Beberapa hari berlalu sejak malam itu. Alesha mencoba bersikap biasa, seolah tidak ada yang berubah. Tapi, setiap kali Mavendra ada di dekatnya, ia tak bisa sepenuhnya tenang.
Ucapan pria itu masih berputar di kepalanya.
“Karena saya tidak ingin kamu pergi.”
“Tapi, saya juga tahu… saya tidak ingin batas itu membuat kamu menjauh.”
Namun, nyatanya setelah malam itu, justru Mavendra yang menjauh darinya. Sikapnya juga berubah dingin seperti dulu.
Tidak ada lagi percakapan singkat di antara mereka. Tidak ada lagi sapaan untuk dirinya, saat berpapasan di ruang tengah.
Ia kembali menjadi versi Mavendra yang dulu. Tegas, berjarak, dan terlalu tenang, untuk seseorang yang pernah bicara dengan suara bergetar karena perasaan.
Alesha mulai bingung. Apakah malam itu hanya kebetulan? Atau semua kata yang ia dengar hanya emosi sesaat?
***
Saat Alesha hendak menyiapkan sarapan, ia melihat Mavendra keluar dari kamar dengan pakaian rapi.
“Sudah mau berangkat?” tanyanya pelan.
Mavendra menatap sekilas.
“Ada meeting di luar. Mungkin pulang malam.”
Nada suaranya datar. Tidak ada senyum, tidak ada kehangatan.
Alesha mengangguk singkat.
“Baik."
Begitu pria itu pergi, ia menatap punggungnya lama. Ada sesuatu di d**a yang terasa sesak. Ia ingin percaya pada kata-kata Mavendra waktu itu. Tapi bagaimana bisa, kalau setiap tindakan pria itu justru menolak ucapannya sendiri?
***
Di kantor, Mavendra tampak fokus di depan layar laptop. Tapi pikirannya tidak sepenuhnya di sana.
Setiap kali melihat rambut panjang Alesha terlintas di pikirannya, ia langsung menutup laptop dengan kasar. Ia benci perasaan itu. Benci karena ia tidak bisa mengendalikannya.
Baginya, Alesha terlalu mirip dengan Karin. Bukan hanya wajahnya, tapi caranya berbicara, menatap, bahkan tersenyum. Dan setiap kali Mavendra menyadari kemiripan itu, rasa bersalah menamparnya keras.
“Aku cuma melihat Karin di dirinya,” gumamnya lirih, mencoba meyakinkan diri.
Tapi semakin ia menyangkal, semakin jelas rasa itu tumbuh.
***
Saat Mavendra pulang, Alesha tengah duduk bersama Jean di ruang tamu. Anak itu tertawa kecil, memamerkan gambar buatannya.
“Bunda. Ini Papa, ini Bunda, dan ini aku,” katanya bangga.
Alesha tersenyum lembut.
“Wah, bagus sekali.”
Tapi ketika Mavendra datang, tawa kecil itu mendadak hilang. Ia hanya memberi anggukan singkat.
“Jean, mandi ya. Bunda, bantu.”
Alesha tahu, Mavendra menghindar.
Ia bisa merasakannya dari tatapan yang sengaja tak bertahan lama, dari jarak yang kembali ia bangun pelan-pelan.
Malamnya, setelah Jean tidur, Alesha keluar dari kamar. Ia melihat lampu ruang kerja masih menyala. Tanpa pikir panjang, ia mengetuk pelan.
“Masuk.”
Suara Mavendra terdengar berat.
Alesha membuka pintu.
“Saya cuma ingin memastikan, apakah saya melakukan kesalahan?”
Mavendra mengangkat pandangan.
“Tidak ada.”
“Kalau tidak ada, kenapa anda berubah?”
Ia tidak langsung menjawab. Hanya menarik napas panjang, lalu berdiri. Langkahnya mendekat, membuat Alesha menegakkan tubuh.
“Tidak ada yang berubah."
"Lalu?"
"Saya hanya tidak boleh salah lagi,” ucapnya pelan.
“Saya pernah kehilangan seseorang karena perasaan yang saya biarkan tumbuh tanpa arah. Saya tidak mau mengulanginya.”
Alesha menatapnya dalam.
“Jadi, anda pikir saya cuma pengganti Karin?”
Mavendra terdiam. Wajahnya tegang. Ia Marah. Ia ingin bilang tidak, tapi lidahnya kelu. Karena di dalam pikirannya, bayangan Karin dan Alesha selalu tumpang tindih.
“Itu yang saya takutkan,” gumam Alesha lirih, menunduk.
“Bahwa semua ini cuma tentang masa lalu yang belum selesai.”
