Mavendra menutup laptop dengan kasar. Seharusnya ia bisa fokus. Tapi setiap baris laporan yang terbuka, hanya membuat kepalanya semakin berisik.
Ia bersandar, menekan pelipis. Nama itu lagi. Alesha.
Kenapa setiap kali ia mencoba menjauh, justru semakin terasa dekat?
Ponselnya bergetar. Pesan dari Keynan.
"Tuan, rapat dengan para direksi dijadwalkan ulang besok pagi, pukul sembilan."
Mavendra hanya membalas singkat.
"Baik."
Tangannya berhenti di layar, sedangkan pikirannya tetap di tempat lain. Tadi malam, ketika Alesha memanggil namanya dengan suara lemah itu, ada sesuatu di dalam dirinya yang bergetar. Sesuatu yang dulu sempat mati, bersama kepergian Karin. Sesuatu yang seharusnya tidak muncul lagi.
Ia berdiri, berjalan ke arah meja kecil, tempat foto Jean dan Karin masih berdiri berdampingan.
“Jangan lihat saya seperti itu,” gumamnya pelan.
“Saya tidak sedang menggantikanmu.”
Tapi bahkan ia sendiri tidak yakin dengan kalimat itu. Ia memejamkan mata.
Alesha bukan Karin. Tapi entah kenapa, ada kehangatan yang sama. Beda bentuknya, tapi membuat luka lama yang membeku mulai mencair.
Ia mendesah berat.
“Tidak boleh, Ven,” gumamnya pada diri sendiri.
“Jangan sampai salah lagi.”
Namun suara hatinya tak berhenti berbisik.
"Lalu kenapa kamu takut kalau dia pergi?"
***
Alesha duduk di tepi ranjang, tubuhnya masih lemah tapi pikirannya mulai jernih. Ia menatap ponsel di tangannya, membuka pesan yang belum sempat ia kirim tadi malam.
"Terima kasih, Tuan. Sudah jagain saya."
Ia menatap kalimat itu lama, lalu menghapusnya sebelum sempat terkirim. Ia tahu batasnya. Ia tahu siapa dirinya di rumah itu.
Bukan istri. Bukan pasangan. Hanya pengasuh yang kebetulan diberi tempat di sisi pria yang hatinya masih belum sembuh sepenuhnya.
Tapi hatinya sendiri mulai berkhianat.
Setiap kali melihat cara Mavendra memperlakukan Jean, caranya menatap tanpa sadar saat berbicara dengannya. Ada sesuatu yang membuat dadanya hangat sekaligus takut.
Ia menggenggam ponsel lebih erat.
“Jangan bodoh, Alesha,” bisiknya lirih.
“Kamu cuma sementara di sini.”
***
Sore itu, Mavendra kembali lebih awal. Tidak seperti biasanya.
Begitu membuka pintu, langkahnya otomatis mengarah ke kamar Alesha, bukan ruang kerja. Ia bahkan tidak berpikir kenapa.
Ketika melihat Alesha sedang membantu Jean menata mainan, ia berhenti di ambang pintu.
Tawa kecil Jean memenuhi ruangan. Alesha ikut tertawa. Tulus dan lembut, membuat sesuatu dalam diri Mavendra serasa pecah pelan.
Jean menoleh dan berseru.
"Papa!"
Alesha ikut menatap, tatapan mereka bertemu, hanya sekejap. Tapi cukup untuk membuat waktu berhenti sejenak.
Maven tahu perasaan itu mulai tumbuh. Tapi, otaknya menolak untuk mengakuinya.
“Sudah baikan?” Suaranya keluar lebih lembut dari yang ia rencanakan.
Alesha mengangguk.
“Sudah. Terima kasih, Ven.”
Ia membalas dengan anggukan cepat, tapi dadanya bergetar aneh.
Tatapan itu, suara dan senyumnya terlalu berbahaya.
Ia harus menjaga jarak. Tapi, anehnya setiap kali ia mencoba, langkahnya justru makin mendekat.
Kali ini bahkan tanpa sadar, tangannya terulur menyentuh ujung rambut Alesha yang tergerai di bahu.
Hanya sepersekian detik, tapi cukup untuk membuat keduanya membeku.
Mavendra cepat-cepat menarik tangannya.
“Maaf,” ucapnya pelan, suaranya berat.
Alesha hanya diam, tapi jantungnya berdebar keras.
Ada sesuatu di antara mereka. Tidak diucap, tidak direncanakan, tapi nyata.
Sejak hari itu, baik Alesha maupun Mavendra tahu, sesuatu telah berubah.
Namun, keduanya sama-sama memilih diam. Karena terkadang, menyangkal lebih mudah daripada mengakui bahwa hati mereka mulai goyah.
***
Keesokan harinya, Mavendra tiba lebih pagi dari biasanya. Rapat direksi dimulai pukul sembilan, tapi ia sudah duduk di ruangannya sejak pukul tujuh.
Laporan-laporan terbuka di meja, tapi pikirannya tidak di sana.
Ia tahu hari ini penting, pembahasan tentang proyek baru dan investor yang menunggu keputusan. Tapi entah kenapa, bayangan Alesha masih menempel di kepalanya.
Ketukan di pintu memecah lamunannya.
“Masuk,” ucapnya datar.
Keynan masuk dengan map tebal di tangan.
“Semua data sudah disiapkan, Tuan. Tim finansial dan marketing juga sudah standby.”
Mavendra mengangguk singkat.
“Baik. Siapkan ruang meeting.”
