Geo menuruni anak tangga. Mempercepat langkah begitu sampai di lantai dasar. Tidak sabar menyaksikan wajah ceria adiknya. Baginya itu seperti semangat untuk memulai hari. Itu sebabnya dia rela menunda kepulangan. Ingin menikmati banyak semangat. Ruang makan tidak terpisah dengan dapur. Ketika dia masuk maka terlihat jelas olehnya sang papa yang tengah membaca koran di meja makan. Di sebelahnya, tepat di pantry sang mama pula tengah menggoreng telur. Kerutan halus secara otomatis menghiasi dahinya. Dia masih tidak bertanya, meneliti jendela di belakang wastafel yang menampilkan padang bunga indah. Dulu setiap pagi adiknya akan ada di sana untuk mengamati kupu-kupu atau sekedar mengambil gambar. Kini yang dia lihat hanya padang bunga aneka warna saja. Tidak ada Arlin sama sekali. "Di mana

