Mavendra meraih handphonenya yang ada di saku dan menekan sebuah nomor.
"Key," ucapnya tegas.
"Tolong ke rumah sakit sekarang. Bawakan pakaian kantor saya. Sekalian baju ganti untuk Alesha dan Jean.”
“Baik, Tuan.”
Mavendra menutup telepon. Alesha menatapnya dengan wajah penuh tanda tanya.
"Saya pergi dulu sebentar. Ada urusan kantor yang harus saya selesaikan," ucap Mavendra yang seolah tahu arti dari tatapan Alesha.
Alesha mengangguk kecil.
Tak berselang lama, Keynan datang. Ia mengetuk pintu pelan.
"Permisi, Tuan. Ini barang-barang yang anda minta."
Mavendra mengambil paper bag itu, lalu memberikannya pada Alesha.
“Terima kasih, Key. Tunggu saya di luar sebentar.”
Keynan menunduk sopan.
“Baik, Tuan.”
Setelah pintu tertutup, Mavendra menatap Alesha serius.
"Kamu fokus jaga Jean saja disini. Jangan khawatir soal pekerjaan kamu di kantor, biarkan Keynan yang mengurusnya."
Alesha mengangguk. Ia merasa sedikit lega, setidaknya ia bisa fokus mengurus Jean agar cepat sembuh, tanpa memikirkan pekerjaan kantor.
Mavendra mendekat ke ranjang, mencium kening Jean dengan lembut. Lalu, ia menatap Alesha lebih lama dari biasanya.
“Ada satu hal lagi.”
Alesha mengangkat wajah.
“Apa?”
“Kalau Bian datang, jangan terlalu ramah,” ucapnya pelan, namun tajam.
Alesha terdiam.
“Saya tidak suka cara dia melihatmu seperti tadi," suaranya rendah, tapi jelas.
Alesha menggenggam jemarinya, tak tahu harus menanggapi seperti apa.
“Tapi dia teman anda.”
“Teman saya, bukan teman kamu," ucapnya dengan nada yang lebih tegas.
Mavendra mengenakan jasnya. Gerakannya cepat dan rapi.
“Saya tidak melarang kamu untuk bicara dengannya. Hanya secukupnya saja.”
Alesha menunduk kecil.
“Baik.”
Mavendra mendekat sedikit.
“Kamu paham maksud saya?”
Alesha mengangguk.
“Bagus.”
Ia menatap Jean sekali lagi.
“Saya akan kembali setelah urusan selesai.”
Alesha mengikuti langkah Mavendra sampai pintu. Saat hendak keluar, Mavendra menoleh sebentar.
“Alesha.”
“Ya?”
“Kalau ada apa-apa, jangan ragu untuk langsung menghubungi saya."
Ia langsung pergi, meninggalkan Alesha yang mematung di depan pintu.
Alesha menutup pintu pelan. Ia kembali duduk di samping Jean. Anak itu masih terlelap, tubuhnya hangat karena demam. Alesha mengelus rambut Jean dengan sayang. Ada rasa yang menghimpit dadanya ketika melihat tubuh kecil itu terkulai lemas.
“Kasihan sekali kamu, Nak,” bisiknya lirih.
Ia belum pernah menjadi seorang ibu. Tidak tahu bagaimana rasanya mengandung, melahirkan, ataupun membesarkan anak. Tapi melihat Jean seperti ini, dadanya seperti diremas. Ada sedih yang tidak bisa ia jelaskan. Ada perasaan ingin melindungi, sekaligus takut tidak mampu memberikan kasih sayang yang cukup untuk Jean.
Jean menggerakkan jemarinya sedikit, lalu diam kembali. Alesha menunduk, menatap wajah kecil itu lebih lama. Menggenggam tangan mungil Jean.
Ia membayangkan bagaimana rasanya tumbuh tanpa seorang ibu. Membayangkan Jean yang harus melewati banyak hal hanya dengan Mavendra. Membayangkan sakit, menangis, takut, tanpa pelukan lembut dan kasih sayang dari seorang ibu.
Alesha menelan ludah, dadanya terasa sesak. Tanpa terasa, bulir air mata jatuh dipipinya.
Sebelum pikirannya semakin jauh, pintu diketuk pelan.
Alesha cepat-cepat menghapus air matanya.
“Masuk.”
Seorang suster muncul sambil membawa nampan kecil.
“Permisi, Ibu. Ini sarapan untuk Jean. Kalau nanti sudah sadar, boleh dicoba sedikit saja,” ucapnya ramah.
Alesha berdiri, menerima nampan itu dengan kedua tangan.
“Terima kasih, Sus.”
Suster mengangguk.
“Kalau ada keluhan, bisa langsung pencet bel yang ada di samping ranjang. Nanti akan ada suster yang datang kesini.”
“Baik, Sus.”
