Perjodohan

954 Kata

Langkah Arista terdengar berat saat ia kembali ke lantai atas, menuju meja kerjanya yang berada tepat di depan ruangan Arkana. Hatinya masih panas, wajahnya masih kesal, dan pikirannya dipenuhi sumpah serapah yang ia tahan agar tidak meledak di kantor. Begitu sampai, pandangannya langsung tertuju pada pintu ruangan Arkana yang tertutup rapat. Ia mendengus pelan. “Dasar bos nyebelin! Kalau buka karna buruh uang buat biayain kuliah Rafa, ogah aku kerja sama dia,” gumamnya sinis sambil menatap pintu itu lama, seolah pintu tersebut bisa mendengar umpatan hatinya. Arista lalu menjatuhkan diri di kursinya. Ia menatap layar komputer yang masih menampilkan laporan proyek yang belum sempat ia periksa. Tapi pikirannya berkelana, bukan pada laporan di depannya, melainkan pada wajah Arkana yang tad

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN