Bab 17. Cemburu

961 Kata
"Kamu tunggu Jean di sini sebentar," pamit Mavendra ke Alesha. "Iyaa." Mavendra mengikuti dokter itu ke ruangannya. "Apa yang terjadi dengan Jean, Dok?" "Berdasarkan dari diagnosa saya, Jean terkena demam berdarah," ucap dokter cantik itu kepada Mavendra. Leora Amaris Dante. Dokter pribadi Jean yang kebetulan teman SMP Mavendra. Sekaligus, anak dari kolega ayah Mavendra. "Ya Tuhan," ucap Mavendra sambil mengusap wajahnya kasar. "Untuk memastikan, kita tunggu hasil laboratorium terlebih dahulu." Mavendra menarik nafas dengan berat. Wajahnya terlihat gusar. Pikirannya kacau. "Ven," ucap Leora lembut. "Percayalah, Jean akan baik-baik saja. Dia anak yang kuat, kamu tahu itu." Leora mencoba menenangkan dan menghibur Mavendra. "Aku takut terjadi sesuatu dengan Jean, Ra. Aku tidak ingin kehilangan anak semata wayangku." "Tidak akan. Selama dia ditangani dengan cepat dan tepat, dia bisa melewati ini. Saya janji." Mavendra hanya mengangguk tanpa menatapnya. "Ven? Apakah wanita tadi, istrimu?" tanya Leora dengan hati-hati. "Iyaa." "Bagaimana kamu bisa menge–" Belum sempat pertanyaan itu terselesaikan, pintu ruangan Leora diketuk. Seorang perawat membawakan hasil laboratorium dari Jean. Segera ia membukanya. Leora mengangguk pelan dan meletakkan kertas itu di meja. "Ven," ucapnya pelan. "Dari hasil laboratorium, Jean positif DBD." Mavendra memejamkan mata beberapa detik. Rahangnya mengeras. Untuk sesaat, ruangan itu terasa begitu sesak. “Astaga, Jean...” ucapnya pelan. "Jangan khawatir. Saya akan melakukan yang terbaik untuk Jean." Mavendra langsung berdiri. "Baiklah. Aku mau ke Alesha dan Jean lebih dulu." Leora mengangguk. Tapi, tatapannya mengikuti gerak Mavendra penuh arti. Ada empati, ada rasa peduli, juga ada sisa rasa yang sudah terlalu lama terpendam. "Ven, kalau kamu butuh apa-apa, jangan sungkan untuk beritahu aku." Mavendra menoleh sepersekian detik. “Terima kasih, Ra.” Hanya itu. Lalu ia pergi. Leora menatap pintu yang baru saja tertutup. Ia menunduk, memegang pinggiran meja dengan kuat. Sekilas bayangan masa lalu dirinya, Karin dan Mavendra terlintas. Ia bisa menerima kalau Mavendra dulu lebih memilih Karin. Ia juga bisa menerima kalau ia tidak pernah sempat mengungkapkan perasaannya. Tapi, melihat Mavendra bersama Alesha? Tidak. Itu sulit ia terima. Apalagi perempuan itu tampak terlalu biasa untuk menjadi istri seorang Mavendra Daneswara. “Aku lebih pantas,” gumamnya nyaris tanpa suara. Mavendra berjalan cepat menyusuri lorong. Setiap langkahnya seperti didorong rasa takut dan khawatir yang bergulung di d**a. Langkah Mavendra berhenti begitu sebuah suara memanggilnya dari arah depan. “Ven?” Ia menoleh cepat. Seorang pria berjas dokter berdiri sambil menyematkan ID card ke sakunya. Senyumnya lebar, ekspresinya seolah tidak percaya dengan yang dilihatnya. “Bian?” Alis Mavendra terangkat sedikit. “Lama nggak ketemu,” ucap Bian sambil menepuk bahu Mavendra. “Leora bilang lo ada di sini. Katanya Jean sakit?” “Iya. DBD.” Jawaban itu singkat, padat. Raut wajah Bian berubah serius. “Gue ikut prihatin, Ven. Jean anak kuat. Dia pasti sembuh.” Mavendra mengangguk kecil. “Gue mau lihat dia.” Mereka