Keynan menatapnya sejenak, ragu.
“Tuan terlihat lelah. Apa—”
“Saya baik-baik saja,” potong Mavendra cepat. Suara itu terdengar lebih tajam dari yang seharusnya.
Keynan hanya menunduk.
“Baik, Tuan.”
Ia keluar tanpa menambah kata.
Begitu pintu tertutup, Mavendra menatap pantulan dirinya di kaca jendela. Dingin. Tegas. Tak bercacat. Setidaknya itu yang ia tunjukkan. Padahal, di balik pantulan itu, pikirannya porak-poranda oleh satu nama.
***
Rapat dimulai. Deretan direksi sudah duduk di kursi masing-masing. Suara presentasi bergema, angka-angka dipaparkan, grafik naik-turun silih berganti.
Tapi Mavendra hanya mendengar setengahnya. Tangannya menggenggam pena, mengetuk-ngetuk meja tanpa sadar. Sampai akhirnya Keynan menyebut satu kalimat yang menarik perhatiannya.
“Untuk proyek cabang baru, kita butuh tim tambahan di bagian administrasi. Saya merekomendasikan Alesha, Tuan. Berdasarkan kinerja dan ketelitiannya selama ini.”
Seluruh pandangan di ruangan langsung tertuju pada Mavendra. Sekilas ia menatap Keynan, lalu menutup map di depannya perlahan.
“Tidak,” jawabnya tenang, tapi nada suaranya tajam.
“Dia harus tetap fokus di posisinya yang sekarang.”
Keynan menatapnya, sedikit heran.
“Tapi Tuan, kemampuan—”
“Saya sudah bilang tidak.”
Nada itu cukup untuk membuat ruangan hening.
Salah satu direktur hanya mengangguk pelan, mencoba mengalihkan topik.
“Tentu, kita bisa cari alternatif lain.”
Namun Keynan tahu, itu bukan soal posisi atau pekerjaan.
Ada alasan lain di balik penolakan itu.
***
Sore harinya, Mavendra baru kembali ke rumah. Langkahnya berat, tapi begitu melihat Jean berlari kecil menyambutnya, senyum tipis muncul tanpa sadar.
“Papa!”
Anak itu memeluk kakinya.
“Bunda masak sup buat Papa!”
Mavendra mengerutkan dahi.
“Dia sudah cukup kuat untuk masak?”
Jean mengangguk semangat.
“Iya, Papa mau coba?”
Mavendra tidak menjawab, hanya mengikuti langkah kecil Jean menuju dapur. Dan di sana, Alesha sedang berdiri di depan kompor, dengan celemek yang sedikit kebesaran.
Ia menoleh, tersenyum pelan.
“Oh, anda sudah pulang.”
Suara itu lagi. Tenang, lembut, tapi entah kenapa mampu membuat pertahanan Mavendra runtuh setiap kali mendengarnya.
“Kamu belum seharusnya banyak bergerak,” ucapnya, nadanya terdengar seperti teguran tapi samar-samar terdengar khawatir.
“Saya sudah jauh lebih baik,” jawab Alesha pelan.
“Lagipula, Jean ingin bantu memasak.”
“Papa, enak banget loh," seru Jean bangga, membuat Mavendra hanya bisa mengangguk kecil.
Ia duduk, menatap Alesha yang sibuk menyiapkan mangkuk.
Gerakannya hati-hati, matanya fokus. Tidak ada yang istimewa sebenarnya, tapi entah kenapa pemandangan itu membuat dadanya terasa penuh. Sekelebat bayangan Karin muncul dalam pikirannya. Buru-buru ia menepisnya.
Saat Alesha meletakkan mangkuk di depannya, jari mereka tanpa sengaja bersentuhan. Sekilas saja. Tapi cukup membuat napasnya berhenti sepersekian detik.
“Terima kasih,” ucapnya datar.
Namun matanya tak bisa berpaling.
Alesha menunduk cepat.
“Sama-sama, Ven.”
Dan selama makan malam itu, mereka hampir tidak berbicara, tapi suasana di antara mereka terasa berbeda. Ada jarak yang sama-sama ingin dijaga, tapi juga sesuatu yang diam-diam ingin mereka langgar.
Ketika Alesha mencuci piring, Mavendra berdiri di ambang pintu. Diam. Hanya menatap.
Alesha sadar kehadirannya.
“Kenapa anda belum istirahat?” tanyanya tanpa menoleh.
“Ada yang ingin saya bicarakan,” jawab Mavendra pelan.
Langkahnya mendekat. Cukup dekat hingga Alesha bisa merasakan kehangatan tubuhnya di belakang punggung Alesha.
Alesha menelan ludah.
“Tentang apa?”
“Meeting tadi,” katanya pelan.
“Keynan mengusulkan kamu untuk pindah posisi. Saya menolak.”
Alesha terdiam sejenak.
“Kenapa?”
Mavendra tidak langsung menjawab.
Ia menatap punggung perempuan itu lama, sebelum akhirnya berkata pelan,
“Karena saya tidak ingin kamu pergi.”
Kata-kata itu jatuh begitu saja. Tanpa bisa ditarik kembali. Alesha mematung. Tangan yang memegang piring berhenti di udara.
“Ven–”
Suara itu nyaris seperti bisikan.
“Saya tahu batasnya,” lanjutnya pelan.
“Tapi, saya juga tahu … saya tidak ingin batas itu membuat kamu menjauh.”
Alesha memejamkan mata. Antara ingin menangis, atau tertawa pahit.