Dylan menatap tajam ke arah Arlan yang masih meringis kesakitan dan memohon belas kasihan dari pria-pria yang begitu menyayangi perempuan yang telah di sia-siakan dan di lukai dengan begitu dalam. Kali ini ia merasa jika dirinya telah berada di ujung tanduk dan mungkin tidak akan pernah dapat keluar dari rumah megah itu dalam keadaan hidup. "Dyl, aku minta maaf atas kesalahanku, aku khilaf, tolong beri kesempatan kedua. Aku bersedia bekerja di caffe-mu tanpa bayaran asal kamu memberiku kesempatan kedua," kata Arlan sambil memohon. "Kesempatan untuk menghancurkanku lagi atau melukai istriku?" tanya Dylan sambil menarik kerah baju Arlan. "Tidak, aku tidak akan menyakiti kalian lagi, aku berjanji. Tolonglah Dyl kasihani teman kecilmu ini," kata Arlan sambil memohon. Mendengar perka