berjalan berdampingan. Begitu mendekati pintu, Bian melihat Alesha sedang mengusap dahi Jean pelan. Wajahnya cemas tapi lembut. Sesekali ia membetulkan selimut Jean, lalu menunduk mencium puncak kepala anak itu. Tatapan Bian berhenti pada Alesha agak lama. Bukan tatapan biasa. Ada kekaguman yang jelas. Seolah ia menilai sesuatu dalam diam dan menyukainya. Mavendra melihat itu. Tanpa perlu bertanya, ia tahu apa maksud pandangan itu. Ia mengenal Bian. Tahu persis bagaimana cara temannya itu memperhatikan seseorang yang membuatnya tertarik. Rahang Mavendra menegang. “Dia, istri lo?” tanya Bian tanpa melepas pandangannya dari Alesha. “Iya,” jawab Mavendra pelan, tapi tegas. Bian sekilas menoleh, senyumnya tipis. “Cantik. Dan… tenang, ya.” Tanpa sadar, Mavendra berdiri sedikit lebih dekat ke Alesha begitu mereka masuk. Seolah tubuhnya bereaksi sendiri. Seolah ia perlu memastikan jarak Bian tidak menyentuh batas yang tak ingin ia izinkan. Alesha menatap Mavendra cepat, lega melihatnya kembali. “Gimana katanya?” “Nanti saya jelasin,” ucap Mavendra. “Ini Bian. Teman lamaku.” Bian tersenyum hangat. “Halo. Gue ikut prihatin soal Jean.” Alesha membalas ramah. “Terima kasih, Dok.” Tatapan Bian kembali memperhatikan wajah Alesha. Ada decak kagum sangat halus yang nyaris tak terlihat. Mavendra menangkap itu. Tubuhnya menegang semakin jelas. Sorot matanya berubah tajam, seolah memberi batas yang tak perlu diucapkan. “Bian,” panggil Mavendra dengan suara rendah. Nada yang tidak biasa ia pakai pada teman sendiri. Bian tampak tahu diri. Ia tertawa kecil. “Santai, Ven. Gue cuma ramah.” “Ya. Aku tahu,” jawab Mavendra datar. Alesha tidak mengerti apa yang terjadi. Yang ia tahu hanya tangan Mavendra tiba-tiba menyentuh punggung tangannya, bukan menggenggam, bukan menarik, hanya sekadar menyentuh. Namun sentuhan itu seperti klaim diam-diam. Halus, tapi terasa. Bian melirik singkat pada tangan itu lalu tersenyum. “Baiklah. Gue pergi dulu. Titip salam buat Jean kalau dia sudah sadar penuh.” “Dokter,” panggil Alesha sopan. “Terima kasih sudah menyempatkan.” Bian menatapnya lagi. “Sama-sama.” Tatapan itu kembali membuat d**a Mavendra terasa panas. Setelah Bian pergi, Alesha baru berani bertanya pelan. “Kok anda... keliatan aneh?” Mavendra menahan napas, menatapnya sesaat. Ada sesuatu di sorot matanya yang tidak bisa ia sembunyikan. “Alesha,” ucapnya rendah. “Kamu tidak perlu ramah sama semua orang.” Alesha mengerutkan kening samar. “Kenapa?” Mavendra memalingkan wajah, tapi suaranya tetap rendah dan berat. “Saya tidak mau melihat mereka tertarik sama kamu.” Alesha terpaku. Bagian dadanya bergetar tanpa ia tahu harus merespons bagaimana. Mavendra menatap Jean, lalu kembali pada Alesha. “Jean butuh kamu. Dan saya…” Ia terdiam, seolah memilih kata. "Saya juga tidak suka...” Alesha menunduk, jantungnya berdebar. “Dengan tatapan seperti tadi,” lanjut Mavendra. Alesha menggigit bibir. “Tatapan yang mana?” “Yang dia kasih ke kamu.” Nada suara itu mengandung sesuatu yang tak pernah Alesha dengar sebelumnya. Cemburu. Terlihat Jelas. Tanpa ia tutupi. Dan itu membuat Alesha tidak bisa berkata apa-apa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN