“N-nyonya besar.”
Suaranya hampir tidak keluar.
Wajah wanita itu datar. Tidak marah, tapi dinginnya menusuk lebih dari amarah mana pun.
"Alesha!"
Mami Lucy mengulang panggilannya dengan nada yang lebih menukik.
“Kenapa kamu di sini? Siapa yang menjaga Jean?”
Alesha langsung menunduk. Spatulanya masih ia genggam.
“Jean lapar, Nyonya. Saya sedang memasak bubur untuknya. Di kamar ada Tuan Maven yang menjaga.”
Alis mami Lucy terangkat.
“Lalu kenapa kamu yang masak? Di rumah ini banyak orang. Kamu tinggal bilang, pasti ada yang bantu. Kamu harusnya selalu ada di samping Jean.”
Alesha diam. Tenggorokannya perih. Ia tidak berani mengangkat kepala.
Mami Lucy melangkah lebih dekat.
“Saya tanya baik-baik, Alesha. Kenapa kamu harus masak sendiri?”
Napas Alesha tercekat. Ia tahu ini akan terdengar salah di telinga wanita itu, tapi ia tetap harus menjawab.
“Karena Tuan Maven sudah bilang."
Suaranya lirih.
“Makanan Jean, hanya boleh saya yang buat. Tidak boleh yang lain.”
Tatapan mami Lucy langsung berubah tajam.
“Apa?”
Alesha menunduk lebih dalam.
“Tuan Maven sendiri yang perintahkan. Saya tidak berani melanggarnya.”
Rahang mami Lucy mengeras.
“Alesha, kamu pikir saya tidak bisa memasak untuk cucu saya sendiri? Kamu pikir saya tidak tahu apa yang baik untuk Jean? Kamu—”
Suara langkah berat menghentikan kalimat itu.
Mami Lucy menoleh.
Mavendra baru keluar dari kamar Jean sambil memegang gelas kosong. Ia hendak mengambil air, tapi pandangannya terhenti ketika mendengar nada ibunya.
Ia berdiri beberapa langkah dari mereka. Tidak bicara. Hanya menatap.
Wajah Alesha semakin pucat. Ia menggigit bibir, takut Mavendra salah paham.
Mami Lucy mengangkat dagu, hendak berbicara lagi.
“Ven, kamu dengar? Dia bilang—”
“Ya, saya dengar.”
Nada Mavendra pelan, tapi tajam.
Mami Lucy terdiam.
Mavendra menatap ibunya tanpa menurunkan intensitas sedikit pun.
“Saya memang bilang, makanan Jean hanya Alesha yang buat.”
Ruangan mendadak hening.
Mami Lucy menatap anaknya tidak percaya.
“Ven, kamu serius? Bahkan saya—”
“Mi,” potong Mavendra.
“Jean hanya makan yang Alesha masak. Saya yang putuskan.”
Alesha menunduk, jantungnya berdebar tidak karuan. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini.
Mami Lucy mengeraskan rahangnya, menahan reaksi yang jelas tampak di wajahnya.
Dan di tengah ketegangan itu, suara bubur yang hampir mendidih terdengar pelan.
Alesha buru-buru kembali mengaduk. Tangannya gemetar, tapi ia mencoba tetap tenang.
Mavendra mendekat. Ia mengambil air seperti niat awalnya, tapi matanya tak lepas dari Alesha seolah memastikan wanita itu baik-baik saja.
Sedangkan mami Lucy, ia masih menatap keduanya. Tidak menerima. Tapi tidak bisa membantah. Ia pun akhirnya pergi meninggalkan Mavendra dan Alesha yang masih ada di dapur.
Mavendra mendekat ke Alesha.
"Tidak usah kamu pikirkan omongan mami. Saya hanya ingin kamu fokus pada Jean. Tidak usah pedulikan yang lain."
Alesha menoleh.
"Baik, Tuan."
"Kamu mengerjakannya atas perintah saya. Tidak usah takut."
Alesha mengangguk.
"Baik, Tuan."
Alesha kembali menunduk. Uap dari panci membuat wajahnya sedikit hangat, tapi bukan itu yang membuat dadanya sesak. Ia hanya berusaha menenangkan napasnya.
“Buburnya sebentar lagi matang,” ucapnya pelan.
Mavendra mengangguk, masih berdiri di sampingnya.
“Kalau sudah, biar sekalian saya bawa.”
Alesha refleks menatap.
“Tidak usah, biar saya saja.”
“Tidak apa-apa, Jean sudah menunggu,” jawab Mavendra singkat.
"Baiklah."
Mavendra menatapnya sebentar sebelum berbicara lagi.
“Alesha, jangan merasa bersalah. Kamu tidak salah apa-apa.”
Alesha menunduk.
“Saya hanya tidak ingin membuat nyonya besar marah.”
“Dia marah bukan karena kamu. Dia marah karena saya.”
Nada Mavendra datar, tapi jelas.
Alesha mengangkat wajahnya pelan.
“Tetap saja, saya yang kena.”
“Kamu tidak akan kena apa pun selama ada saya," ucapnya pelan, tapi tegas.
Alesha menggigit bibir. Ada sesuatu yang naik di dadanya, sulit untuk dijelaskan.
Bubur mulai mengental. Ia mematikan kompor dan menuangkannya ke mangkuk kecil. Gerakannya hati-hati agar tidak tumpah.
“Saya bawa,” ujar Mavendra seraya mengulurkan tangan.
Alesha menahan mangkuk itu sebentar, lalu menyerahkannya.
Jari mereka tidak bersentuhan, tapi jaraknya terlalu dekat untuk tidak membuat Alesha gugup.
“Terima kasih,” ucap Mavendra, kali ini lebih lembut.
