Sejak kejadian hari itu, aku selalu mengintip lewat celah jendela sebelum membuka pintu utama. Menyebalkan sekali karena harus merasa tidak aman di tempat tinggal sendiri. Tetapi jika dipikir ulang, untuk apa aku takut? Semua itu sudah berlalu dan kini aku memiliki Aro, apa lagi yang kukhawatirkan? Sekarang aku sedang dalam perjalanan menuju kampus. Banyak yang mahasiswa lain yang ke kampus melewati jalanan ini dengan berjalan kaki. Selain itu, banyak juga penjual makanan di sini. Sehingga di jam-jam tertentu akan penuh dengan mahasiswa yang berkumpul sekaligus untuk mengisi perut mereka. “Hai, Re! Kok tumben banget lewat sini, abis dari mana?” tanya Bryan—teman kelasku yang paling berisik. “Aku udah lumayan lama kok pindah deket sini,” jawabku sembari terus berjalan. “Masa iya? Kok ak

