Mavendra menatap kedua orang tuanya yang masih berdiri di samping ranjang Jean. Sorot matanya tidak setegang tadi, tapi tetap jelas bahwa ia ingin mengakhiri semuanya malam itu juga.
“Mi, Pi… kalian baru sampai dari luar negeri. Lebih baik istirahat dulu,” ucap Mavendra pelan, tapi tidak memberi ruang untuk dibantah.
Mami Lucy ingin bicara, tapi tatapan Mavendra cukup membuatnya mengembuskan napas kesal.
“Kami ke sini karena khawatir,” gumamnya.
“Aku tahu,” jawab Mavendra, tetap tenang.
“Besok kalian bisa kembali lagi. Jean juga butuh ketenangan.”
Papi Grayson menepuk bahu istrinya ringan, seolah meminta kompromi cepat.
“Baiklah. Kami pulang dulu.”
Alesha hanya menunduk saat keduanya melewatinya. Tidak ada kata yang terucap. Tidak ada senyum. Hanya tatapan yang sulit diterjemahkan dan itu saja sudah cukup membuat dadanya kembali sesak.
Begitu pintu tertutup, Mavendra menatap Alesha sebentar.
“Duduk saja,” katanya singkat.
Alesha menurut. Tanpa kata tambahan. Tanpa keberanian menatap balik. Sedangkan Mavendra berdiri beberapa detik di sisi ranjang Jean sebelum akhirnya ikut duduk di sofa seberang.
Tidak ada percakapan lagi sampai malam benar-benar berlalu.
***
Alesha baru saja mengambil air minum yang ada di kulkas. Saat ia mau duduk di sofa, pintu kamar Jean terbuka. Suara langkah yang familiar membuatnya mendongak.
Leora.
Dengan jas dokter rapi, clipboard di tangan, dan senyum manisnya.
Namun, bukan itu yang membuat Alesha tertegun.
Di belakang Leora, Mami Lucy dan Papi Grayson ikut masuk. Keduanya terlihat jauh lebih segar dibanding semalam. Bahkan Mami Lucy tersenyum, senyum yang tidak pernah ia berikan pada Alesha.
“Oh, Leora sayang. Kamu sudah datang lebih pagi dari kami,” ucap Mami Lucy sambil meraih tangan dokter itu.
Leora tertawa kecil.
"Tentu, Mi. Jean anak spesial. Aku harus cek sendiri.”
Alesha berdiri mematung di samping sofa.
Kata “sayang” saja sudah cukup membuatnya menahan napas.
Ia juga cukup terkejut saat Leora memanggil mami Mavendra dengan sebutan "Mi" , sama seperti Mavendra.
Mavendra yang baru keluar dari kamar mandi langsung berhenti saat melihat pemandangan itu. Tatapannya turun ke arah Alesha, membaca sesuatu di wajahnya, lalu kembali ke ibunya dan Leora.
“Jean terlihat lebih stabil,” kata Leora santai sambil mengecek infus.
“Trombositnya mulai naik. Demamnya sudah turun. Nafsu makannya juga sudah mulai meningkat. Kalau terus begini, mungkin besok atau lusa sudah diperbolehkan pulang.”
“Aduh, syukurlah,” sahut Mami Lucy sambil menyentuh lengan Leora seakan itu hal yang biasa.
Papi Grayson ikut mengangguk.
“Dari dulu kamu memang anak pintar. Tidak berubah ya.”
Alesha menahan diri agar wajahnya tetap netral.
Leora tersenyum lembut.
“Pi, Mi… jangan begitu. Aku cuma kerjakan pekerjaanku saja.”
“Tapi tetap saja,” timpal Mami Lucy.
“Dulu waktu SMP saja kamu selalu masuk tiga besar. Maven juga waktu itu selalu satu kelompok sama kamu dan Karin. Kalian bertiga itu… sudah seperti paket lengkap.”
Alesha refleks menatap Mavendra. Lelaki itu menutup rahang sebentar, lalu memalingkan wajah. Jelas ia tidak nyaman dibahas begitu.
Leora menoleh ke Alesha, seakan baru ingat kalau ada orang lain.
“Oh.”
Senyumnya berubah tipis.
“Kau masih di sini?”
Alesha mengangguk.
“Iya.”
Mami Lucy ikut menatap Alesha lama, lalu kembali bicara pada Leora.
“Dulu mereka itu selalu bareng, Lo. Si Karin yang paling tenang. Dan Leora ini paling cerewet, tapi kalau soal pelajaran dia pinter. Kalau Maven, ya... kamu tahu sendiri Maven dulu seperti apa.”
Leora terkekeh.
