Bab 19. Perhatian yang Tak Seharusnya

926 Kata
Di tempat lain, Mavendra tidak fokus dengan pekerjaannya. Pikirannya tertuju pada Jean dan Alesha yang sedang berada di rumah sakit. Ia segera mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor yang ia tuju. "Alesha, apakah Jean baik-baik saja?" tanya Mavendra saat telepon sudah tersambung. "Iya, Jean baik-baik saja," jawab Alesha dengan nada bingung, saat tiba-tiba Mavendra meneleponnya. "Baiklah. Apakah kamu sudah makan siang? Kalau belum, biarkan Keynan nanti yang mengantarkan makanan untukmu." Diseberang, Alesha tak langsung menjawab. "Alesha?" Mavendra memanggil Alesha saat tak ada jawaban darinya. "B-belum, saya belum sempat membeli makan siang di kantin." "Baiklah. Saya sudah suruh Keynan untuk mengantarkan makan siang untukmu." "I-iya, terimakasih," sahut Alesha dengan nada gugup. "Sebentar lagi pekerjaanku selesai. Aku akan segera kesana." "Iyaa, Ven." Panggilan langsung terputus. Mavendra sudah merasa lega saat sudah mendengar suara Alesha. Ia sendiri bingung, sebenarnya siapakah yang dia khawatirkan. Alesha atau... Jean? Entahlah, dia sendiri pun tidak tahu. Ia langsung menekan tombol intercom. Memanggil Keynan untuk segera datang ke ruangannya. Tak lama, pintu terbuka. Memperlihatkan wajah Keynan yang sudah kusut. Ia pusing. Pusing dengan pekerjaannya, ditambah lagi harus mengurus pekerjaan Alesha untuk beberapa hari kedepan, sampai Jean benar-benar sembuh dan pulih. "Ada apa, Tuan?" tanya Keynan dengan suara pelan, tidak seperti biasanya. Ia lemas. "Tolong bawakan makan siang untuk Alesha. Kasihan dia, belum sempat untuk makan siang." "Baik, Tuan. Mau dibawakan makanan apa?" "Bawakan saja dia menu kesukaan saya dari restoran table8." "Baik, Tuan. Saya permisi." "Ya. Terima kasih." Keynan keluar dari ruangan Mavendra dengan langkah gontai. "Aku sendiri saja belum sempat untuk makan siang. Sekarang malah disuruh nganterin makan buat nona Alesha," gerutu Keynan saat ia keluar dari kantor dan menuju parkiran. Setelah membeli makanannya. Ia langsung menuju rumah sakit. Ia mengetuk pintunya perlahan. Saat masuk ke dalam ruangan, terlihat Alesha baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang dililitkan di kepalanya. "Permisi, Nona Alesha. Ini makan siang untuk anda. Saya taruh di meja ya," ucap Keynan sambil meletakkan paperbag di meja kecil yang ada di ruangan itu. "Oohh... iya. Terima kasih, Pak Keynan." "Sama-sama, Nona. Apakah anda memerlukan sesuatu? Saya bisa carikan untuk anda, sebelum saya kembali ke kantor." "Tidak ada, terimakasih," jawabnya sopan. "Apakah anda baik-baik saja, Pak Keynan? Anda kelihatan pucat," tanya Alesha yang melihat wajah Keynan pucat dan lesu. Tidak seperti biasanya. "Tidak apa-apa, Nona. Mungkin karena kelelahan saja." "Ya ampun... maafkan saya, sudah merepotkan anda, pak Keynan. Setelah Jean sembuh dan kembali pulih, saya akan segera berangkat ke kantor. Sekali lagi, maafkan saya," ucap Alesha yang merasa tidak enak dengan Keynan, karena telah menghandle semua pekerjaan dirinya di kantor. "Tidak. Tidak apa-apa, Nona. Sudah menjadi tugas saya untuk menggantikan anda untuk sementara. Fokus saja dulu untuk kesembuhan Jean." Alesha mengangguk. "Terimakasih, Pak