Alesha merasakan demam dan menggigil. Terdengar suara pintu kamar yang dibuka. Rupanya Jean.
"Bunda, kenapa?" tanya Jean saat melihat tubuh Alesha menggigil.
"Bunda cuma demam saja, Sayang."
Alesha berusaha menjawab Jean, meski matanya sulit untuk ia buka.
"Jean panggilkan papa ya, Bunda."
"Nggak usah, Nak. Jean disini saja ya, temani bunda."
"Tapi, kepala bunda panas sekali," ucap Jean ketika menyentuh dahi Alesha.
"Jean panggilkan papa saja ya, Bunda. Tunggu sebentar."
Setelah mengucapkan kata itu, Jean berlari keluar kamar menuju ruang kerja Mavendra. Pintu dibuka dengan keras oleh Jean, mengagetkan Mavendra yang sedang memeriksa dokumen kantor.
"Kamu kenapa, Jean?"
"Papa, Bunda demam. Kepala bunda panas sekali. Badan bunda juga bergetar," ucapnya dengan napas tak beraturan, karena lelah berlari.
Begitu mendengar itu, Mavendra langsung berdiri sampai kursinya terjatuh, tapi ia tak peduli. Langkahnya panjang dan cepat, menembus lorong menuju kamar Alesha.
Begitu pintu terbuka, napasnya tercekat.
Tubuh Alesha terbaring lemah di atas ranjang, wajahnya pucat, bibirnya nyaris tak berwarna. Selimut yang menutupi tubuhnya bergetar halus karena menggigil.
“Alesha."
Panggil Mavendra cepat, suaranya terdengar berat tapi mengandung nada khawatir, yang jarang sekali ia tunjukkan.
Ia duduk di tepi ranjang, menempelkan punggung tangannya ke dahi Alesha. Panasnya tinggi, terlalu tinggi.
“Kenapa kamu tidak bilang?” gumamnya pelan, hampir seperti bicara pada diri sendiri.
Alesha membuka matanya sedikit.
“Saya tidak apa-apa, Ven. Cuma demam ringan.”
Suara itu lirih, nyaris seperti bisikan.
“Demam ringan apanya,” balas Mavendra cepat.
Ia bergegas mengambil air dalam mangkok dan handuk kecil dari laci nakas. Dengan gerakan hati-hati, ia menempelkan handuk itu ke dahi Alesha.
Jean berdiri di sisi ranjang, menatap khawatir.
“Papa, Bunda kenapa?”
“Bunda cuma kelelahan. Kamu bantu Papa ya, ambil selimut satu lagi,” ucap Mavendra tanpa menoleh.
Jean segera berlari kecil, mengambil selimut dari lemari.
Tanpa sadar, bibir Alesha sedikit terangkat saat mendengar Mavendra mengucap kata, Bunda.
Sementara itu, Mavendra memegang tangan Alesha. Dingin, kontras dengan panas tubuhnya. Ia menggenggamnya lebih erat dan membantu Alesha untuk minum obat.
“Kamu harus istirahat. Saya tidak mau melihat kamu memaksa kerja lagi.”
Alesha hanya diam. Matanya mulai berat, tapi ia masih bisa mendengar nada lembut yang jarang keluar dari pria itu.
Mavendra menatap wajahnya lama.
“Kalau kamu jatuh sakit, siapa yang urus Jean?”
Suaranya lebih pelan, seperti menahan sesuatu yang tak ingin diucapkan.
Alesha mencoba tersenyum tipis.
“Ada anda, kan?”
Kalimat itu membuat d**a Mavendra terasa sesak entah kenapa. Ia menghela napas panjang, lalu membetulkan selimut di tubuh Alesha.
“Tidur,” katanya lembut.
“Saya jagain kamu di sini.”
Jean yang duduk di sisi lain ranjang menatap mereka berdua, lalu berbaring di samping Alesha.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, kamar itu terasa hangat, bukan karena suhu tubuh, tapi karena kehadiran yang saling menjaga dalam diam. Dan untuk pertama kalinya pula, mereka bertiga berada dalam satu ranjang yang sama. Walaupun akhirnya, Maven memindahkan Jean ke kamarnya.
Alesha terbangun dengan kepala masih berat. Gerakannya pelan saat ia mencoba bangkit, tapi sebelum sempat duduk tegak, suara tegas yang familiar terdengar.
“Jangan bangun dulu.”
Ia menoleh. Mavendra berdiri di sisi ranjang, dengan kemeja yang lengan kirinya masih tergulung. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya terlihat lelah.
“Kamu belum sepenuhnya pulih,” lanjutnya, kali ini lebih pelan.
Alesha menunduk.
“Saya tidak enak, Ven. Harusnya saya–”
“Diam.”
Satu kata itu cukup membuatnya berhenti bicara.
“Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Urusan Jean dan kerjaan, sudah saya tangani. Kamu cukup istirahat.”
Alesha menatapnya sebentar.
“Anda tidak tidur?”
“Tidur,” jawab Mavendra singkat sambil merapikan gelas di meja nakas.
