Aku kembali masuk ke kamar dan berbaring di atas ranjang. Nyeriku masih terasa meski sudah lumayan berkurang. Kupikir aku bisa gila jika terus seperti ini. Apa yang akan terjadi jika aku memberanikan diri untuk berhadapan dengannya? Membayangkan saja rasanya tidak kuat. Tak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku diam sebentar untuk memastikan siapa orang itu, lalu ia menyebut namaku. “Andrea, ini aku bawain teh anget,” ujar Mbak Anna dari luar. Segera aku beranjak dari ranjang dan membukakan pintu. Ia membawakanku teh hangat dengan gelas berukuran besar. Ah, dia baik sekali. “Ya ampun, Mbak. Jadi ngerepotin gini akunya,” ujarku seraya menerima minuman tersebut. “Gak ngerepotin kok. Diminum, ya! Biar perutnya enakan.” “Iya, Mbak. Makasih banyak loh.” “Iya sama-sama. Aku

