Bab 20. Pembelaan Terselubung

1113 Kata
Langkah Mavendra terdengar jelas saat memasuki ruangan kamar Jean. Ia masih mengenakan kemeja kerja. Jas rapi, tapi tatapannya langsung menghunjam Bian. Alesha menahan napas sementara Bian perlahan bangkit dari kursinya. “Ven,” sapa Bian santai, sambil tersenyum. Seolah tidak melihat ketegangan yang terjadi di antara mereka. Mavendra tidak membalas senyuman itu. Tatapannya masih tajam. Dingin. Menyusuri Bian dari atas kepala sampai kaki, lalu berhenti tepat di wajahnya. “Apa yang kau lakukan di sini?” Bian memasukkan kedua tangannya ke saku jas dokter. Menarik napas panjang. “Menjenguk Jean. Dia, kan, anak lo. Lagipula, gue juga dokter di sini.” Nada bicaranya tenang, justru membuat Mavendra semakin menegang. Alesha bisa melihat rahang Mavendra mengeras. Kemudian, tatapannya beralih ke Alesha. Sesuatu di matanya terlihat jelas bahwa dia cemburu. “Tidak seharusnya kamu mengganggu istriku,” ujar Mavendra, suaranya rendah, tapi jelas ada batasan yang ia tidak ingin dilangkahi orang lain. Alesha tersentak. Antara kaget dan heran. Bian menaikkan satu alis, tertawa sinis. “Istri? Ven … kamu yakin?” Darah Alesha rasanya berhenti mengalir. Pernyataan itu sangat menusuk. Seperti pisau yang sengaja ditancapkan lalu diputar arah. Mavendra melangkah mendekat, tatapannya semakin gelap. “Hati-hati kalau bicara.” Bian justru tersenyum tipis. Suara tawanya seakan mengejek. “Leora cerita banyak, Ven. Kau tidak pernah bisa menyembunyikan apa pun darinya." Mavendra terdiam sejenak. Ekspresinya berubah bukan karena malu, tapi karena marah. Sangat marah. Alesha perlahan berdiri dari tempat duduknya, ingin menjadi penengah, tapi Mavendra lebih dulu angkat bicara. “Keluar!!!" Perintahnya keras, seolah dinding kamar ini pun bergetar hebat. Bian beralih menatap Alesha sebentar. “Kalau ada apa-apa, kamu bisa mencariku kapan saja, jangan sungkan." Alesha hanya mengangguk kecil tanpa suara. Bian tersenyum lembut padanya, lalu berjalan keluar tanpa menoleh lagi. Begitu pintu menutup, suasana langsung berubah menjadi tegang. Mavendra berdiri di tempatnya, tidak bergerak. Napasnya terdengar berat. Tangannya mengepal sampai jari-jarinya memutih. Alesha menelan ludah dengan susah payah. Ia takut. Takut saat melihat Mavendra marah. Baginya, itu sangat menyeramkan. “Ven .…” Mavendra akhirnya menoleh. Tatapannya menusuk, bukan pada Alesha, tapi pada seluruh percakapan yang barusan terjadi. “Kenapa dia bicara seperti itu?” Suaranya datar, tapi terasa seperti bom yang siap meledak. Alesha diam. Ia bahkan tidak tahu harus menjawab apa. Takut untuk jujur karena Mavendra pasti akan marah besar. “Kau tidak mendengar?" Mavendra melangkah mendekat. “Apa yang dia katakan padamu?” Alesha mundur beberapa langkah, tanpa sadar ia menjaga jarak. “Tidak ada,” jawabnya pelan. “Kami hanya mengobrol biasa tadi." Mavendra mendekat. Tatapannya tidak bisa dibaca. Sebentar seperti akan marahin, tapi sebentar kemudian dia melembut. “Obrolan seperti apa yang membuat dia berani bicara seperti itu? Hah? Katakan!" Alesha menggeleng cepat. “Kami tidak membicarakan apapun yang berhubungan denganmu. Sungguh." Mavendra menatapnya lama, sangat lama, seolah inginmencoba membaca sesuatu dari wajah Alesha. Sementara gadis ini sudah sangat takut dan gugup. Lalu, tiba-tiba, ia meraih tangan Alesha. Mencengkram kuat. Tidak menyakitkan, tapi jelas menunjukkan emosi yang ia tahan mati-matian. “Alesha .