Arlin mendudukkan diri tak jauh dari posisi mamanya yang tengah mencabuti rumput. "Ma," panggilnya pelan. "Ada apa?" Arlin tidak langsung membalas. Menimbang apa perlu dia bertanya atau mencarinya sendiri saja. "Aku akhir-akhir ini kembali suka membaca novel." Dia menyerah. Memilih bertanya secara implisit agar tidak kentara. "Ada sebuah novel yang paling menarik perhatian aku." "Apa itu?" Viena sendiri tidak menaruh curiga. Sejak dulu Arlin memang menyukai buku, baik fiksi maupun non fiksi. Hanya saja semenjak SMA Arlin lebih dominan pada non fiksi. "Diceritakan di dalamnya seorang duda dan perempuan muda. Anehnya bukan pria itu yang menjadi tokoh utama bagi perempuannya, melainkan ketiga anaknya." "Cerita yang tidak biasa sekali. Dimana-mana tokoh perempuan harusnya memberi aten