Alesha mengangguk.
Mavendra berbalik, melangkah menuju kamar Jean. Namun sebelum ia benar-benar pergi, ia menoleh lagi.
“Alesha.”
Alesha mengangkat wajah.
“Setelah Jean makan, kamu istirahat sebentar. Kamu kelihatan lelah.”
Alesha terkejut.
“Saya tidak apa-apa.”
“Jangan dipaksakan,” balas Mavendra tanpa ragu.
Alesha tidak menjawab. Hanya mengangguk pelan.
Mavendra pun pergi membawa bubur itu masuk ke kamar Jean, sementara Alesha tetap berdiri di dapur.
Ia memegang sisi meja, mencoba menenangkan napas yang masih berlarian di dadanya.
Kalimat Mavendra barusan, terus terngiang. Bukan ancaman. Bukan perintah keras.
Justru membuatnya semakin sulit mengatur diri sendiri.
Alesha melangkah pelan menuju kamar Jean. Pintu sudah terbuka lebar, dan ia melihat Mavendra duduk di tepi ranjang sambil memegang mangkuk. Jean menggeleng berkali-kali, bibirnya manyun.
“Jean, makan dulu,” ucap Mavendra lembut.
Jean memalingkan wajah.
“Nggak mau. Bunda aja.”
Alesha mendekat tanpa suara. Mavendra menoleh sebentar, lalu menggeser posisinya agar Alesha bisa masuk.
“Dia tidak mau,” ucap Mavendra singkat.
Jean langsung menoleh ke Alesha.
“Bunda, suapin."
Alesha duduk di tepi ranjang. Ia menerima mangkuk dari Mavendra. Gerakannya pelan karena Jean menatapnya dengan harap.
Alesha tersenyum tipis.
“Ayo, makan dulu. Bunda suapin.”
Jean membuka mulut lebar-lebar. Suapan pertama masuk dengan mudah. Jean mengunyah sambil tersenyum kecil.
Mavendra duduk kembali di kursinya, tidak jauh dari mereka. Tatapannya tetap ke arah Alesha.
Alesha menyuapi lagi. Jean kembali menerima tanpa protes.
“Pintar,” ucap Alesha sambil mengusap sedikit rambut Jean.
Jean merapat ke arahnya.
“Bunda, jangan jauh-jauh.”
Alesha mengangguk.
“Iyaa, Bunda di sini.”
Suapan demi suapan masuk. Jean terlihat tenang. Mangkuk mulai berkurang isinya.
Mavendra bersandar sedikit, tapi matanya tidak pindah dari mereka. Ia memperhatikan cara Alesha mengusap pipi Jean, cara Jean menatap Alesha, dan cara Alesha menyuapi dengan sabar.
Alesha melirik ke arahnya beberapa kali, tapi dengan cepat ia menunduk lagi. Ada sesuatu dalam tatapan Mavendra yang sulit ia jabarkan.
Jean mulai menguap kecil.
Alesha menepuk lembut lengannya.
“Masih mau?”
Jean mengangguk pelan.
“Sedikit lagi.”
Alesha menyuapi sisa bubur sampai habis. Setelah itu, ia letakkan sendok ke mangkuk dan mengusap mulut Jean dengan tisu. Setelahnya, Ia membantu Jean meminum obat.
Jean memeluk lengannya erat.
“Bunda."
Alesha menunduk.
“Iya, Bunda di sini.”
Jean memejamkan mata perlahan sambil tetap memegang lengan Alesha.
Mavendra berdiri untuk mengambil mangkuk. Gerakannya pelan agar tidak mengganggu.
Alesha hendak bangkit, tetapi Mavendra menatapnya sebentar.
“Diam dulu. Biarkan dia tidur.”
Alesha kembali duduk. Ia membiarkan tangan kecil itu menggenggamnya.
Mangkuk sudah dibawa ke meja kecil. Mavendra kembali mendekat.
Ia menatap Jean, lalu menatap Alesha. Suaranya rendah.
“Kamu selalu berhasil untuk buat dia mau.”
Alesha menunduk.
“Jean memang manja.”
“Bukan itu,” ucap Mavendra cepat.
"Dia selalu nyaman dan tenang sama kamu.”
Alesha tidak menjawab.
Jean akhirnya tertidur lebih dalam. Genggamannya melemah.
Alesha melepaskan pelan, memastikan tidak membuat Jean terbangun. Ia mengusap kepala anak itu sekali lagi.
Mavendra memperhatikan.
“Alesha.”
Alesha menoleh.
“Kamu istirahat setelah ini.”
Alesha menggeleng pelan.
“Saya tidak apa-apa.”
“Kamu kelihatan lelah.”
Alesha terdiam.
Mavendra menurunkan nada suaranya.
“Saya yang akan jaga Jean.”
Alesha mengalihkan pandangan.
“Saya, nanti saja, Tuan.”
“Tidak. Kamu butuh istirahat.”
Nada itu tidak keras, tapi jelas.
Alesha menggigit bibir. Ia tidak tahu harus menolak atau mengikuti.
Mavendra menatapnya lama, seperti memikirkan sesuatu.
“Kamu sudah cukup untuk hari ini,” ucapnya pelan.
Alesha menoleh. Mata mereka bertemu.
Hening menggantung di antara mereka.
Jean bernapas teratur. Terlelap.
Alesha menatap mungilnya Jean, lalu kembali menatap Mavendra.
“Baik, Tuan,” ucapnya pelan.
“Setelah ini saya istirahat.”
Mavendra mengangguk.
“Bagus.”
Ada sesuatu dalam cara Mavendra memandang Alesha, tenang, tapi membuat d**a Alesha tidak ikut tenang sama sekali.