Indah menyeret boneka beruangnya masuk ke dalam kamar Arlin. Niatnya ingin curhat akan emosinya yang tidak dapat terkendali sebab fase menstruasinya. Tapi niat tersebut mendadak buram kala matanya mendapati Arlin tengah mematutkan pakaian di depan cermin. "Mau kemana lo?" "Nonton." "Sama siapa?" Seingatnya Arlin tidak punya banyak teman pria. Memang, banyak pria yang mengajukan diri menjadi teman Arlin. Tentu dengan niat terselubung agar bisa berpacaran. Sayang Arlin menolak, menyisakan sedikit saja yang benar-benar mampu menjadi temannya. Semenjak lulus, teman-teman pria Arlin pun berpencar ke seluruh penjuru. Sean menjadi satu-satunya yang tersisa. "Sean?" tebak Indah. "Iya." Arlin memakai dressnya. Menambahkan aksesori berupa jam dan kalung. Lalu seperti perintah Sean, dia tida

