Orang tua Mavendra kembali ke rumah sakit untuk memastikan keadaan Jean. Begitu mereka masuk, Leora sudah berada di ruangan Jean sambil memeriksa hasil akhir.
“Jean sudah diperbolehkan pulang, Mi, Pi,” ucap Leora sambil menutup mapnya.
Mami Lucy menghela napas lega.
“Syukurlah. Terima kasih banyak, Leora. Kamu sudah merawat Jean dengan baik.”
Papi Grayson ikut mengangguk.
“Kami benar-benar terbantu. Kamu selalu cepat tanggap.”
Leora tersenyum kecil.
“Aduh, Pi… jangan berlebihan begitu. Leora hanya menjalankan tugas.”
Kedekatan itu terasa natural. Leora memanggil mereka Mami dan Papi tanpa keraguan sedikit pun.
Alesha berdiri di samping ranjang, mengamati tanpa ikut campur.
Sedangkan Maven tengah menyelesaikan proses administrasi.
Setelah semuanya selesai dan siap. Mereka keluar dari ruangan.
"Semuanya, saya duluan, ya. Dadaa Jean, sehat-sehat ya," ucap Leora berpamitan sambil melambaikan tangan pada Jean.
Jean pun membalas lambaian tangan Leora sambil mengangguk.
Orang tua Maven pun pamit pulang lebih dulu.
“Maven, Mami sama Papi pergi duluan, ya. Ada yang harus kami datangi sebentar,” ucap Mami Lucy.
“Iya, Mi. Hati-hati,” jawab Maven singkat.
Alesha hanya mengangguk sopan.
Begitu mereka keluar dari rumah sakit, rombongan kecil itu pun beranjak pulang dengan kendaraan masing-masing.
***
Alesha menggendong Jean keluar dari mobil dengan hati-hati. Anak itu masih tampak lemas, tapi matanya lebih cerah dari hari-hari sebelumnya.
“Bunda… mau tidur,” gumam Jean sambil menyandarkan kepala di bahu Alesha.
“Iya, Sayang. Kita ke kamar, ya,” balas Alesha lembut.
Maven membuka pintu rumah lebih dulu. Tanpa banyak bicara, ia memeriksa suhu tubuh Jean dengan punggung tangannya. Gerakannya pelan, tapi wajahnya tetap waspada.
“Masih hangat sedikit,” ucap Maven pendek.
Alesha mengangguk.
“Nanti saya kompres lagi.”
Maven memberi ruang untuk Alesha lewat, lalu mengikuti mereka dari belakang.
Sesampainya di kamar Jean, Alesha menurunkan tubuh kecil itu ke ranjang. Jean langsung menarik selimutnya sendiri, seolah tubuhnya tahu ia butuh istirahat.
“Bunda duduk sini,” pinta Jean dengan suara serak, menepuk pelan sisi ranjang.
Alesha duduk. Jean meraih jemarinya, menggenggamnya erat.
Maven berdiri di samping, memperhatikan dalam diam. Ada kelegaan halus di wajahnya melihat Jean memanggil Alesha dengan begitu manja.
“Minum dulu sedikit,” ucap Alesha, mengambil gelas kecil yang sudah ia siapkan sejak pagi.
Jean menggeleng pelan.
“Sedikit saja, Sayang.”
Alesha menyodorkan gelas ke bibir Jean.
Maven ikut menunduk, nadanya tenang namun tegas.
“Jean minum.”
Jean langsung membuka mata, lalu meneguk beberapa sendok kecil air. Alesha tersenyum lembut.
“Good job, Sayang.”
Setelah Jean kembali terbaring, Alesha menutupi tubuh kecil itu dengan selimut ringan.
Maven baru berbicara setelah beberapa detik hening.
“Menu untuk Jean hari ini apa?”
“Bubur lembut. Tanpa garam, tanpa minyak. Kaldu bikinan rumah,” jawab Alesha pelan.
“Besok?”
“Sup sayur daging. Sama jus buah tanpa gula.”
Maven mengangguk. Ia menyukai jawaban yang rapi seperti itu.