Keynan." "Sama-sama. Kalau begitu, saya pamit untuk kembali ke kantor. Masih ada urusan yang belum saya selesaikan. Semoga cepat sembuh untuk Jean," pamit Keynan. Sebelum ia keluar dari ruangan. Ia menyempatkan untuk mendekat ke ranjang dan mengelus lembut tangan Jean yang diinfus. Setelah kepergian Keynan. Alesha langsung membuka paperbag yang ada di meja. Harum masakan langsung menyeruak menusuk hidung Alesha. Alesha sudah sangat lapar. Ia langsung memakannya. Saat Alesha sedang asyik makan. Handphone berbunyi, tanda pesan masuk. Tuan Mavendra "Apakah makanannya sudah sampai?" Alesha "Sudah, terimakasih." Tuan Mavendra "Sama-sama. Habiskan." Pesan terakhir dari Mavendra, membuat Alesha sedikit tersedak. Ia langsung meraih botol minum yang ada di sampingnya. Setelah beberapa menit, Alesha telah selesai makan siang. Ia mengistirahatkan badannya sebentar di sofa. Ia telah mengurus Jean dari tadi pagi sampai siang ini. Untungnya, Jean tidak terlalu rewel. Ia anak yang baik. Walaupun sakit, ia tidak ingin merepotkan bundanya. Di ruangan Jean, fasilitasnya sangat lengkap. Mulai dari kamar mandi, sofa, meja, AC, kulkas, tempat sampah, bahkan tempat tidur pun tersedia untuk penunggu pasien. Beberapa cemilan dan buah juga tersedia di meja dan kulkas. Hal itu membuat Alesha tidak pernah keluar dari ruangan. Semua sudah tersedia. Hanya saja, jika ingin makan-makanan berat, ia harus pergi ke kantin. Saat Alesha sedang santai, pintu kembali diketuk dengan pelan. Ia pun langsung bangkit dari sofa. Terlihat, seorang dokter laki-laki masuk ke ruangan. Pintu terbuka perlahan. Alesha langsung menoleh. “Permisi.” Bian melangkah masuk sambil tersenyum ramah. Wajahnya segar, senyumnya lebar, dan caranya menatap Alesha… terlalu hangat. “Oh… Dokter Bian,” ucap Alesha. “Saya dengar Jean sudah mulai membaik. Boleh saya lihat sebentar?” “Silahkan.” Bian menghampiri ranjang. Ia memeriksa infus Jean, mengetuk ringan selang, dan memeriksa suhu Jean. Semua gerakannya rapi, profesional. Tapi setiap kali tatapannya menoleh ke Alesha, berbeda. “Syukurlah. Kondisinya stabil,” ucap Bian sambil tersenyum. “Kamu menjaganya dengan baik.” Alesha mengangguk kecil. Ia merasa perlu menjaga jarak, tapi tidak ingin terlihat tidak sopan. Bian menoleh singkat ke arah pintu, lalu kembali lagi menatap Alesha. “Kalau kamu butuh apa pun, jangan sungkan bilang ke saya. Mavendra mungkin sibuk, tapi saya ada di sini.” Nada suaranya lembut. Alesha mengalihkan pandangan. “Terima kasih, Dokter.” Bian tersenyum kecil. “Panggil saja Bian.” Alesha menelan ludah. Ada sesuatu pada cara pria itu saat mengatakan namanya. Bukan sekadar ramah. Namun, lebih dari itu. Bian menarik kursi dan duduk di samping meja kecil. “Kamu pasti lelah, ya? Seharian di sini.” Alesha hendak menjawab, tapi Bian sudah melanjutkan. “Kalau kamu mau makan atau butuh udara segar, bilang saja. Saya bisa bantu jaga Jean sebentar.” Alesha terdiam. Tawaran itu terlalu baik. Namun, baginya itu berlebihan. Ia hanya memberi senyum tipis. Saat Bian hendak menanyakan sesuatu lagi, pintu kembali terbuka. Kali ini suaranya lebih tegas. Suasana di ruangan itu pun berubah menjadi dingin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN