Aku pergi ke jendela dan mengintip ke arah gerbang, sudah tidak ada lagi manusia di sana. Akhirnya aku bisa bernapas lega, tapi tetap saja aku sudah kehilangan satu jam mata kuliah. Aku tahu, aku tidak boleh seperti ini terus menerus. Mereka bisa muncul kapan saja, tidak menutup kemungkinan akan lebih sering daripada ini. “Aku harus gimana? Baru bayangin aja rasanya udah gak nyaman,” gumamku sendiri. Kemudian ponselku kembali bergetar, sebuah pesan masuk yang dikirimkan oleh Aro. ‘Kamu sekarang di kos?’ Dari pertanyaannya sedikit mencurigakan. ‘Iya, kenapa?’ ‘Gak apa-apa. Aku lagi otw ke sana.’ Sudah kuduga, sejak awal dia memang penuh kejutan. Hanya saja aku masih belum terbiasa dengan hal itu. Beruntung aku sudah mandi dan bersiap, tinggal menunggu kedatangannya saja. Tidak membut