Alesha menutup matanya sebentar, menahan air mata yang hampir jatuh.
“Kalau begitu, berhentilah membuat saya berharap.”
"Semua ini cuma tentang masa lalu yang belum selesai."
Mavendra terdiam. Tidak ada yang bisa ia katakan. Dan untuk pertama kalinya, Alesha berjalan keluar tanpa menoleh lagi.
Karena kali ini, bukan rasa sakit yang ia takutkan, tapi harapan yang terus Mavendra tarik ulur, hingga akhirnya mulai menghancurkan dirinya perlahan.
Mavendra berdiri mematung di ruang kerjanya setelah Alesha menutup pintu. Rahangnya mengeras, napasnya berat. Kata-kata Alesha berputar di kepalanya seperti duri yang menancap dalam.
"Semua ini cuma tentang masa lalu yang belum selesai."
Tangannya mengepal. Ia memukul meja kerja dengan keras hingga beberapa dokumen berjatuhan.
“Kenapa dia harus bawa-bawa Karin?” geramnya pelan, tapi penuh amarah yang ditahan.
Pintu terbuka tiba-tiba. Alesha kembali, wajahnya tampak kaget mendengar suara benturan keras itu.
“Ven, saya—”
“Cukup!”
Suara Mavendra meninggi, tegas, tapi ada getar di ujungnya.
“Jangan sebut nama dia lagi di depan saya.”
Alesha membeku di tempat.
“Saya tidak bermaksud—”
“Tidak bermaksud?” Potong Mavendra tajam. Ia melangkah mendekat, pandangannya menusuk.
“Kau pikir mudah mendengar nama itu dari mulut orang lain? Dari kau?”
Alesha menatapnya dengan mata bergetar, tapi tidak mundur.
“Saya cuma ingin jujur, Ven. Karena setiap kali anda menatap saya, saya tahu yang anda lihat bukan saya.”
“Berhenti!”
Suara Mavendra kembali meninggi.
“Kau tidak tahu apa-apa tentang saya. Jangan berani menilai!”
Alesha menelan ludah, dadanya sesak.
“Kalau saya tidak tahu, lalu siapa yang selama ini berusaha mengerti anda, Ven? Siapa yang ada di rumah ini, melihat bagaimana anda berjuang menahan semuanya sendiri?”
Mavendra terdiam sejenak, tapi sorot matanya masih keras.
“Dan karena itu kau merasa berhak mengorek masa lalu saya?”
“Saya tidak mengorek,” suara Alesha melemah, tapi tulus.
“Saya cuma ingin tahu… kapan anda akan berhenti menyiksa diri dengan bayangan orang yang sudah pergi.”
Wajah Mavendra menegang. Langkahnya maju satu, dua, hingga jarak mereka tinggal sejengkal. Tatapan itu panas, marah, tapi juga terluka.
“Jangan bicara seolah kau tahu apa rasanya kehilangan seseorang yang kau cintai sampai mati, Alesha,” ucapnya dengan suara rendah, berat.
“Kau tidak tahu apa-apa tentang kehilangan itu.”
Alesha terdiam. Matanya berkaca. Tapi alih-alih mundur, ia justru menatap balik, kali ini dengan keteguhan yang jarang keluar darinya.
“Anda salah,” suaranya lirih, tapi tegas.
“Saya tahu rasanya kehilangan.”
Ia menarik napas dalam, menahan getar di dadanya.
“Saya juga pernah kehilangan seseorang yang paling saya cintai dan paling berharga dalam hidup saya... yaitu Ibu saya.”
Mavendra menatapnya, tapi Alesha tidak berhenti.
“Jadi jangan pernah bilang kalau cuma anda yang tahu rasanya kehilangan orang tersayang. Karena setiap malam, saya juga belajar berdamai dengan sepi.”
Suara di antara mereka meredup.
Mavendra membeku di tempatnya, sementara Alesha menatapnya dengan mata yang bergetar. Antara marah dan sedih.
“Bedanya," suaranya melemah.
“Saya tidak menyakiti orang lain karena luka itu.”
Hening. Udara di ruangan terasa berat, nyaris mencekik.
Dan sebelum Mavendra sempat membalas, Alesha sudah berbalik. Langkahnya pelan, tapi penuh arti.
Sampai akhirnya ia berhenti di depan pintu, tanpa menoleh.
“Hati yang belum sembuh, jangan paksa orang lain untuk menanggung lukanya.”
Pintu tertutup. Kali ini, Mavendra hanya berdiri diam, dengan d**a yang mulai terasa sesak. Karena untuk pertama kalinya, seseorang berani menyentuh luka yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.