Beberapa jam telah berlalu sejak sore yang menyesakkan itu. Langit di luar jendela kamar Arista mulai berwarna lembayung tua, tanda malam hampir turun sempurna. Namun, di dalam kamarnya, suasana masih sama: hening, pengap, dan penuh pikiran yang tak menemukan jalan keluar. Arista masih dalam posisi yang sama, tidur di atas tempat tidur dengan tatapan kosong ke langit-langit. Sesekali, napasnya terdengar berat, dan jemarinya saling meremas. Di meja rias, ponselnya tergeletak diam, layar hitamnya tidak tersentuh sejak siang. Ia bahkan tidak sadar berapa lama ia sudah tidur di sana. Waktu seakan berhenti, hanya menyisakan denyut lembut di pelipisnya dan bayangan wajah Arkana yang terus menghantui pikirannya. “Kenapa semuanya jadi serumit ini ....” bisik Arista parau. Ia menggigit bibir, m

