bukan karena Mavendra bisa menghancurkan hidupnya, tapi karena pria itu perlahan, tanpa sadar, sedang menembus hatinya.
Ponsel di meja bergetar.
Satu pesan masuk dari nomor yang sudah terlalu ia kenal.
“Jangan datang ke kantor hari ini. Saya serius.”
Alesha menatap layar itu lama, lalu mengetik balasan yang tak pernah terkirim.
Ia tahu, jika ia menuruti perintah itu, pikirannya tak akan tenang. Tapi kalau ia melanggar, ia tahu akibatnya. Lamunannya tersadar, saat Jean memanggil dirinya.
"Bunda, Bunda sakit, ya?" tanya Jean yang melihat wajah pucat Alesha.
"Bunda cuma kelelahan aja, Sayang," jawabnya sambil mengelus rambut Jean dengan sayang.
"Jangan capek-capek, Bunda. Jean sedih kalau lihat bunda sakit."
"Enggak, Sayang. Bunda udah sembuh, lihat senyuman Jean."
***
Di ruangan yang berbeda, Mavendra tengah memeriksa berkas ketika pintu ruangannya diketuk pelan.
Ia tidak perlu menoleh.
“Masuk.”
Langkah pelan terdengar, lalu berhenti tepat di depan mejanya.
Aroma lembut yang sudah terlalu ia hafal mengisi udara di antara mereka.
“Saya bilang, jangan datang,” ucapnya datar tanpa mengangkat kepala.
“Saya hanya ingin menyerahkan laporan,” jawab Alesha pelan.
Suara itu bergetar sedikit, tapi tetap berusaha tenang.
Mavendra menutup map di tangannya, akhirnya ia mendongak.
Tatapan mereka bertemu. Sekejap saja, tapi cukup membuat waktu terasa berhenti.
Ia berdiri, perlahan mendekat.
“Kenapa selalu sulit kau dengarkan saya, hm?”
Nada itu rendah, tapi tidak mengancam. Lebih seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu, amarah, atau mungkin, perasaan.
Alesha menunduk, menahan debar di dadanya.
“Saya hanya ingin pekerjaan saya selesai.”
“Dan saya hanya ingin kau istirahat.”
Suara Mavendra menurun, hampir seperti bisikan.
“Bukan karena kau karyawan. Tapi karena saya… tidak ingin melihatmu seperti semalam.”
Alesha mengangkat kepala perlahan.
“Kenapa?”
Satu kata sederhana yang membuat Mavendra terdiam.
Ia menatap mata Alesha dalam. Begitu dalam, hingga sulit berpura-pura lagi.
“Karena setiap kali kau terlihat lemah, saya merasa bersalah. Padahal saya tidak seharusnya.”
Keheningan jatuh di antara mereka.
Tidak ada yang berani bicara lebih dulu.
Alesha membuka mulut, tapi suaranya hampir tak terdengar.
“Ven–"
Mavendra menatapnya lebih lama dari yang seharusnya.
“Saya minta maaf kalau membuatmu takut.”
Nada itu tulus. Terlalu tulus.
Alesha menggigit bibir bawahnya, menahan sesuatu yang ingin pecah.
“Yang membuat saya takut, bukan lagi Tuan,” katanya pelan.
“Yang saya takutkan adalah diri saya sendiri.”
Mavendra terdiam.
Tatapan itu menembus, tapi kali ini tidak ada dingin di sana.
Untuk pertama kalinya, keduanya tahu batas yang selama ini mereka jaga, mulai retak.