Mavendra berjalan cepat menuju ruang rapat kecil di lantai tempat Keynan menunggunya. Begitu pintu terbuka, Keynan langsung berdiri. Wajahnya jelas tegang.
“Tuan,” ucap Keynan sambil menyerahkan beberapa berkas dan tablet.
Mavendra mengambilnya tanpa duduk. Begitu halaman pertama terbuka, rahangnya mengeras.
“Ini laporan audit internal dari dua minggu lalu,” jelas Keynan pelan.
“Awalnya hanya selisih kecil. Tapi setelah ditelusuri lagi… angkanya jauh lebih besar.”
Mavendra menatap angka yang terpampang di layar. Puluhan juta. Bahkan lebih.
“Siapa?”
Suaranya datar. Dingin.
Keynan menelan ludah.
“Staff keuangan cabang Bandung. Namanya—”
“Tidak perlu aku dengar namanya,” potong Mavendra.
Ia menggeser halaman, melihat pola transaksi, pengalihan dana, dan bukti-bukti yang sudah dikumpulkan. Tangannya menggenggam tablet itu terlalu erat, namun wajahnya tetap tenang.
Tenang yang berbahaya.
“Berapa lama ini terjadi?” tanya Mavendra lagi.
Keynan menunduk sedikit.
“Kurang lebih tiga bulan.”
Mavendra menahan napas pendek.
“Dan tidak ada satu pun yang sadar?”
“Kami baru menemukan jejaknya setelah laporan pemasukan tidak sinkron dengan laporan penjualan. Supervisor cabang juga gagal mendeteksi lebih awal.”
Mavendra menutup tablet dengan satu gerakan cepat. Suara banting halus itu membuat Keynan refleks menegakkan tubuh.
“Dia masih bekerja di sana?” tanya Mavendra.
“Masih, Tuan.”
“Panggil dia lewat video call. Sekarang.”
Keynan segera menekan beberapa tombol. Tidak sampai semenit, wajah seorang pria muncul di layar monitor ruang rapat. Senyum tipisnya hilang seketika saat melihat siapa yang ada di ruangan.
“T–Tuan Maven… selamat siang.”
“Diam.”
Suara Mavendra tidak meninggi, tapi cukup untuk membuat siapa pun membeku.
Pria itu menelan ludah.
“Sudah berapa lama kau mengambil uang perusahaan?” tanya Mavendra, masih dengan nada tenang yang justru membuat suasana lebih mencekam.
“Saya… saya tidak—”
“Keynan.”
Keynan langsung menampilkan bukti-bukti transaksi di layar. Transfer gelap. Pengalihan dana. Nominal mencurigakan. Semuanya tertata rapi.
Wajah pria itu langsung pucat.
“Tuan… saya… saya bisa jelaskan—”
“Kau mengambil uang yang bukan milikmu,” ucap Mavendra tanpa memberi kesempatan.
“Dan kau pikir aku akan menerima alasan apa pun?”
Pria itu terdiam. Hanya suara napasnya yang terdengar putus-putus.
“Kau akan diproses sesuai hukum,” lanjut Mavendra.
“Mulai hari ini, statusmu dicabut dari perusahaan. Dan kau tidak akan mendapatkan satu rupiah pun dari pesangon.”
“Tuan, saya mohon… anak saya—”
“Jangan tarik keluargamu ke dalam masalah yang kau buat sendiri.”
Nada itu tidak keras, tetapi tajam. Tidak bisa dibantah.
Pria itu mulai menangis.
“Saya khilaf…”
“Kau tidak khilaf,” koreksi Mavendra.
“Kau membuat rencana.”
Keynan menunduk. Bahkan ia tidak sanggup menatap ekspresi Mavendra. Ada tekanan yang tidak perlu dijelaskan, semua orang bisa merasakannya.
“Keynan,” ucap Mavendra akhirnya.
“Selesaikan semua prosedur. Hubungi kepala cabang. Pastikan semua akses pria itu dicabut dalam lima menit.”
“Baik, Tuan.”
Video call berakhir. Mavendra menutup mata sebentar, bukan lelah, tetapi mengatur amarah yang masih tertahan di dadanya.
“Cabang itu kacau,” katanya tanpa melihat Keynan.
“Kami akan perbaiki, Tuan.”
“Kirim orang yang bisa dipercaya. Aku tidak mau masalah seperti ini terjadi lagi.”
“Siap.”
Mavendra mengambil tablet dan berkas, lalu melangkah keluar dari ruangan. Keynan mengikutinya sampai pintu.
Saat akan menekan tombol lift, Mavendra terhenti. Bukan karena ragu. Lebih karena pikirannya kembali ke satu nama.
Jean. Alesha.
Ia menarik napas tipis.
“Saya kembali ke rumah sakit.”
“Baik, Tuan.”
Mavendra tidak mengatakan apa pun lagi. Ia masuk lift. Wajahnya tetap tegas, tetapi di balik itu, satu hal yang jelas.
Ia tidak suka meninggalkan anaknya.
Dan tidak suka membiarkan Alesha menghadapi siapapun sendirian. Sekalipun orang tuanya sendiri.
***
Alesha tengah bercanda dengan Jean, saat orang tua Maven dan Leora kembali ke ruangan Jean setelah makan siang bersama.
Alesha hanya diam.
"Halo... anak ganteng. Sudah bangun ya?" tanya Leora ramah dengan senyum manis yang ia buat-buat.
Jean hanya mengangguk.
"Lagi bercanda apa nih? Seru banget kayaknya," ucap Leora mencoba untuk akrab dengan Jean.
Jean hanya tersenyum tipis.
Leora mendekat ke samping ranjang Jean.
"Waah... hebat. Makanannya habis ya, makan yang banyak ya, Sayang. Biar Jean cepat sembuh," ucap Leora sambil mengelus pelan rambut Jean, saat melihat tempat makan Jean sudah kosong.
Hal itu membuat orang tua Maven tersenyum lebar.
Alesha yang melihatnya pun langsung menunduk. Ia hanya diam.
"Jean, itu aunty Leora. Teman papa kamu, cantik kan?"
"Mami," sahut Leora malu-malu dengan nada manja yang seakan dibuat-buat.
"Cantik bunda Jean. Bunda Jean juga baik," sahut Jean dengan penuh rasa percaya diri dan dengan wajah polosnya yang imut. Menurutnya, bundanya tak akan pernah tergantikan dalam hidupnya.
Leora yang mendengar jawaban Jean pun langsung terdiam. Senyum yang tadinya melebar, kini hilang berubah masam.
Mami Lucy terkejut dengan jawaban cucunya. Ia langsung melotot ke arah Jean.
"Jean," tegurnya.
Membuat Jean langsung menggenggam tangan Alesha.
"Tidak apa-apa, Sayang. Ada bunda disini," bisik Alesha pelan kepada Jean.
Alesha tak dapat berbuat apa-apa, ia takut kalau membuka suara akan memperkeruh keadaan
"Tidak apa-apa, Mi. Jangan marahin Jean, kasihan dia masih kecil," ucapnya mencoba untuk membela Jean.
"Kamu memang anak yang baik, Leora."
Leora tersenyum manis.
"Oh ya, kemana Maven?" tanya mami Lucy pada Alesha
"Tadi ada telepon dari Keynan, Nyonya besar. Sepertinya dia pergi ke kantor," jawab Alesha yang tak berani menatap mami Lucy.
Leora sedikit terkejut saat mendengar Alesha memanggil Mami Lucy dengan sebutan “Nyonya Besar.”
Ia menahan senyum. Sudut bibirnya terangkat tipis, penuh kepuasan yang tidak berusaha ia sembunyikan.
Wajahnya jelas mengejek, seakan berkata, “lihat kan? Kamu tetaplah orang luar bagi keluarga Mavendra… sementara aku sudah dianggap keluarga, jauh sebelum kamu muncul.”
Tatapan itu hanya sepersekian detik, tapi cukup menusuk. Seolah Leora ingin memastikan Alesha sadar siapa yang lebih “menang” di mata orang tua Mavendra dan ia merasa jauh lebih dianggap daripada istri kontrak itu.
Pintu terbuka, memperlihatkan seseorang yang memakai kemeja yang ia gulung sampai lengan. Rambut rapi. Jam tangan. Dan kacamata yang membuat dirinya terlihat lebih tampan dari biasanya.