Alesha mematung beberapa detik setelah pintu kembali tertutup. Pipinya masih terasa hangat. Bukan karena suhu kamar, tapi karena sentuhan singkat yang tidak pernah ia bayangkan datang dari Maven.
Ia mengembuskan napas perlahan, mencoba menenangkan dirinya. Jean masih tertidur. Tangannya menggenggam lengan Alesha seolah takut ditinggal.
Alesha menunduk, menatap wajah kecil itu, lalu mengusap rambutnya lembut.
“Tidur saja, Sayang. Bunda di sini.”
Jean bergeser sedikit dan mendekat. Alesha mendekap pelan Jean dan menatapnya penuh sayang. Hanya beberapa menit berlalu sebelum Jean menggumam lagi, pelan dan lirih.
“Bunda… jangan pergi.”
Alesha mengelus punggungnya.
“Nggak, Sayang. Bunda disini, temani Jean.”
Ia mencoba fokus merawat Jean. Tapi pikirannya terus tertuju pada tatapan Maven tadi. Jarak yang begitu dekat, dan sentuhan hangat di pipinya. Alesha mengerjapkan mata, menolak membiarkan pikirannya lari kemana-mana.
Namun, jantungnya tetap berdetak tidak karuan.
Alesha tidak tahu kapan matanya tertutup. Ia hanya ingat suara napas Jean yang teratur, lalu semuanya pelan-pelan mengabur sampai gelap.
Saat ia terbangun, matanya masih terasa berat dan samar. Alesha mengerjap pelan.
Selimut.
Ia menatap kain itu beberapa detik tanpa bergerak. Ia yakin tidak memakai apa pun selain kaos yang ia pakai. Napasnya tertahan pelan. Jantungnya langsung berdetak.
Jean masih tertidur di sampingnya, posisinya miring ke Alesha. Anak itu tenang. Tidak rewel. Suhunya terasa stabil saat Alesha menyentuh dahi Jean.
Alesha meletakkan kompres baru di dahi Jean, lalu memeriksa suhu tubuhnya dengan punggung tangan. Suhunya turun. Ia lega.
Tapi selimut ini…
Ia menunduk sedikit, menyentuhnya dengan ujung jari. Bukan selimut Jean. Bukan dari lemari kecil dekat ranjang.
Alesha tersentak ringan ketika suara lembut dari belakangnya terdengar.
“Sudah bangun?”
Alesha menoleh cepat.
Maven berdiri di ambang pintu. Mengenakan kaos berwarna putih yang membentuk badan atletisnya. Celana jeans pendek warna cream. Dan rambutnya yang basah.
Alesha refleks duduk lebih tegak.
“M-maaf… saya ketiduran.”
“Tidak perlu minta maaf.”
Suaranya tenang. Tapi tatapannya tidak biasa. Bukan dingin. Bukan datar. Ada sesuatu yang Alesha tidak bisa definisikan.
Ia menunduk. Dadanya berdebar melihat penampilan Maven saat ini.
Alesha akhirnya bertanya pelan.
“Ini… selimutnya?”
Maven mengangguk sedikit.
“Kamu tadi kelihatan kedinginan.”
Alesha tersentak kecil. Ia menunduk.
Tatapan Maven turun ke Jean sebentar, lalu kembali ke Alesha.
Alesha meremas ujung selimut, bingung kenapa dadanya berdebar kencang.
Maven mendekat dua langkah, lalu berhenti di batas aman yang tetap terasa tidak aman untuk detak jantung Alesha.
“Jean terlihat sudah stabil.”
"Iyaa."
Alesha menoleh singkat ke Jean. Anak itu masih tidur, wajahnya tenang.
Ia kembali menatap Maven.
“Terima kasih… sudah—“
“Tidak perlu,” potong Maven lembut.
“Saya memang harus cek kondisi kalian.”
Alesha terkesiap dalam hati.
“K-kondisi kami?”
Maven menatapnya diam. Lama. Seolah sedang memilih kata.
“You’re tired,” katanya pelan.
“Dan kamu tetap jaga Jean tanpa berhenti. Itu bagus… tapi kamu juga bisa jatuh sakit.”
Alesha menggigit bibir.
"Saya baik-baik saja.”