…” Alesha menatapnya. “Kau!" Suaranya melamban, tapi justru terasa berat. Seperti ingin mengatakan sesuatu yang sudah lama ia tahan. Lalu, terdengar napasnya kasar. “Bicaralah seperlunya. Dengan siapapun itu, kau mengerti?!" Alesha mengangguk cepat, tapi Mavendra tidak juga melepaskan tangannya. Masih menatap dan terasa lebih lembut. Dada mereka menahan debaran aneh, yang meminta diakui untuk kejujuran, tapi sama-sama tertahan. "Aku--, aku---." Mavendra menggeleng dan begitu saja melepaskan tangan Alesha. Ia mengembuskan napas kasar, lalu mengusap wajahnya sendiri, mencoba untuk menenangkan diri. Ia juga sadar, rasa yang singgah tadi bukan karena marah pada Alesha. Tapi karena takut akan kehilangan juga cemburu melihat kedekatan Alesha Dan Bian tadi. Bagaimana bisa, saat berada di dekatnya Alesha tidak pernah bisa sesantai tadi. Tiba-tiba, pintu diketuk cepat. Tanpa menunggu jawaban, pintu langsung terbuka lebar. Tampak Mami Lucy datang dengan langkah terburu-buru. Papi Grayson mengikutinya dari belakang. Hal itu membuat Alesha menahan napas, tangannya sedikit bergetar. Begitu melihat Jean, wajah mami Lucy langsung berubah. “Ya Tuhan … kenapa bisa sampai begini?” Suara itu menggantung, tapi kemudian langsung menunjuk ke arah Alesha yang sudah berdiri kaku. Sungguh, suasana seperti ini membuatnya tidak berdaya, seperti Ia menjadi tersangka yang sedang menunggu hukuman. “Kamu ini ngapain saja, hah?” Suaranya meninggi, tidak menahan apa pun. Jari telunjuknya tepat mengarah ke wajah Alesha. “Bagaimana bisa kau menjaga Jean? Bagaimana bisa dia sakit seperti ini hah? Apa yang kau lakukan padanya?" Alesha ingin langsung menjawab, tapi lidahnya kelu. Mavendra baru saja meredam emosinya, dan kini ia harus berhadapan dengan kemarahan ibunya sendiri. Bagaimanapun Ia tidak suka dengan cara ibunya menuduh Alesha. Karena Ia juga tahu, ini bukan salah pengasuh juga istrinya itu. “Mami,” ucap Mavendra pelan, tapi berat. “Kamu terlalu percaya padanya, Ven. Lihat hasilnya! Jean sakit. Anak sekecil itu bisa terkena penyakit seperti ini? Bagaimana caranya menjaga? Hah? Ini sangat tidak masuk akal." Alesha menunduk. Dadanya terasa seakan diremas. Ada sakit dan perih yang pelan-pelan mulai menggerogoti hatinya. Papi Mavendra menatap Alesha sebentar. Tidak menyalahkan, tidak membela. Hanya memperhatikan saja. Namun, sebelum maminya melanjutkan, suara Mavendra memotong tajam. “Mi, cukup!" Mami Lucy menoleh cepat. “Apa?” Mavendra maju satu langkah, berdiri sedikit di depan untuk menutupi Alesha. “Jangan salahkan dia.” Nada itu tidak tinggi. Namun, setiap katanya membuat wajah ibunya meredam emosi. “Kamu pikir, aku tidak boleh ngomong? Jean ini cucu Mami, Ven. Mami berhak untuk tahu semuanya." “Jean sakit bukan karena Alesha, Mi!” Mavendra tidak merubah nada suaranya. Tetap dingin, tegas dan tidak memberi ruang ibunya berbicara karena itu bisa fatal. Alesha mengangkat wajah pelan. Ia tidak menyangka Mavendra akan berbicara setegas itu, apalagi pada ibunya sendiri. “Dokternya jelas bilang penyebabnya karena terinfeksi virus. Bukan kelalaian,” lanjut Mavendra memberi penjelasan. “Jadi jangan menuduhnya sembarangan.” Mami Lucy diam beberapa detik dan itu cukup untuk menunjukkan betapa ucapan Mavendra berhasil menghentikannya. “Ven .…” Nada suara itu melembut sedikit. “Kamu terlalu membelanya." “Karena dia tidak bersalah,” balas Mavendra cepat. Papi Mavendra akhirnya bersuara setelah mendengar perselisihan tadi. “Sudah. Kita fokus pada kesehatan Jean saja.” Maminya menghela napas tajam. Ia menatap Alesha lagi, kali ini tanpa suara, tapi tetap terasa menusuk. Menyakitkan. Alesha hanya bisa menahan diri. Tidak membalas. Tidak bisa beralasan apalah memberikan penjelasan panjang lebar. Mavendra menoleh ke arahnya. Suaranya lebih rendah lagi. “Abaikan saja.” Alesha mengangguk kecil. Ketegangan masih terasa, tapi satu hal yang jelas, saat orang lain menyalahkan Alesha, Mavendra berdiri di depan. Sekalipun itu orang tuanya sendiri. Meskipun Alesha tidak mau terlalu percaya diri, tapi diam-diam ia mulai merasakan ada gejolak yang tak dapat ia tolak dan hal yang sama sebenarnya terjadi juga pada diri Mavendra.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN