"Permisi. Wahh... ramai sekali ini."
"Bian?" ucap Papi Grayson saat melihat Bian masuk ke ruangan Jean.
Alesha semakin kaku. Napasnya terasa pendek. Kehadiran Bian membuat seluruh tubuhnya menegang.
"Halo om, tante. Sudah lama nih aku nggak ketemu om dan tante," ucap Bian.
"Iyaa nih, kamu juga nggak pernah main lagi kerumah om," sahut papi Grayson.
"Sibuk om, sekarang. Maklum lagi pendidikan profesi," jawab Bian.
"Pantesan. Semoga lancar ya."
"Amin om, terimakasih."
Papi Grayson hanya mengangguk.
Bian mengangkat map di tangannya.
“Ooh iya... ini hasil laboratorium Jean. Tadi aku nggak sengaja dengar, perawat mau bawa ke ruanganmu, jadi aku minta sekalian.”
Leora menoleh cepat.
“Kamu ke ruanganku?”
“Iya. Tapi kamu nggak ada. Perawat bilang kamu di sini.”
““Iya. Aku lagi cek kondisi Jean."
Alesha hanya berdiri diam, mengamati percakapan mereka. Tatapan Bian pada Leora, cara Leora merespons, semuanya menunjukkan kedekatan yang tidak perlu dijelaskan lagi.
Leora lalu menatap Alesha.
“Kami memang kenal. Aku, Bian, Karin, dan Mavendra. Dulu satu SMP. Orang tua kami juga saling mengenal. Papanya Bian kolega papaku dan papi Maven.”
Alesha mengangguk kecil. Tidak menimpali. Ia hanya memeluk dirinya sendiri secara halus.
Mami Lucy ikut menambahkan.
“Iya, mereka sudah dekat dari lama. Dulu sering main ke rumah.”
Papi Grayson mengangguk membenarkan.
Alesha hanya tersenyum tipis. Tidak nyaman. Tidak ingin ikut percakapan itu.
Pintu terbuka.
Mavendra masuk.
Alesha langsung mengembuskan napas. Bahunya turun sedikit, seolah tubuhnya baru diberi ruang untuk bernapas.
Tatapan Maven menyapu ruangan cepat. Orang tuanya. Leora. Bian. Alesha.
Namun Bian mendapat tatapan paling dingin.
“Hai, Ven,” sapa Bian sopan.
Maven tidak membalas. Bahkan sekilas pun tidak.
Ia langsung mendekati ranjang Jean. Menyentuh kepala putranya. Baru setelah itu ia menoleh ke Leora.
“Gimana?”
Leora membuka map hasil laboratorium Jean.
“Hasilnya bagus. Nilai trombosit stabil. Tidak ada penurunan lagi. Kalau malam ini aman, besok Jean boleh pulang.”
Reaksi orang tua Maven langsung menunjukkan lega. Mami Lucy menutupi bibirnya, sedangkan Papi Grayson menepuk bahu sendiri pelan.
Alesha ikut melepaskan ketegangan.
“Syukurlah kalau begitu.”
Bian menimpali singkat.
Rahang Maven mengeras. Seolah tidak suka mendengar suara Bian.
Setelah menjelaskan beberapa hal, Leora menutup mapnya.
“Aku lanjut dulu ke pasien lain.”
Bian ikut bersiap keluar. Namun sebelum mereka mencapai pintu, Mami Lucy menahan mereka.
“Kalian sempatkan main ke rumah, ya. Sudah lama sekali nggak kumpul.”
Papi Grayson mengangguk.
“Iya. Kapan-kapan mampir. Rumah selalu terbuka untuk kalian."
Leora tersenyum.
“Siap. Mami, Papi.”
Bian ikut tersenyum sopan.
“Siap, Om, Tante. Nanti saya kabari."
Alesha hanya diam. Tidak melihat keduanya.
Maven berdiri di sisi Alesha. Tanpa berkata apa-apa, namun gestur kecilnya jelas, ia ingin Bian cepat keluar.
Leora dan Bian akhirnya melangkah pergi.
Pintu menutup perlahan. Hening sejenak.
Alesha menunduk, menenangkan dirinya.
Maven menatap pintu, rahangnya masih tegang.
Ia tidak suka Bian ada di sana. Dan Alesha tahu itu.
Mami Lucy masih sempat melirik Alesha. Tatapannya jelas tidak ramah. Alesha menunduk, tidak ingin membalas apa pun.
“Mi, Pi… kalian istirahat saja di rumah,” ucap Maven tenang, tapi ada nada memotong.
Mami Lucy menghela napas pelan, lalu berdiri.
“Ya sudah, kami pulang dulu. Besok pagi kami kesini lagi.”
Papi Grayson menepuk bahu Maven singkat.
“Hubungi Papi kalau ada apa-apa.”
“Iya, Pi.”
Mereka pun keluar. Pintu tertutup.
Suasana langsung berubah dingin.
Maven menoleh ke Alesha.
“Kenapa ada dia?”
Nadanya tidak tinggi, tapi cukup tajam.
Alesha mengangkat wajah pelan.
“Tadi… Bian dengar perawat ngobrol di depan laboratorium. Perawat itu mau antar hasil laboratorium Jean ke ruangannya Leora,” jelas Alesha hati-hati.
“Kebetulan dia ada urusan sama Leora, jadi dia bawa sekalian.”
Maven mendengarkan, tapi rahangnya tetap mengeras.
“Dia ke ruangannya Leora, tapi Leora nggak ada. Perawat lain bilang kalau Leora ada di sini. Makanya dia langsung kesini. Sekalian… lihat Jean.”
Alesha mengakhiri dengan suara kecil.
Maven tidak langsung menjawab. Ia hanya mengembuskan napas pendek.
Orang tua mereka sudah pergi. Ruangan hanya berisi mereka dan Jean yang tertidur setelah minum obat, yang dibantu oleh Alesha. Mereka pun duduk santai di sofa.
Alesha memberanikan diri untuk bertanya.
“Apakah ada masalah di kantor?"
Maven menatap lurus ke depan.
“Ya. Tadi Keynan telepon.”
Nada suaranya merendah, jelas bukan kabar baik.
Alesha mengangguk, menunggu ia melanjutkan.
“Staff keuangan di cabang Bandung… ada yang main angka,” ucap Maven datar.
Alesha tersentak kecil. Ia tidak menyangka hal itu bisa terjadi di perusahaan Mavendra. Apalagi ia sendiri hanya menangani laporan Surabaya dan Malang, bukan Bandung.
“Main angka?”
Suaranya rendah.
“Ya. Dan nilainya tidak kecil.”
Alesha menatapnya, gelisah.
“Bagaimana bisa? Setiap bulan selalu ada laporan dari cabang. Lalu… anda harus ke sana?”
“Ketahuannya dua minggu lalu dari laporan audit internal. Tidak. Saya akan cek lewat meeting.”
Maven menautkan pandangannya sebentar, tegas tapi lelah.
“Saya sudah suruh Keynan menjalankan semua prosedur. Termasuk proses hukum.”
Alesha mengangguk.
“Baik.”
Maven bersandar sedikit, tapi wajahnya tetap tegang.
Ia sudah lega soal Jean. Tapi soal Bian dan soal kantor… jelas masih mengganggu pikirannya.
Alesha tidak berbuat lebih. Ia hanya diam. Memberi ruang… dan tak berani untuk mengganggu.
Maven berdiri, berjalan ke arah ranjang dan mengusap halus rambut Jean.
“Saya hanya ingin semuanya aman malam ini,” ucapnya pelan.
Alesha mengangguk.
Maven kembali ke sofa. Gerakannya tenang, tapi sorot matanya belum pulih sepenuhnya.
“Alesha.”
Alesha menoleh cepat.
“Nanti kalau Jean sudah pulang…” Maven berhenti sebentar, memastikan Alesha memperhatikan.
“Semua makanannya kamu yang masak. Tidak boleh ada yang ikut campur. Termasuk mami, atau bibi.”
Alesha mengangguk tanpa ragu.
“Baik.”
“Setiap hari. Apa pun yang dia makan, kamu yang siapkan.”
Nada itu tegas. Bukan permintaan. Perintah yang keluar dari rasa takut kehilangan.
Alesha menahan napas singkat.
“Iya.”
Maven menatapnya lagi. Tatapannya tidak setajam tadi, tapi tetap kuat.
“Kamu fokus saja ke Jean. Jangan pikirkan urusan kantor. Biar saya dan Keynan yang selesaikan.”
“Baik.”
Jawaban itu keluar pelan, namun pasti.
“Kalau kamu butuh sesuatu, bilang. Jangan ditahan sendirian.”
Ada penekanan di sana. Seolah ia ingin memastikan Alesha tidak akan diam seperti sebelumnya.
Alesha hanya mengangguk lagi.