“Tidak terlihat begitu tadi.”
Napas Alesha tersangkut. Ia menunduk cepat.
Maven mendekat satu langkah lagi, posisi tubuhnya condong sedikit ke arah Alesha. Tidak menyentuh. Tapi kedekatan itu cukup membuat napas Alesha tidak stabil.
Wajahnya memerah. Pipinya terasa panas. Ia memejamkan mata singkat, malu.
“Kalau kamu lelah, bilang. Kalau kamu keberatan, bilang. Kalau kamu butuh istirahat, bilang. Jangan kamu pendam sendiri.”
Nadanya tegas. Tapi ada sesuatu di baliknya. Perhatian.
Alesha menelan ludah.
“Saya… tidak mau merepotkan.”
Maven menghela napas pendek. Tatapannya turun ke selimut yang masih menutupi tubuh Alesha.
“Tidak ada yang merasa direpotkan.”
Alesha membeku.
Maven melanjutkan, suaranya lebih pelan.
“Saya tidak keberatan untuk mengecek dan menjaga Jean.”
"I-iyaa."
Ia hanya mampu menunduk, menatap selimut di pangkuannya.
“Kalau kamu mau mandi atau istirahat sebentar, silahkan. Saya yang akan jaga Jean.”
Alesha cepat menggeleng.
“Tidak usah. Saya… saya di sini saja.”
Maven hanya menatapnya. Tatapan yang membuat Alesha ingin sembunyi di balik selimut yang ia pakai.
Setelah beberapa saat, Maven bicara lagi.
“Alesha.”
Alesha mengangkat wajah pelan.
Maven tidak mendekat lagi. Tapi suaranya cukup untuk membuat Alesha diam seluruhnya.
“Kamu boleh istirahat. Saya ada di sini.”
Alesha tidak menjawab. Ia hanya menahan selimut itu erat, seolah itu satu-satunya cara mempertahankan dirinya agar tidak kembali terbawa perasaannya.
Dan Maven… tetap memandangnya dengan tatapan yang tidak bisa ia pahami.
Tetap tenang. Tapi terlalu dalam untuk dihindari.
Maven berlalu ke sisi ranjang, mengambil kursi dan duduk.
Jean menggeliat kecil. Alesha langsung menoleh, refleks memegang pundak kecil itu.
Jean membuka mata pelan, mengedip beberapa kali sebelum menatap Alesha.
“Bunda…” suaranya serak.
Alesha tersenyum lembut.
“Iya, Sayang. Jean mau apa?”
Jean menarik napas pendek.
“Laper…”
Alesha mengusap pipi Jean.
“Bunda buatkan, ya? Bubur mau?”
Anak itu mengangguk kecil.
Alesha merapikan posisi Jean, lalu bangkit perlahan. Begitu ia berdiri, tatapannya tanpa sengaja bertemu Maven. Laki-laki itu sudah duduk di kursi dekat ranjang Jean, menunduk sedikit pada anak itu lalu mengalihkan tatapannya ke Alesha.
“Saya di sini,” ucapnya singkat.
Alesha mengangguk cepat, lalu melangkah keluar. Ia mencoba berjalan stabil, padahal detak jantungnya masih tidak karuan.
Begitu sampai di dapur, ia membuka lemari, mengambil bahan, dan mulai menyiapkan bubur. Tangannya bergerak otomatis. Tapi kepalanya… tidak.
Ia masih mengingat selimut itu. Tatapan Maven. Cara laki-laki itu berbicara.
Alesha menggigit bibir, mencoba fokus mengaduk panci.
“Fokus, Alesha. Jangan mikir macam-macam,” gumamnya lirih.
Tapi suara langkah dari belakang membuat seluruh tubuhnya menegang. Alesha berhenti mengaduk. Napasnya langsung berat.
Suara itu mendekat. Pelan. Teratur. Jelas bukan suara Jean.
Alesha tidak berani menoleh. Hanya memegang gagang spatula lebih erat.
Sampai suara yang ia kenal betul muncul tepat di belakangnya.
“Alesha.”
Alesha menoleh pelan. Begitu melihat siapa yang berdiri di belakangnya, lututnya seperti hilang tenaga. Lemas.