Beberapa kali ia bangkit, duduk di tepi ranjang, lalu berdiri lagi. Kamarnya luas, tapi sepi.
Setiap kali ia memejamkan mata, yang terlintas hanya punggung Alesha yang menjauh. Tanpa amarah juga tanpa satu pun emosi yang bisa ia tangkap.
Hanya kosong.
Kekosongan itu membuat d**a Mavendra terasa seperti diremas. Ia bangkit lagi. Berjalan mondar-mandir seperti seseorang yang kehilangan arah. Rasanya ia ingin keluar dari kamar dan mengetuk pintu kamar Alesha, tapi jari-jarinya berhenti setiap kali ia mendekati knop pintu kamarnya.
Ia tidak berhak.
Alesha hanya melakukan apa yang ia minta semalam, untuk jangan terlalu dekat. Jangan membuat batasnya sulit dipahami.
Namun, saat Alesha benar-benar mengikuti batas itu, Mavendra justru tercekik dengan keputusannya sendiri.
Mavendra menunduk, telapak tangannya menekan wajahnya sendiri. Ia tidak tahu lagi harus duduk, berdiri, atau sekadar bernapas. Semua terasa salah dalam dirinya.
Yang ia takutkan adalah Alesha benar-benar menjauh.
***
Seperti biasa, Alesha langsung menuju kamar Jean untuk membangunkannya.
“Jean?” panggilnya pelan.
Anak itu terlihat meringkuk di tengah ranjang. Tidak bergerak seperti biasanya, juga tidak menyambutnya dengan suara serak manja.
Dengan perasaan yang tidak enak, Alesha mendekat ke arah Jean. Ia menyentuh kening Jean. Seketika, jantungnya seakan berhenti berdetak.
Panas. Bukan panas biasa, apa yang terjadi?
“Jean."
Suaranya bergetar. Tangan kirinya menyibak rambut Jean sementara tangan kanannya meraba pipi yang sama panasnya.
Jean membuka mata setengah, antara kabur dan lelah.
“Bunda.”
Wajahnya terlihat sangat pucat. Bibir mungilnya kering.
Alesha langsung panik.
“Kamu kenapa, Sayang? Ada yang sakit, Nak?”
"Jean pusing, Bunda. Dingin sekali."
Jean menjawab dengan suara bergetar.
Alesha berdiri mendadak, hampir tersandung karpet. Tangannya gemetar saat meraih termometer. Ia menunggu beberapa detik yang terasa seperti menit panjang.
Saat angkanya muncul, bibirnya bergetar.
Demam tinggi. Bagaimana ini?
“Jean … ya Tuhan."
Alesha langsung mengangkat Jean ke dalam pelukan.
“Kita harus turun sekarang.”
Ia tidak memikirkan yang lain. Ia hanya ingin Jean sehat kembali.
Alesha melangkah cepat menuju pintu, hampir saja ia menabrak seseorang yang berdiri di sana.
Mavendra.
Ia terhenti. Alesha juga. Napas keduanya saling bertabrakan di antara jarak yang terlalu dekat dan terlalu kikuk.
Namun, begitu Mavendra melihat Jean yang terkulai di bahu Alesha, wajah pria itu langsung berubah.
Seluruh keraguan, batas, dan jarak yang semalam menyiksa, langsung lenyap seketika.
“Ada apa dengan Jean?”
Suara Mavendra rendah, tapi panik terselubung tak bisa ia sembunyikan.
Alesha menelan ludah.
“Jean demam tinggi. Saya mau—”
“Biar saya.”
Mavendra memotong, nada tegas dan tak bisa dibantah.
Mavendra mengangkat Jean dari pelukan Alesha, lembut, tetapi dengan gerakan cepat.
Alesha hanya bisa menatap, dadanya sesak karena khawatir pada kondisi Jean dan pada sesuatu yang kembali bergeser di antara mereka. Ia mematung untuk sejenak, sebelum akhirnya suara Mavendra memecahkan lamunannya.
"Alesha, cepat!"
Teriak Mavendra di samping pintu mobil, setelah mendudukkan Jean di kursi samping kemudi.
Alesha bergegas lari ke dalam mobil dan duduk cepat di samping Mavendra, memangku Jean dengan hati-hati. Napasnya tersengal karena panik, tangan kirinya mengusap kepala Jean tanpa henti.
“Pegang dia kuat,” ujar Mavendra rendah, tegang.
Alesha mengangguk cepat.