“Maven waktu SMP itu—“
“Cukup.”
Suara Mavendra memotong, datar tapi jelas.
Leora terdiam sepersekian detik, lalu tertawa kecil lagi.
“Baik. Tidak usah dibahas.”
Alesha menurunkan pandangan, meski hatinya ingin tahu apa yang tadi ingin disebut. Ada sesuatu yang terasa seperti titik kecil yang mengganggu di dadanya. Halus… tapi menggores.
Mami Lucy justru melanjutkan dengan suara pelan tapi bukan berusaha menyembunyikan.
“Kami semua dekat sekali dulu. Sejak SMP sampai SMA. Bahkan saat kuliah ke luar negeri, Leora tetap sering komunikasi.”
Alesha menggenggam jemari sendiri erat.
Mavendra tidak berubah ekspresi, namun jelas ia tidak suka arah pembicaraan ini.
Papi Grayson menatap Alesha sekilas.
“Alesha, sudah makan?”
Alesha terkejut karena ditanya.
“Sudah, Pi.”
Mami Lucy langsung menambahkan.
“Kalau belum, bilang saja ke Leora. Dia tahu banyak tempat makan enak dekat sini.”
Leora tersenyum sopan, tapi ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang tidak menyembunyikan siapa yang berada dalam lingkaran ‘keluarga’, siapa yang tidak.
Alesha merasakan jarak itu jelas-jelas ada. Terlihat. Terasa.
Dan Mavendra melihat semuanya.
Ia melangkah mendekat ke sisi Alesha, berdiri terlalu dekat, sengaja atau tidak.
“Mi, Pi,” ucap Mavendra dengan nada tenang tapi dingin.
“Jangan buat Alesha tidak nyaman.”
Leora memutar pandangan, mencoba pura-pura sibuk merapikan catatan.
Mami Lucy terdiam beberapa detik, lalu berkata.
“Kami hanya bicara biasa.”
“Tapi tidak semua obrolan harus disampaikan,” balas Mavendra.
Alesha menatap lantai, tidak ingin ada yang melihat bagaimana wajahnya berubah.
Leora akhirnya menutup clipboard.
“Aku cek hasil laboratorium dulu,” katanya.
“Nanti aku kembali.”
Mami Lucy menahan lengan Leora sebentar.
“Nanti kita makan siang bareng, ya?”
Leora mengangguk.
“Tentu, Mi.”
Mereka keluar bersama.
Begitu pintu menutup, Mavendra memijat pelipisnya.
Alesha tetap diam.
Beberapa detik berlalu sebelum Mavendra mendekat dan berbicara dengan suara rendah.
“Alesha.”
Ia menatapnya.
“Hiraukan saja perkataan mereka.”
Alesha mengangguk, meski hatinya tidak sepenuhnya menerima.
Mavendra mendekat sedikit lagi.
“Aku tidak nyaman mereka membawa masa lalu. Dan aku tahu… kamu juga.”
Alesha menelan napas berat.
Mavendra tidak menyentuhnya. Tidak berkata manis. Hanya menatap.
Tapi tatapan itu saja sudah cukup membuat Alesha merasakan sesuatu yang mengalir perlahan di dadanya.
***
Orang tua Mavendra sedang makan siang di restoran depan rumah sakit, bersama Leora. Sedangkan Mavendra dan Alesha, mereka memilih untuk makan siang di kamar saja. Mereka tidak tega meninggalkan Jean sendirian di kamar. Saat Alesha sedang menikmati makan siangnya, Jean memanggilnya.
"Bunda, Jean mau pipis."
"Oke, ayo Bunda bantu," ucap Alesha sambil membantu Jean turun dari kasurnya.
Mavendra yang melihat Alesha kesusahan, ia langsung bergerak untuk membantu.
"Terima kasih," ucap Alesha.
"Sama-sama. Sini, biar saya saja yang antar Jean. Kamu teruskan saja makan siangmu."
"Baiklah, terima kasih."
Mavendra hanya mengangguk, ia bergegas membawa Jean ke kamar mandi, sebelum anak itu mengompol.
Setelah selesai, ia meneruskan makan siangnya. Saat ia sedang fokus makan, teleponnya berdering. Tertera nama Keynan pada layar, langsung saja ia angkat.
"Ada apa, Key?"
"Maaf, Tuan. Saya mengganggu waktunya. Mohon untuk bisa segera ke kantor sebentar. Ada temuan dari cabang Bandung… dan ini tidak bisa dibiarkan.”
"Saya segera kesana."
Mavendra langsung menutup teleponnya dan langsung keluar dari ruangan Jean. sebelum Alesha menanyakan apa yang terjadi.