Langkah-langkah Arista terdengar pelan tapi pasti di lantai marmer lobi Dirgantara Skyline. Tumit sepatunya beradu lembut dengan lantai, sementara senyum tipis menghiasi wajahnya. Hari ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa ringan. Sinar matahari menembus dinding kaca tinggi di lobi, memantul di rambut hitamnya yang berkilau rapi. Ia menyapa satpam dengan senyum lembut, lalu menunduk sopan pada resepsionis yang sedang sibuk menerima telepon. “Pagi, Mas Dito,” sapanya cerah. “Pagi, Bu Arista!” balas sang resepsionis dengan semangat. “Wah, sepertinya lagi happy banget, ya hari ini.” Arista tersenyum kecil sambil menunduk malu. “Kelihatan banget, ya?” tanyanya, membuat pegawai itu terkekeh kecil. “Kelihatan banget, Bu. Mukanya berseri-seri.” Arista tertawa pelan, lalu

