"Lepasin Delima buat gue, atau kepala lo ancur gue tembak!?" Dengan sedikit kuat. Yoga menekankan ujung pistol pada keningnya Markus. "Dan gue yakin banget lo pasti udah tahu, kalau ini bukan pilihan buat gue. Karena gue gak bisa milih kalau kaya gini." "Tentuin pilihan lo?" Markus menggeleng, ia malah menguatkan kedua lengannya untuk lebih menenangkan Delima. Karena gadis itu terlihat semakin depresi dengan tubuh yang gemetar. "Gue gak pernah ngambil keputusan dua kali. Karena ucapan pertama gue. Adalah keputusan buat selamanya. Kalau menurut lo dengan nembak kepala gue bisa happy. Tembak saja." "Enggak...." Rengek Delima, ia mencoba mendorong Markuz. Gadis itu sepertinya ingin melepaskan dirinya. Ia tahu kalau Markus dalam keadaan yang tidak aman. "Enggak, Deli gak mau." Dengan a