“Cuma satu jam.”
“Kenapa tidak istirahat di kamar anda?”
Mavendra berhenti sejenak, lalu menatapnya tanpa ekspresi.
“Saya tidak tenang meninggalkan kamu.”
Jawaban itu membuat d**a Alesha menegang sesaat. Ia tidak tahu harus menjawab apa, jadi hanya menatap tangannya sendiri yang masih terasa dingin.
“Jean?” tanyanya pelan.
“Masih tidur di kamarnya. Saya yang gendong tadi malam.”
Alesha tersenyum tipis.
“Dia pasti khawatir.”
“Mungkin.”
Mavendra menarik kursi dan duduk. Ia bersandar, pandangannya jatuh ke arah Alesha.
“Tapi bukan cuma dia.”
Alesha terdiam, ia tahu arti kalimat itu. Dan Mavendra pun tahu, ia baru saja mengatakannya tanpa sadar.
Keheningan menggantung di antara mereka. Hanya napas pelan dan jarak yang terasa anehnya begitu dekat.
“Ven,” ucap Alesha akhirnya.
“Anda tidak perlu—”
“Saya mau,” potongnya cepat.
“Saya mau jagain kamu. Tanpa alasan, tanpa kontrak, tanpa syarat.”
Alesha menatapnya, matanya memanas.
“Jangan begitu, Ven. Anda tahu batasnya.”
“Batas itu cuma ada kalau salah satu dari kita pura-pura tidak merasa apa-apa,” balas Mavendra pelan, namun mantap.
Kata-katanya menggantung lama di udara.
Alesha menunduk, menarik napas gemetar.
Alesha masih menunduk, menatap selimut yang diremas di tangannya. Ia tidak berani menatap Mavendra lagi. Suasana kamar menjadi terlalu sunyi, bahkan detak jam di dinding terasa begitu jelas.
Sementara itu, Mavendra hanya diam. Tapi pikirannya tidak.
Ada sesuatu yang tidak bisa ia pahami dari dirinya sendiri akhir-akhir ini, setiap kali menyebut nama Alesha, dadanya terasa berat. Setiap kali melihat perempuan itu tersenyum, ada sesuatu yang menghangat tanpa izin.
Ia mengerjap cepat, mencoba menepis pikirannya sendiri. Tidak, ini bukan perasaan itu, ini cuma empati, kasihan. Karena Alesha orang baik, karena dia perhatian ke Jean, karena ....
Bahkan, pikirannya sendiri terdengar seperti alasan yang dipaksakan.
Mavendra bangkit, berjalan ke arah jendela, membuka sedikit tirai, membiarkan sinar pagi masuk ke kamar yang terasa pengap oleh perasaan yang tak terucap.
“Kamu istirahat,” katanya akhirnya, dengan nada yang kembali datar, berusaha netral, seperti biasanya.
“Saya ke kantor sebentar.”
Alesha mengangkat wajahnya pelan.
“Anda yakin? Padahal semalam—”
“Saya bilang istirahat.”
Nada itu kembali tegas, tapi entah kenapa ada sedikit goyah di ujungnya.
Alesha hanya mengangguk.
“Baik, Ven.”
Mavendra berbalik hendak keluar, tapi langkahnya terhenti di depan pintu.
Entah dorongan dari mana, ia menoleh lagi, menatap Alesha yang kini bersandar di kepala ranjang, matanya sayu, wajahnya masih pucat tapi… damai.
Dan entah kenapa, pemandangan itu membuat hatinya terasa aneh, seolah ada sesuatu yang ia takut kehilangan.
Ia mengepalkan tangan di sisi tubuhnya, berusaha mengendalikan diri.
“Kalau demamnya naik lagi, hubungi saya. Jangan diam saja.”
Alesha tersenyum tipis.
“Nanti kalau saya kabari, anda tidak akan tenang di kantor.”
Mavendra menatapnya lama.
“Mungkin memang begitu.”
Alesha tertegun. Ia ingin menjawab, tapi suara pintu tertutup lebih dulu.
Begitu keluar, Mavendra menegakkan bahunya, mencoba kembali ke dirinya yang biasa. Dingin, tenang dan teratur.
***
Setiap langkah menuju ruang kerjanya, terasa berat. Ia membuka laptop, menatap layar, tapi pikirannya tidak di sana.
Wajah Alesha muncul lagi di benaknya. Tatapan lembutnya. Suaranya yang pelan saat memanggil namanya.
Dan perasaan itu, yang sudah lama ia kubur bersama kenangan masa lalu, kembali muncul tanpa izin.
“Sial,” gumamnya pelan, mengusap wajahnya kasar.
“Ini cuma karena dia perhatian ke Jean. Cuma itu.”
Tapi bahkan dirinya sendiri tahu, kalimat itu bohong.Ia menarik napas panjang, menatap keluar jendela, mencoba mengalihkan pikiran.
Namun, seaneh apapun ia menyangkal, di sudut hatinya, Mavendra tahu satu hal,
Ada yang berubah. Dan perubahan itu bernama Alesha.