“Kalau ada yang kurang, bilang. Saya siapkan.”
Nada itu tidak keras, tapi sedikit ada tekanan.
Alesha menyentuh dahi Jean sejenak lalu bangkit.
“Saya mau ke dapur dulu, sebentar.”
Namun sebelum ia melangkah, Jean menggenggam ujung bajunya.
“Bunda jangan pergi…”
Alesha menunduk, mengusap pipi Jean.
“Bunda ke dapur sebentar, Sayang. Jean sama papa dulu, ya?”
Jean mengangguk kecil.
Maven memperhatikan interaksi mereka berdua. Sorot matanya melembut, meski wajahnya tetap datar.
Saat Alesha hendak keluar kamar, Maven memanggil Alesha.
“Alesha.”
Alesha menoleh pelan.
“Mulai hari ini, kamu tidur di kamar Jean. Saya tidak mau dia bangun dan tidak melihat kamu berada di sisinya.”
Alesha sempat terdiam, namun ia tidak membantah.
“Baik.”
“Kalau kamu butuh apa pun, panggil saya. Jangan takut.”
Ada sedikit tekanan di suaranya, seolah ia mengulang hal yang ingin tertanam kuat di kepala Alesha.
Alesha mengangguk.
Maven menatap Jean yang sudah memejamkan mata. Nadanya menurun sedikit, nyaris seperti bisikan.
“Dia butuh kamu.”
Alesha menelan napas perlahan.
“Ya, saya di sini. Saya akan selalu berada di samping Jean.”
Maven hanya mengangguk sekali, kemudian membiarkan Alesha pergi ke dapur.
Begitu Alesha sudah tidak terlihat, Maven kembali mendekati ranjang Jean. Ia duduk di sisi ranjang, menyentuh rambut putranya.
“Nak… cepat sembuh,” gumamnya pelan.
Jean tidak membuka mata, tapi tangannya bergerak kecil, mencari.
Maven menangkapnya. Genggaman kecil itu menenangkan, setidaknya untuk beberapa saat.
Alesha kembali beberapa menit kemudian, membawa termometer, kompres, dan air putih.
Maven menoleh.
“Saya mau lihat dulu hasilnya, sebelum kamu kompres.”
Alesha menyerahkan termometer. Ia menunggu tanpa suara.
Setelah beberapa detik, Maven menatap angka di layar kecil itu.
“Masih aman. Tetap dijaga. Jangan lepas dari pantauan.”
“Iya.”
Maven berdiri.
“Saya ada meeting sebentar lewat video. Kalau Jean rewel, panggil saya.”
Alesha mengangguk lagi.
Maven menatapnya lama, lebih lama dari biasanya.
“Kamu jangan capek sendiri.”
Alesha menunduk halus.
“Saya baik-baik saja.”
Maven tidak percaya itu, tapi ia tidak memaksa.
Ia hanya melangkah pergi… dengan satu kalimat yang keluar tanpa ia rencanakan.
“Alesha… terima kasih.”
Alesha terpaku sesaat. Namun ia tidak menjawab. Ia hanya menatap pintu yang kembali tertutup pelan.
Di belakangnya, Jean bergumam kecil.
“Bunda…”
Alesha kembali duduk di sisi ranjang, memegang tangan kecil itu.
"Bunda di sini, Sayang. Jangan takut, ya."
Alesha merebahkan dirinya di sisi Jean, dan tiba-tiba Mavendra masuk kembali dan mendekat ke sisi ranjang. Ada sesuatu yang membawanya untuk lebih dekat lagi.
Ia duduk di tepi ranjang, menghimpit Alesha yang seketika jantungnya seperti ingin melompat keluar, apalagi ketika wajah itu dekat dan lebih dekat lagi sampai napasnya terasa di wajah Alesha yang perpaduan antara takut dan malu.
Tiba-tiba ....
Cup.
Satu kecupan hinggap di kening Jean dan Alesha menghela napas lega.
Namun, Mavendra beralih menatapnya tanpa kata, hanya tatapan yang disusul senyuman hangat. Dan, satu usapan lembut mendarat di pipinya.