Pagi itu, langit Jakarta tampak lembut, dihiasi awan putih yang bergerak malas di antara cahaya matahari yang mulai naik. Udara masih terasa sejuk, membuat Arista sedikit lebih lama berdiri di depan jendela kamarnya, membiarkan semilir angin masuk dari celah tirai. Ia baru saja menyelesaikan sarapannya, rambutnya tergerai rapi menutupi bahu, kemeja putih yang ia kenakan tampak kontras dengan kulitnya yang pucat lembut. Hari ini, ia berusaha menata hatinya agar lebih tenang dari semalam. Makan malam bersama keluarga Davin memang meninggalkan rasa sesak di dadanya, tapi ia tidak mau larut dalam kesedihan itu. Ia ingin berusaha tetap profesional, tetap bekerja dengan baik di Dirgantara Skyline, sekalipun itu berarti ia harus berhadapan lagi dengan Arkana. “Sudahlah, Ris,” gumamnya pelan sam