"Iyaa."
Mobil melesat keluar dari halaman rumah, lebih kencang dari biasanya. Ban sempat memekik halus, tapi Mavendra tidak peduli. Ia sangat khawatir dengan putranya yang menggigil di pangkuan Alesha.
“Jean ... Sayang, tahan sebentar, ya,” bisik Alesha terus mengusap kepalanya lembut. Seperti seorang Ibu yang takut akan kehilangan anaknya.
Jean meringis. Tubuhnya panas, tapi tangan dan kakinya terasa dingin. Alesha memeluknya lebih erat, seolah bisa melindungi anak itu dari panas yang menggerogoti tubuhnya.
Mavendra melirik lewat sudut mata.
“Alesha, suhunya berapa tadi?”
“Empat puluh lewat,” jawab Alesha lirih.
“Aku takut.”
Ucapan itu menghantam Mavendra langsung ke d**a. Ia mengencangkan pegangan di setir, jari-jarinya memutih.
“Jean akan baik-baik saja,” ucapnya cepat, lebih seperti janji yang dipaksakan pada dirinya sendiri.
Jean kembali mengerang pelan.
Alesha tersentak kecil, menunduk panik.
“Sayang? Jean? Kamu dengar bunda, Nak?”
Ia menepuk lembut pipi Jean yang panasnya menusuk kulitnya sendiri.
Mavendra menelan ludah keras. Suaranya pecah sedikit ketika ia bertanya lagi.
“Semalam dia makan apa? Apa ada gejala aneh sebelum tidur?”
Alesha menggeleng, paniknya semakin memuncak.
“Tidak ada. Dia baik-baik saja semalam. Dia ...."
Suara Alesha berhenti karena tangannya gemetar terlalu kuat.
Mobil kembali mengambil tikungan tajam. Mavendra hampir tidak memperlambat sama sekali.
“Alesha, pegang dia lebih dekat dan lebih erat ke dadamu.”
Instruksi itu keluar begitu saja.
Alesha menurut, menarik Jean lebih rapat ke tubuhnya. Mavendra melihatnya sebentar, satu detik saja dan dalam detik itu ia merasakan sesuatu yang menusuk. Takut. Ketakutan yang mendalam. Ia tidak ingin kehilangan anak semata wayangnya. Jean harus segera ditangani.
“Hampir sampai,” kata Mavendra sambil membunyikan klakson, menyalip mobil di depannya.
“Pegang dia. Tidak lama lagi sampai.”
Alesha memejamkan mata sejenak, air mata jatuh satu.
“Terima kasih."
Suara itu sangat pelan, hampir tenggelam oleh suara mesin.
Mavendra tidak menjawab, tapi rahangnya mengeras. Ia fokus.
Hanya itu yang bisa ia lakukan. Hanya itu yang boleh ia lakukan. Ia harus tetap terlihat tenang, meski sebenarnya dadanya terasa sangat sesak, seperti ada batu besar yang menghantam dadanya.
Begitu plang rumah sakit terlihat, Mavendra langsung masuk ke area rumah sakit. Ia langsung memarkirkan mobilnya, tanpa peduli garis.
Dia keluar cepat, membuka pintu penumpang bahkan sebelum Alesha sempat melepaskan sabuknya.
“Berikan padaku,” katanya, tangan terulur.
Alesha langsung memindahkan Jean ke pelukan Mavendra. Kontak singkat jari mereka membuat keduanya terdiam sepersekian detik. Hangat, gemetar, panik dan itu cukup untuk membuat d**a Mavendra semakin sesak.
Tanpa buang waktu, ia menggendong Jean erat dan berlari kecil masuk ke IGD, sementara Alesha mengikuti tepat di belakangnya.
“Ada anak demam tinggi! Empat puluh derajat!” seru Mavendra pada perawat, suaranya kencang tapi terdengar pecah.
Begitu para perawat bergerak cepat, Mavendra menurunkan Jean dengan hati-hati di ranjang kecil.
Alesha memegang tangan anak itu erat-erat, hampir gemetar. Dan Mavendra berdiri di sampingnya.
Dekat.
Hanya ada ketakutan yang sama.
“Alesha,” ucap Mavendra pelan, suaranya serak.
“Dia akan baik-baik saja.”
Alesha menyahut seolah menenangkan.
Tiba-tiba dokter datang dengan wajag tegang.
"Pak Mavendra, ada yang ingin saya bicarakan soal Jean."