Arlan masih terdiam tanpa mengatakan sepatah kata pun. Ia terlihat masih berpikir antara menceritakan semuanya atau membiarkan semua luka yang ada di dalam dirinya tersimpan dengan rapi dalam sebuah peti yang ia pendam di dasar lubuk hatinya. Atau mengatakan semuanya dan membiarkan orang lain menjamah setiap luka dan penderitaan yang ia rasakan. "Dia tidak akan biacara sebelum merasakan ini...," kata Dylan sambil melayangkan sebuah pukulan ke pipi Arlan hingga membuat pria itu kembali jatuh tersungkur. Amarah Dylan pada seseorang yang mengaku sebagai teman masa kecilnya memang tidak dapat di bendung lagi. Ia bahkan tidak ingin memberikan maafnya pada laki-laki itu. Entah kenapa ingatan bagaimana keadaan istrinya seakan bermain-main di dalam ingatannya dan membuatnya sulit mema

