Bab 15. Menjaga Jarak

1477 Kata
Alesha bangun lebih awal dari biasanya. Ia membereskan kamar, menyiapkan kebutuhan Jean, lalu turun tanpa mengecek apakah Mavendra sudah bangun atau belum. Biasanya, ia akan memastikan kopi pria itu siap di meja. Pagi ini, ia hanya menyiapkan sarapan untuk Jean, tidak untuk yang lain. Saat Mavendra keluar dari kamar, ia mendapati meja makan yang sudah tertata, tapi tidak ada satu pun piring atau gelas yang disiapkan untuknya. Terlihat Alesha sedang membantu Jean memakai sepatu, sangat fokus sampai tidak menyadari kehadiran Mavendra. Mavendra berdiri beberapa detik, menunggu Alesha menoleh. Namun, Alesha tak menoleh sama sekali. "Ekhem." Mavendra mencoba berdehem ringan, namun Alesha tetap tak menoleh padanya. “Alesha.” Pada akhirnya, Mavendra memanggilnya pelan. Alesha menghentikan tangannya. Tapi ia tidak mengangkat wajah. “Ya?” Jawabannya singkat, tanpa intonasi lembut yang biasanya ia berikan. “Makan dulu,” kata Mavendra. “Sudah.” Jawabannya tetap pendek, tanpa menatap Mavendra. Cukup untuk membuat d**a Mavendra mengeras halus. Jean berlari kecil menuju Mavendra, memperlihatkan sepatu yang sudah terpasang. “Papa, lihat! Rapi!” Mavendra tersenyum tipis dan menepuk kepala anak itu. "Iyaa, Sayang. Rapi." Alesha berdiri, mengambil tas Jean, lalu menyerahkannya pada Mavendra tanpa benar-benar melihat wajahnya. Gerakannya sopan, tapi dingin. “Saya berangkat duluan. Ada yang harus saya kerjakan.” Biasanya ia menunggu sampai Mavendra selesai sarapan. Biasanya ia memastikan semuanya benar. Tapi hari ini, ia hanya mengambil tasnya dan berjalan melewati pria itu dengan langkah yang tidak tergesa. “Alesha." Panggil Mavendra lagi, sedikit lebih tegas. Alesha berhenti, hanya berdiam diri, tidak berbalik. Mavendra menelan ludah. “Kita perlu bicara.” Alesha menjawab dengan suara yang tidak bergetar, tidak ragu, tapi cukup membuat sesuatu di dalam Mavendra runtuh perlahan. “Tidak sekarang.” Lalu ia pergi, tanpa menoleh kembali. *** Di kantor, Mavendra beberapa kali membuka layar laptop, lalu menutupnya lagi. Ia mencoba fokus, tapi ingat bagaimana Alesha berdiri pagi tadi. Diam, datar, dan… selesai. Selama beberapa hari kebelakang, ia mulai terbiasa dengan Alesha yang lembut. Yang menunggu. Yang peduli. Tapi tidak untuk pagi ini. Alesha berusaha menciptakan jarak diantara mereka. Jarak yang cukup menyiksa dan menyulitkan bagi Mavendra. Mavendra tidak tahan dengan jarak itu. Tapi ia juga tidak punya hak untuk menarik Alesha kembali setelah percakapan tegang diantara mereka, semalam. “Menyedihkan,” gumamnya lirih, sambil memijat pangkal hidung. “Kenapa sekarang baru terasa seperti ini?” Ia tahu jawabannya. Karena untuk pertama kalinya, Alesha benar-benar mundur. Itu membuat rasa takut yang tidak ia akui berubah menjadi sesak yang menekan dadanya. *** Sore hari, Mavendra pulang lebih awal. Bukan karena pekerjaannya selesai, tapi karena ia ingin memastikan Alesha masih berada di rumah itu, bahkan jika ia tahu Alesha tidak akan menyambutnya. Alesha sedang melipat pakaian Jean di ruang tengah. Jean duduk di karpet, bermain mobil-mobilan. Saat Mavendra masuk, Alesha hanya mengangkat wajah sekilas. Hanya sekilas, lalu kembali pada lipatannya. “Jean sudah makan?” tanya Mavendra. “Sudah," jawab Alesha singkat. Mavendra duduk di sofa, memperhatikan