Kembali ke kontrakannya. Arlin mendapat sambutan Indah dan mawar. Sesaat saja sebelum keduanya mengeluarkan unek-unek mereka yang telah lama terpendam. "Lama banget sih lo," gerutu Indah. "Gak kasihan apa gue beberapa hari ini makan nasi padang melulu?" "Enak begitu. Kenapa harus gue kasihani." "Iya enak, tapi uang gue menipis." Indah merebahkan diri pada sofa. Wajah kusutnya sudah cukup memberitahu Alrin bahwa dia tengah dalam masalah. Anehnya, wajah mawar juga begitu. Kusut seperti benang yang terendam air. "Kalian berdua kenapa?" "Bos gue tuh sialan," dumel Mawar. "Masa tiba-tiba mengajak gue ke kantor catatan sipil untuk menikah. Mana gak boleh menolak pula. k*****t emang." Arlin melotot. "Iya," sambut Mawar mengerti. "Gue udah menikah sekarang." "Tapi kalian kan.." "Itu ma