Setelah suster pergi, Alesha meletakkan nampan itu di meja kecil di samping ranjang. Buburnya masih utuh. Sendok kecil disediakan, gelas air putih juga ada. Semua tertata rapi.
Alesha duduk kembali, memegang tangan Jean dan menciumnya.
“Cepat sembuh yaa, Sayang. Kalau kamu sakit begini, Bunda tidak tega.”
Ia menarik napas pelan, mencoba kembali tenang. Di sela kesunyian ruangan, hanya napas Jean yang terdengar. Dan untuk alasan yang tidak bisa ia pahami, Alesha merasa ingin tetap berada di samping anak itu.
Saat Alesha larut dengan pikirannya. Terlihat, Jean membuka matanya perlahan.
"Bunda," ucapnya lirih dengan suara serak.
"Iyaa, Sayang. Bunda di sini, Nak."
"Haus."
Dengan perlahan, Alesha membantu Jean untuk minum.
"Makan ya, Sayang. Biar Jean cepat sembuh. Ini buburnya masih hangat, Bunda suapin ya."
Jean mengangguk perlahan. Alesha membantu Jean untuk duduk. Dengan perlahan dan telaten, Alesha menyuapi Jean. Saat Alesha sedang menyuapi Jean. Pintu diketuk.
"Masuk," ucapnya perlahan.
Pintu terbuka.Terlihat seorang dokter cantik dengan rambut yang dicepol. Diikuti seorang perawat yang membawa clipboard. Ia tersenyum, tapi matanya menatap Alesha dengan sorot yang membuat Alesha tidak nyaman.
Namun, saat ia beralih menatap Jean. Tatapannya berubah manis. Suaranya menjadi sangat lembut dan hangat, seakan ia buat-buat.
"Hai, Jean."
Ia sedikit menunduk ke Jean.
"Kamu sudah bangun, Sayang?"
Jean mengangguk kecil, tangannya menggenggam Alesha. Leora yang melihatnya, menatap dengan tatapan tidak suka.
Namun, ia langsung beralih menatap Jean dengan senyuman lebar.
"Dokter boleh lihat sebentar?"
Jean mengangguk.
Leora mulai memeriksa suhu Jean. Lalu, mengecek detak jantung dengan stetoskop. Perawat mencatat sesuatu di clipboard.
"Kondisinya sudah jauh lebih membaik dari tadi pagi," ujar Leora dengan senyum manisnya.
Alesha mengangguk.
"Syukurlah..."
Leora merapikan stetoskop dan jasnya.
"Apakah kamu Alesha? Istri Mavendra?"
"I-iya."
Leora tersenyum tipis.
"Dulu, Aku, Mavendra, dan Karin sangat dekat saat masih di SMP. Kami sering bermain bersama. Masa-masa yang lucu dan menyenangkan."
Alesha menunduk sedikit, tidak ingin menunjukkan reaksi apapun.
Perawat menatap Leora seperti menunggu aba-aba. Leora malah lanjut bicara, suaranya berubah lebih ringan, tapi jelas.
"Dari dulu, Mavendra emang orangnya pendiam. Tidak terlalu banyak bicara. Namun, jika sudah dekat, ia akan perhatian."
Alesha terdiam. Perawat terlihat tidak nyaman.
Leora kembali berbicara.
"Oh, ya. Kalau ada apa-apa, jangan ragu untuk memanggilku. Aku sangat mengenal Mavendra dan keluarganya. Lebih lama dari siapapun."
"Baik, Dokter," jawab Alesha. Ada perasaan yang mengganjal di diri Alesha, saat mendengar ucapan Leora.
Leora menghampiri Jean sebentar, sambil mengusap kepala anak itu.
“Cepat sembuh ya, Sayang. Bunda kamu udah jago banget jagain kamu.”
Kalimat itu terdengar seperti pujian. Tapi, caranya menatap Alesha tetap sama, seolah ingin menilai.
Setelah itu, Leora membuka pintu.
“Ayo,” ucapnya pada perawat.
Perawat membungkuk sedikit pada Alesha sebelum mengikuti Leora keluar.
Begitu pintu tertutup, Alesha baru sadar ia menahan napas sejak tadi. Tangannya sedikit gemetar. Ia kembali duduk dan menarik Jean ke dalam pelukan kecil.
“Bunda ada di sini,” bisiknya sambil mengusap punggung Jean.
Jean bersandar di bahunya, lemah tapi nyaman. Alesha mengecup keningnya pelan. Dalam hatinya, ia berusaha mengusir rasa tidak enak yang ditinggalkan dokter itu.
Namun, bayang tatapan Leora barusan, masih menempel.
Dan entah kenapa, rasanya seakan Leora ingin memberi tahu sesuatu. Atau memperingatkannya. Ia tidak tahu pasti.
Yang jelas, perasaan itu membuat dadanya terasa aneh.