gerakan Alesha. Perempuan itu tidak menghindar, tapi juga tidak mendekat. Ia menempatkan dirinya pada posisi aman, cukup dekat untuk tetap menjalankan tugas, tapi cukup jauh agar perasaan tidak perlu bersinggungan. “Alesha.” Nada suara Mavendra lebih hati-hati. Alesha menghentikan lipatannya, tapi masih tidak menatapnya. “Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya datar. “Tidak.” Ia menelan ludah. “Aku cuma ingin bicara.” Alesha menghela napas perlahan, lalu bangkit. “Saya harus mandikan Jean dulu.” "Ayo, Sayang, mandi dulu. Sudah sore." Alesha memanggil Jean. Jean pun langsung berdiri dan meraih tangan bundanya. "Ayo, Bunda." Seperti pagi tadi, Alesha berjalan melewati Mavendra tanpa menyentuh apa pun dari dirinya. Ia hanya diam, berusaha menjaga jarak. Mavendra hanya bisa menatap punggung itu yang mulai menjauh. Punggung yang semalam bergetar karena emosi, dan pagi ini menjadi datar karena luka. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasakan ketakutan yang tidak ingin ia akui. Ketakutan bahwa Alesha mungkin sudah benar-benar akan menjauh dari dirinya. *** Setelah membaringkan Jean dan memastikan anak itu tertidur pulas, Alesha kembali ke kamarnya. Ia mengerjakan beberapa hal ringan, lalu berbaring, mencoba memejamkan mata. Tapi tenggorokannya terasa kering. Air minum di meja kecilnya sudah habis. Dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara, ia bangkit dan keluar dari kamar. Langkahnya ringan, nyaris tak terdengar. Ia berjalan menuju dapur, menyalakan lampu kecil di sudut dekat kulkas, lalu duduk sambil menuang segelas air putih. Dapur itu sunyi. Hanya suara jarum jam yang terdengar. Alesha meminum setengah gelas air itu, lalu diam sejenak. Menatap kosong ke arah wastafel. Entah kenapa, malam ini terasa lebih panjang. Ia tidak sadar pintu ruang kerja Mavendra terbuka pelan. Mavendra baru saja menyelesaikan beberapa berkas yang tidak sempat ia kerjakan di kantor. Matanya pegal. Punggungnya kaku. Ia berniat mengambil air sebelum tidur, sampai melihat cahaya samar dari dapur. Alisnya terangkat, lalu ia melangkah pelan. Lalu berhenti di ambang pintu. Alesha. Duduk sendirian dengan bahu yang terlihat kecil, tapi tetap tegak. Rambutnya jatuh ke samping, menutupi setengah wajahnya. Mavendra merasakan sesuatu mencengkeram dadanya. Bukan rindu, bukan marah, melainkan rasa bersalah. Ia mengambil napas pelan, lalu melangkah mendekat. Bukan dengan langkah besar seperti biasanya. Tapi, dengan langkah hati-hati, seolah takut membuat perempuan itu berlari. Alesha baru menyadari keberadaannya, saat suara tapak langkah itu bergema halus di lantai. Ia menegakkan tubuh sedikit. Tidak terkejut, tidak menyapa. Ia terdiam, matanya tetap tertuju pada gelas di tangannya. Mavendra berhenti dua langkah di depannya. “Air habis di kamar,” kata Alesha singkat, menjelaskan tanpa diminta. Nada itu bukan ketus, bukan juga dingin, tapi datar. “Saya tahu,” balas Mavendra pelan. Alesha kembali mengangkat gelas dan meminum sedikit lagi. Tidak menawarkan duduk ataupun bertanya apa yang ia lakukan. Dan bagi Mavendra, keheningan itu jauh lebih menusuk daripada bentakan apa pun. Ia akhirnya mengambil satu langkah lagi. Tidak terlalu dekat. Cukup untuk membuat suaranya terdengar jelas. “Alesha.” Nama itu ia ucapkan seolah sedang menahan sesuatu di tenggorokannya. Alesha menghela napas pelan, lalu meletakkan gelasnya di meja. “Ya?” Jawabnya lembut tapi, tetap hampa. Seperti ia sengaja menempatkan emosinya jauh di belakang dinding tinggi. Mavendra menelan ludah. "Saya–" ia berhenti sejenak, mencari kata yang tepat, yang tidak terdengar seperti alasan, tapi pengakuan. "Saya ingin minta maaf.” Alesha tidak bergerak. Tidak mengangguk, tidak menolak, tidak juga menerima. Mavendra mengusap tengkuknya, kebiasaan yang muncul saat ia gugup. “Tentang malam itu. Tentang cara saya bicara padamu. Tentang membuatmu merasa tidak seharusnya dekat dengan saya.” Sunyi. Alesha menatap meja, bukannya menatap Mavendra. “Saya tidak apa-apa.” Kalimat itu terdengar seperti perisai dan Mavendra bisa merasakannya. “Tidak,” katanya perlahan. “Kamu tidak tidak apa-apa.” Ia tersenyum pahit. “Kamu menjauh. Kamu berhenti bicara pada saya. Kamu bahkan tidak menyiapkan kopi dan sarapan untuk saya pagi ini.” Alesha meremas jemarinya di pangkuan. “Saya rasa itu memang seharusnya.” Dadanya mencelos. “Alesha—” “Tuan Mavendra.” Suaranya halus, tegas dan sopan. Tapi bukan suara Alesha yang biasa bicara padanya. “Saya tidak ingin kita kembali seperti ini,” ucap Mavendra, suaranya sedikit pecah. “Saya tidak ingin kamu menjauh.” Alesha menunduk. “Saya hanya mencoba menempatkan diri, Tuan. Sesuai batas yang Tuan inginkan.” Mavendra memejamkan mata sejenak. Alesha melanjutkan, masih tanpa menatapnya. “Saya tidak ingin membuat Tuan merasa terikat. Atau merasa saya melampaui tugas. Jadi, saya kembali ke posisi awal.” “Alesha.” Suara Mavendra terdengar lebih serak. “Bukan itu maksudku.” “Tuan tidak perlu menjelaskan,” potong Alesha pelan. “Saya mengerti.” "Stop panggil saya, Tuan. Alesha." "Bukankah, memang seharusnya begitu?" Pertanyaan Alesha mampu membuat Mavendra terdiam dan semakin kehilangan kata. Ia ingin menjawab tidak, tapi memang kenyataannya seperti itu. Ia sendiri yang menyuruh Alesha untuk memanggilnya Tuan, kecuali saat ada Jean, Alesha hanya memanggil namanya. Beberapa detik keduanya hanya diam. Mavendra menatap perempuan itu seperti seseorang yang baru saja kehilangan sesuatu yang tidak ia sadari penting. Alesha berdiri. “Saya kembali ke kamar dulu. Besok pagi saya—” “Alesha, tunggu.” Untuk pertama kalinya, suara Mavendra goyah. Alesha berhenti, tapi tidak menoleh. Bahu perempuan itu naik turun pelan, menahan banyak hal yang tidak ia katakan. “Saya takut,” ucap Mavendra akhirnya, suaranya hampir tidak terdengar. “Takut kamu benar-benar menjauh.” Alesha menggigit bibir, tidak menjawab. Dalam diam itu, Mavendra merasa sesuatu dalam dirinya runtuh pelan-pelan. “Saya tahu saya tidak punya hak untuk memintamu kembali seperti semula." “Tapi tolong, jangan hilang begitu saja," lanjutnya. Alesha memejamkan mata sebentar sebelum membukanya lagi. “Saya tidak hilang, Tuan.” Suaranya lembut. “Saya hanya … menyesuaikan.” Lalu ia berjalan pergi, tanpa menunggu respon. Tanpa memberikan peluang bagi Mavendra untuk menahan atau menjelaskan. Meninggalkan pria itu berdiri sendirian di dapur, menatap pintu yang perlahan menutup. Malam itu, ketika keheningan kembali menyelimuti rumah, hanya satu hal yang benar-benar terasa di d**a Mavendra. Bahwa untuk pertama kalinya, ia yang ditinggalkan. Dan rasa takut itu … nyata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN